Comscore Tracker

Inovasikan Kopi Gayo, Millennial Ini Pertahankan Bisnis saat Pandemik

Dukung pemasaran dan stabilkan harga kopi gayo lokal

Jakarta, IDN Times - Kebimbangan Annisa Fauziah pasca kuliah menuntun langkahnya untuk mengembangkan kebun kopi kecil milik orang tuanya. Bermodalkan sedikit pengetahuan tentang pengolahan kopi, tekad Annisa untuk memulai bisnis kopi pun semakin bulat. Inilah yang menjadi cikal bakal brand kopi Annisa yang kemudian ia namai Kopi Citra Meulawi Puncak Gayo. 

Namun, seperti bisnis lain, munculnya pandemik di Tanah Air yang berujung dengan penetapan kebijakan PSBB juga sangat memengaruhi usaha rintisan Annisa. Berbagai upaya ia lakukan untuk tetap mempertahankan eksistensi Kopi Citra Meulawi Puncak Gayo yang telah ia tekuni semenjak 2018 lalu.

1. Memutuskan untuk mengelola kebun kopi milik ibu

Inovasikan Kopi Gayo, Millennial Ini Pertahankan Bisnis saat PandemikDok. Kopi Citra Meulawi Puncak Gayo

Setelah rampung mengirim berkas lamarannya ke berbagai kantor, Annisa mulai mempertimbangkan hal lain yang dapat ia lakukan sembari menunggu panggilan. Setelah merefleksikan segala kemungkinan, ia merasa bahwa saat itu merupakan momen yang tepat untuk mengelola kebun kopi milik ibunya.

“Kebetulan ibu saya orang Gayo asli dan punya kebun kopi kecil. Saya juga memiliki ilmu untuk mengolah kopi, jadi saya memutuskan untuk mencoba mengolah kebun kopi tersebut dan membangun brand kopi saya sendiri,” ujar Annisa mengawali perbincangannya dengan IDN Times. 

Proses pengolahan yang ketat dan komposisi bahan yang murni membuat Kopi Citra Meulawi Puncak Gayo memiliki cita rasa khas. Hal inilah yang membuat Annisa percaya diri untuk meneruskan bisnis tersebut. “Kopi gayo ini juga memiliki standar kualitas yang berbeda-beda. Tinggi rendahnya kualitas kopi gayo ditentukan oleh proses pengolahan biji kopinya. Bila tak dicampur dengan jenis kopi lain, kualitas rasanya akan semakin baik juga,” katanya.

2. Turut mensejahterakan petani kopi lokal

Inovasikan Kopi Gayo, Millennial Ini Pertahankan Bisnis saat PandemikDok. Kopi Citra Meulawi Puncak Gayo

Kebun kopi milik ibunya yang tak seberapa luas tentu tak dapat terus menunjang bisnis kopi Annisa yang semakin berkembang. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk membangun kerjasama dengan para petani kopi lokal lainnya. Merasa dibantu, inisiatif Annisa disambut baik oleh para petani kopi lokal. “Selain menyokong pemasaran kopi gayo lokal, hal tersebut juga dapat memengaruhi kestabilan harga jual kopi gayo,” ia menyebutkan.

“Harga jual kopi gayo di pasaran sangat berbeda dari harga jual yang ditetapkan oleh para petani kopi lokal. Hal ini dikarenakan adanya sistem kulak, bahkan para pengkulak bisa menaikkan harga 100% dari harga aslinya. Ini menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap kopi gayo sebenarnya tinggi, tapi sayangnya hal tersebut belum sepenuhnya bisa menjamin kesejahteraan para petani lokal," lanjutnya.

3. Mencoba berbagai produk baru dan platform digital selama masa pandemik

Inovasikan Kopi Gayo, Millennial Ini Pertahankan Bisnis saat PandemikDok. Kopi Citra Meulawi Puncak Gayo

Kebijakan PSBB yang dicanangkan oleh pemerintah guna menekan angka penyebaran COVID-19 berpengaruh pada penurunan omzet bisnis Annisa. Bila semula jumlah omzetnya berada pada angka 40 juta, ia sempat harus menelan kerugian sebesar 70%. Hal ini disebabkan oleh menurunnya permintaan di pasar. 

“Para pekerja pabrik, mahasiswa, dan wisatawan yang datang ke kota Lhokseumawe merupakan konsumen terstrategis kami. Nah, ketika pandemik tiba di Indonesia, para pekerja pabrik yang berasal dari berbagai daerah ini kembali ke daerahnya masing-masing, banyak pula mahasiswa yang sudah pulang karena kebijakan belajar dari rumah, wisatawan juga tentu enggan bepergian ke luar daerah. Akhirnya, permintaan pun menurun,” ungkap Annisa.

Melewati berbagai tantangan, dirinya memutuskan untuk terus berinovasi: menjadikan kopinya produk siap minum dan mengolahnya menjadi masker dan scrub tubuh. “Untuk terus bertahan, saya mencari pinjaman dan menjual kue lebaran. Hasil berjualan saya gunakan untuk mencoba ciptakan produk lain, meski tentu pendapatan dari produk-produk baru ini belum seberapa,” ceritanya.

“Pada suatu momen, saya menyadari bahwa mayoritas konsumen saya adalah laki-laki. Berhubung saya sering menggunakan bubuk kopi untuk masker dan luluran, akhirnya muncullah ide untuk membuat masker kopi yang terbuat dari 100% kopi asli tanpa bahan kimia. Dengan begini, kopi tak hanya dicintai oleh laki-laki, tapi juga oleh para perempuan,” ia mengimbuhkan.

Seiring dengan itu, Annisa juga berpartisipasi dengan gerakan Bangga Buatan Indonesia yang diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). Ingin mencoba memperluas pasarnya menggunakan platform digital, dirinya mengakui bahwa berjualan secara online memang sungguh-sungguh menolongnya di kala pandemik. “Sangat berpengaruh, ya. Jual-beli secara online tidak perlu bertemu secara langsung, jadi lebih digemari konsumen karena mereka pun merasa lebih aman.”

4. Dari kebun kopi hingga Istana Negara

Inovasikan Kopi Gayo, Millennial Ini Pertahankan Bisnis saat PandemikSekretariat Negara

Melalui perjuangan yang panjang, usaha Kopi Citra Meulawi Puncak Gayo yang dikelola Annisa akhirnya berhasil menjadi salah satu produk khas daerah yang diundang ke Istana Negara bersama smesco, sebuah brand dari Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP-KUKM) Kementerian Koperasi dan UKM RI. Bagi Annisa, hal ini menjadi sebuah pembuktian telak: produk lokal, bila dikelola dengan ketekunan, pasti mampu menciptakan nilai jual yang lebih tinggi.

“Awalnya, saya tidak menyangka bahwa bisnis kopi gayo ini bisa membawa saya sampai ke Istana Negara. Ternyata, bila menanam sesuatu yang baik, kita pasti akan menuai sesuatu yang baik pula. Itu betul saya alami. Intinya, sumber daya alam Indonesia itu sangat mengagumkan. Bila diolah dengan baik, produk tersebut pasti memiliki daya saing yang tinggi di pasaran. Jadi, jangan takut untuk mencoba karena dengan mengembangkan produk Indonesia, kita juga turut mensejahterakan masyarakat kecil,” lanjutnya memberi kesimpulan.

Topic:

  • Amelia Rosary

Berita Terkini Lainnya