Comscore Tracker

Taliban Pede Krisis Ekonomi Afghanistan Mereda usai Kabinet Baru Lahir

Mata uang jatuh hingga ke titik terendah

Jakarta, IDN Times - Taliban akan segera membentuk kabinet pemerintahan baru dalam satu atau dua pekan ke depan. Juru bicara utama Zabihullah Mujahid mengatakan Taliban yakin krisis ekonomi yang kian parah lebih dari sepekan terakhir ini dapat mereda setelah pemerintahan baru terbentuk.

"Kejatuhan Afghani terhadap mata uang asing bersifat sementara dan itu karena situasi yang tiba-tiba berubah. Mata uang Afghani akan kembali normal begitu sistem pemerintahan mulai berfungsi," kata dia, Sabtu (28/8/2021) kepada Reuters yang dilansir kantor berita ANTARA.

Baca Juga: Taliban Segera Bentuk Pemerintahan, Dewan Syura Diprediksi Isi Kabinet

1. Mata uang Afghani anjlok, krisis kian parah

Taliban Pede Krisis Ekonomi Afghanistan Mereda usai Kabinet Baru LahirPemimpin politik Taliban Mullah Baradar bertemu Emir Qatar (twitter.com/@Natsecjeff)

Ekonomi Afghanistan yang sudah hancur setelah empat dekade perang, kini semakin buruk. Sejak Taliban mengambil alih Kabul, nilai mata uang Afghani terus berada dalam tren pelemahan bahkan sempat menyentuh rekor ttitik terendahnya. Hal itu menyebabkan krisis ekonomi parah melanda negara itu.

Harga pangan melambung dan bank-bank masih tutup meski Taliban sudah meminta para pegawai negeri dan kantor-kantor pelayanan publik bekerja kembali. Taliban telah memerintahkan bank untuk buka kembali, dengan batas penarikan mingguan sebesar 20 ribu Afghani. 

2. Bantuan dana asing disetop

Taliban Pede Krisis Ekonomi Afghanistan Mereda usai Kabinet Baru LahirIlustrasi bank dunia (ANTARA FOTO)

Berbagai bantuan dari negara asing terhenti sejak Taliban menguasai Afghanistan. Seiring tutupnya kantor-kantor perwakilan diplotimatik berbagai negara dari Kabul, akses kerja sama dan bantuan ekonomi pun terganjal.

Uni Eropa menjadi organisasi pertama yang menghentikan kucuran dana bantuan untuk Afghanistan. Negara Eropa yang mengawali penangguhan pendanaan adalah Jerman dan Finlandia. Kedua negara ini mengumumkan pada Selasa (17/8/2021) bahwa mereka menghentikan bantuan pembangunan untuk sementara waktu.

Di hari yang sama, kepala urusan luar negeri UE mengkonfirmasi langkah yang lebih luas untuk menghentikan pendanaan.

Bank Dunia pun kemudian mengambil langkah yang sama. Bank Dunia menyatakan akan terus memantau kondisi terkini di Afghanistan dan melakukan penilaian dengan cermat. "Kami akan terus berkonsultasi dengan komunitas internasional dan mitra pembangunan," tulis mereka pada Rabu (25/8/2021)

Baca Juga: Disambut Taliban, Tiongkok Leluasa Urus Proyek Pembangunan Afghanistan

3. Masa depan ekonomi Afghanistan

Taliban Pede Krisis Ekonomi Afghanistan Mereda usai Kabinet Baru LahirAfghanistan. (Pixabay.com/ArmyAmber)

Mata uang Afghanistan akan tergantung pada arah ekonomi, kebijakan moneter dan kebijakan fiskal masa depan. “Satu hal yang jelas bahwa dengan rezim yang menguntungkan di Afghanistan, Pakistan akan diuntungkan secara ekonomi dan diplomatik,” ujar Samiullah Tariq, kepala penelitian di Kuwait Investment Company Pvt.

Sementara Piotr Matys, analis senior FX di InTouch Capital Markets Ltd mengatakan aset Afghanistan dapat terbukti menarik bagi investor asing oportunistik yang mungkin berasumsi bahwa Afghanistan berpotensi menjadi negara yang jauh lebih stabil di masa depan.

Selain itu, Afghanistan juga dapat mengambil manfaat dari Tiongkok yang menyatakan minatnya untuk membangun negara itu kembali dan berpotensi memasukkannya ke dalam inisiatif One Belt, One Road (OBOR).

“Demokrasi seringkali tidak menjadi prioritas utama bagi investor internasional yang menghargai stabilitas dan prediktabilitas dalam politik, bahkan jika disediakan oleh rezim otoriter,” terangnya.

Baca Juga: Daftar Kekayaan Mineral Afghanistan yang Kini di Tangan Taliban

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya