Comscore Tracker

Di Tengah Pandemi COVID-19, BI Pede Rupiah Menguat ke Rp15.000

Simak penjelasannya!

Jakarta, IDN Times - Pemerintah pada Rabu (1/4) lalu, telah mengeluarkan skenario terburuk kondisi perekonomian Indonesia di tengah pandemi virus corona baru atau COVID-19. Salah satu yang menjadi sorotan utama yakni nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Dalam kondisi berat skenario nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi Rp17.500, sementara skenario sangat berat bisa mencapai Rp20.000.

Menanggapi hal itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan perhitungan tersebut bukan sebuah proyeksi. Bahkan, dia optimistis nilai tukar rupiah akan menguat hingga akhir 2020.

"Kami yakin nilai tukar tidak hanya stabil tapi juga menguat Rp15 ribu akhir tahun ini. Masih under value," katanya melalui video conference, Kamis (2/4).

1. Investor diklaim masi optimistis pada pasar keuangan Indonesia

Di Tengah Pandemi COVID-19, BI Pede Rupiah Menguat ke Rp15.000Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (Youtube/Bank Indonesia)

Perry menjelaskan, optimistisnya tersebut terbangun karena masih ada kepercayaan dari investor di pasar keuangan. "Komunikasi dengan investor global menunjukkan confidence mereka kuat dan prospek indonesia cukup baik ke depannya," kata dia.

Apalagi, menurut dia, pihaknya dan pemerintah terus bekerja sama dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurutnya, skenario sangat berat memang harus dibuat lantaran pemerintah menambah anggaran yang dapat melebarkan defisit fiskal lebih dari 3 persen. Dengan mengetahui skenario terburuk itu, pemerintah dapat melakukan upaya agar hal-hal tersebut tidak terjadi.

Baca Juga: Sri Mulyani: Skenario Terburuk, Nilai Tukar Bisa Tembus Rp20.000 

2. Pemerintah berkomitmen agar pertumbuhan ekonomi tidak lebih rendah dari 2,3 persen

Di Tengah Pandemi COVID-19, BI Pede Rupiah Menguat ke Rp15.000Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (Youtube/Bank Indonesia)

Selanjutnya, dia juga menjelaskan pemerintah akan berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak lebih rendah dari 2,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Seperti skenario yang sebelumnya disampaikan Sri Mulyani, pada kondisi buruk diprediksi 2,3 persen dan sangat buruk minus 0,4 persen.

"Kita dengan berbagai policy yang insya Allah dilakukan baik, pertumbuhan ekonomi kita upayakan akan tidak lebih rendah dari 2,3 persen PDB, dengan langkah stimulus fiskal dan stabilitas di sektor keuangan dan nilai tukar rupiah," ujarnya.

3. Nilai tukar rupiah teradap dolar berada di Rp16.500 pada Kamis (2/4) pagi

Di Tengah Pandemi COVID-19, BI Pede Rupiah Menguat ke Rp15.000Ilustrasi rupiah (IDN Times/Hana Adi Perdana)

Sebagai informasi, pada pembukaan perdagangan Kamis (2/4), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,36 persen atau berada di level Rp16.500 pada perdagangan pasar spot.

Rupiah melemah lantaran dolar bertenaga dipicu sentimen The Fed yang mengambil langkah lanjutan untuk menambah likuiditas dolar AS di pasar keuangan. Pada Selasa malam, The Fed memperluas kemampuan lusinan bank sentral asing untuk mengakses dolar selama krisis terkait wabah virus corona atau COVID-19.

Pembaca bisa membantu kelengkapan perlindungan bagi para tenaga medis dengan donasi di program #KitaIDN : Bergandeng Tangan Melawan Corona di Kitabisa.com

Baca Juga: Gubernur BI Pastikan Jaga Rupiah Agar Tidak Terjun Bebas ke Rp20 Ribu

Topic:

  • Auriga Agustina
  • Anata Siregar
  • Septi Riyani

Berita Terkini Lainnya