Comscore Tracker

Mudik Lewat Jalur Selatan, Ini 5 Hal Tentang Tasikmalaya

Mulai dari titik rawan sampai tempat istirahat

Tasikmalaya, IDN Times - Meski jalan tol trans Jawa telah membentang dari Merak hingga Surabaya, namun tak semua pemudik akan menggunakan jalan tersebut. Sebab banyak pula pemudik yang memilih jalur selatan.

Mereka biasanya para pemudik yang kampung halamannya berada di jalur selatan, seperti Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Cilacap. Namun banyak juga pemudik dengan tujuan Yogyakarta memilih lewat jalur selatan.

Berbeda dengan jalur trans Jawa yang cenderung lurus terus, jalur selatan justru naik turun dan berkelok-kelok. Nah, salah satu daerah yang akan kamu lewati jika mudik lewat jalur selatan adalah Tasikmalaya. Daerah yang dijuluki Delhi van Java ini beberapa keunikan, lho.

Berikut IDN Times ulas berbagai keperluan pemudik selama melintasi Kabupaten Tasikmalaya:

1. Tiga titik rawan kecelakaan di Gentong

Mudik Lewat Jalur Selatan, Ini 5 Hal Tentang TasikmalayaIDN Times/Galih Persiana

Setelah menuntaskan jalur Kabupaten Garut yang berliuk-liuk, pemudik akan memasuki daerah Kadipaten, atau yang lebih sering disebut Gentong. Ketika menginjak kawasan tersebut, otomatis pengendara telah memasuki wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Perlu diwaspadai, ketika memasuki jalur ini, pengendara yang belum terbiasa akan dikagetkan dengan turunan tajam dan berbelok, area yang kerap mewarnai pemberitaan massa selama arus mudik. Turunan, yang ketika arus balik menjadi tanjakan itu, kerap dinamai sebagai Tanjakan Stroberi.

Setelah selesai melintasi jalur terjal gentong, pengemudi akan menemui jalur tengkorak yang sering disebut jalan leter U. Seperti namanya, jalan tersebut memang berbentuk huruf U.

Bahayanya, di setiap tikungan leter U, jalan yang mulanya bisa menampung empat mobil akan menyempit menjadi dua mobil saja. Kalau tidak hati-hati, jalur tersebut akan sangat berbahaya terutama bagi kendaraan besar seperti bus yang memerlukan ruang ketika menikung.

IDN Times mencoba mewawancarai salah satu pengguna jalan yang tengah beristirahat di Kabupaten Tasikmalaya. Ialah Zaenal, 37 tahun, warga asal Kota Bandung yang hendak menuju Kota Banjar. Menurut dia, letter U merupakan salah satu jalur tersulit di selatan Jawa Barat.

“Tikungannya tajam dan patah. Kalau tidak biasa melintasi jalur ini, terutama kalau malam hari, sepertinya akan sangat berbahaya,” ujar dia yang mengaku sering melewati jalur tersebut, Rabu (22/5).

Titik rawan kecelakaan terakhir adalah persimpangan Pamoyanan, titik di mana pengendara harus menengok kanan-kiri sebelum melintas. Menurut Kepala Polisi Sektor Kadipaten, Ajun Komisaris Erustiana, persimpangan tersebut menjadi berbahaya karena pengemudi tak waspada. “Pengemudi seringkali tancap gas karena jalan lurus. Di pesimpangan itu orang suka enggak sabar,” ujarnya

Kepala Polisi Sektor Kadipaten (Gentong), Ajun Komisaris Erustiana, kepada IDN Times mengatakan bahwa pengemudin harus ekstra waspada ketika memasuki turunan itu. “Jalur Gentong ini, sepertinya nasional sudah tahu, kalau ada jalan terjal, ada tanjakan berturut-turut, baik di gentong bawah mau pun atas. Ada juga belokan tajam selama jalan terjal itu,” kata dia, ketika ditemui di kantornya, Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (22/5).

Baca Juga: Waspada, Kelelahan Jadi Faktor Utama Penyebab Kecelakaan Saat Mudik

2. Jalan raya cenderung mulus

Mudik Lewat Jalur Selatan, Ini 5 Hal Tentang TasikmalayaIDN Times/Galih Persiana

Erustiana mengatakan, sekitar tiga pekan lalu ia dan petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) baru saja membenahi jalan di sepanjang jalur Gentong. Aspal yang awalnya rusak, kini sudah mulus. Marka jalan yang sempat memudar, kini berwarna kuning terang.

Tak hanya itu beberapa bulan lalu, terdapat dua ruas jalan di wilayah Gentong yang mengalami longsor. Walhasil, jalan terpotong separuh dan membahayakan pengemudi. Namun, ketika IDN Times melintas, kedua daerah longsor tersebut kini sudah diperbaiki sehingga pengemudi tidak lagi perlu khawatir.

3. Memasuki Ciawi, titik macet karena pasar

Mudik Lewat Jalur Selatan, Ini 5 Hal Tentang TasikmalayaIDN Times/Galih Persiana

Setelah menuntaskan Gentong, pemudik akan memasuki Jalan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya. Di kawasan ini, perjalanan cenderung tak sesulit jalur Gentong. Meski demikian, di sana terdapat beberapa titik kemacetan yang disebabkan oleh pasar tradisional.

Salah satunya ialah Pasar Tradisional Ciawi. Menurut perhitungan IDN Times pada Rabu (22/5) sekitar pukul 13.00, pengemudi harus mengorbankan waktu sekitar 5 menit karena kemaceratan di sekitar Pasar Ciawi.

4. Istirahat di Masjid Itje

Mudik Lewat Jalur Selatan, Ini 5 Hal Tentang TasikmalayaIDN Times/Galih Persiana

Jika pengemudi sudah lelah karena Jalur Gentong yang menguras konsentrasi juga kemacetan Ciawi yang menguras tenaga, tak ada salahnya beristirahat di sebuah masjid fenomenal yang dapat ditemui setelah melintasi Ciawi. Ialah Masjid Baitul Amanah, atau yang sering dipanggil Masjid Itje atau Masjid Duh Engkang.

Masjid tersebut terkenal karena dibangun di medio 1990-an sesuai nazar pedangdut, Itje Trisnawati atas izin suaminya, Eddy Sud. Nazarnya tak lain jika penjualan album “Duh Engkang” laris di pasaran, maka pasangan tersebut bernazar membangun sebuah masjid raksasa. Benar saja, album Duh Engkang laris di pasaran sehingga Masjid Baitul Amanah menjadi saksi kesuksesan Itje Trisnawati.

Ketika IDN Times mengunjungi lokasi tersebut pada Rabu (22/5), Masjid Itje sepi pengunjung. Menurut petugas keamanan sekitar, perbaikan masjid, salah satunya yaitu pengecatan tembok masjid yang tengah dikerjakan saat ini, membuat pengemudi berpikir dua kali untuk beribadah di sana.

“Tapi nanti selama puncak arus mudik, masjid ini bisa digunakan kembali seperti biasa, kok,” tuturnya.

5. Rumah Makan SR, tempat di mana harus beristirahat

Mudik Lewat Jalur Selatan, Ini 5 Hal Tentang TasikmalayaIDN Times/Galih Persiana

Seandainya selain ibadah shalat pengemudi hendak makan dan beristirahat, ada baiknya beristirahat di daerah Rajapolah, Kabupaten Tasik. Di sana, terdapat satu rumah makan kenamaan yang identik dengan jalur mudik, yakni Rumah Makan SR.

IDN Times mengunjungi Rumah Makan SR sekitar pukul 14.00 di bulan puasa, sehingga tak dapat mereportase apa saja makanan yang dapat disantap di sana. Namun, kata Manajer Operasional Rumah Makan SR, Roy Sandi, ketika waktunya berbuka mereka bisa kedatangan ratusan pengunjung.

“Untung saja kami memiliki area yang luas, bisa menampung seribu pengunjung,” tutur Roy.

Baca Juga: Jalur Leter U, Titik Maut di Tasikmalaya yang Perlu Diwaspadai Pemudik

Topic:

  • Dwi Agustiar

Just For You