Comscore Tracker

Sejarah Hari Listrik Nasional, Merebut Jawatan dari Tangan Jepang

Hari Listrik Nasional ke-75

Jakarta, IDN Times - Hari ini, Selasa (27/10/2020), Indonesia memperingati Hari Listrik Nasional ke-75 tahun. Bagaimana 27 Oktober bisa menjadi tanggal penting sebagai penanda hari listrik bagi Indonesia?

Tanggal ini dipilih karena sebuah aturan penetapan pemerintah pascakemerdekaan Republik Indonesia. Penetapan Pemerintah No 1 tanggal 27 Oktober 1945 mengatur tentang pembentukan Jawatan Listrik dan Gas pertama RI.

Semula, perusahaan listrik dan gas itu dikuasai penjajah Jepang. Setelah direbut oleh para pemuda dan buruh listrik, perusahaan-perusahaan tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah.

Tanggal 27 Oktober kemudian diperingati sebagai Hari Listrik Nasional yang tidak hanya milik PLN, namun milik seluruh pemangku kelistrikan dan seluruh masyarakat Indonesia.

1. Listrik di Indonesia awalnya dikuasai Jepang

Sejarah Hari Listrik Nasional, Merebut Jawatan dari Tangan JepangIlustrasi PLN Gas Insulated Substation Tegangan Ekstra Tinggi (GISTET) Kembangan, Jakbar (IDN Times/Axel Joshua Harianja)

Mengutip situs resmi Kementerian ESDM, sejarah kelistrikan Indonesia sebenarnya telah dimulai pada akhir abad ke-19. Pada saat itu, beberapa perusahaan Belanda--antara lain pabrik gula dan pabrik teh--mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Kelistrikan untuk umum mulai ada pada saat perusahaan swasta Belanda yaitu N V Nign, yang semula bergerak di bidang gas, memperluas usahanya di bidang penyediaan listrik untuk umum.

Pada 1927, pemerintah Belanda membentuk s'Lands Waterkracht Bedriven (LWB), yaitu perusahaan listrik negara yang mengelola sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA). PLTA yang dikelola yakni PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea lama di Sulawesi Utara dan PLTU di Jakarta. Selain itu di beberapa Kotapraja, dibentuk perusahaan-perusahaan listrik Kotapraja.

Setelah Belanda menyerah kepada Jepang dalam Perang Dunia II, maka Indonesia dikuasai Jepang. Perusahaan listrik dan gas juga diambil alih oleh Jepang, dan semua personel dalam perusahaan listrik tersebut diambil alih oleh orang-orang Jepang.

Baca Juga: PLN Turunkan Tarif Listrik Golongan Rendah Mulai Oktober

2. Pada 17 Agustus 1945 pemuda buruh listrik dan gas mengambil alih perusahaan listrik dan gas yang dikuasai Jepang

Sejarah Hari Listrik Nasional, Merebut Jawatan dari Tangan JepangIlustrasi tegangan listrik (IDN Times/Axel Joshua Harianja)

Dengan jatuhnya Jepang ke tangan sekutu, dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemuda buruh listrik dan gas memanfaatkan untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang dikuasai Jepang.

Setelah berhasil merebut perusahaan listrik dan gas dari tangan Jepang, pada September 1945, suatu delegasi dari buruh atau pegawai listrik dan gas menghadap pimpinan KNI Pusat yang pada waktu itu diketuai oleh M Kasman Singodimedjo untuk melaporkan hasil perjuangan mereka.

Selanjutnya, delegasi bersama-sama dengan pimpinan KNI Pusat menghadap Presiden Soekarno, untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan listrik dan gas kepada pemerintah Republik Indonesia. Penyerahan tersebut diterima oleh Presiden Soekarno, dan kemudian dengan Penetapan Pemerintah No 1 tahun 1945 27 Oktober 1945, dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga.

3. Konsumsi listrik Indonesia saat ini

Sejarah Hari Listrik Nasional, Merebut Jawatan dari Tangan JepangIlustrasi PLN (Listrik) (IDN Times/Arief Rahmat)

Dalam perkembangannya, kini jawatan itu menjelma menjadi BUMN yang mengurusi pengaliran listrik ke seluruh negeri yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN). Setelah mengalami kerugian bisnis pada tahun-tahun lampau, kini PLN mencoba terus memperbarui diri.

Di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah di tengah pandemik ini, konsumsi listrik masyarakat pun melonjak. Sebab, sebagian besar waktu mereka dihabiskan di rumah. Pada Juli 2020 lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa terjadi peningkatan konsumsi listrik sebesar 5,4 persen pada Juni lalu. Pada hal pada Mei 2020, konsumsi listrik justru -10,7 persen.

"Konsumsi listrik terlihat indikator ada turn around (balik arah) di ekonomi kita," ujarnya dalam video conference APBN Kita, Senin (20/7/2020).

Adapun rincian konsumsi listrik untuk kebutuhan sosial tumbuh 3,7 persen, konsumsi listrik rumah tangga naik 12,7 persen, dan konsumsi listrik untuk industri naik 31,7 persen. Peningkatan konsumsi di sektor industri dipicu adanya peningkatan produksi barang/jasa. Namun demikian, konsumsi listrik untuk keperluan bisnis masih minus 10,5 persen.

"Listrik industri dari negatif sudah naik. Untuk sosial, sudah pada kondisi positif. Jadi secara total, konsumsi listrik yang tadinya minus sekarang sudah di zona positif 5,4 persen," jelas Sri Mulyani.

Sempat mucul masalah di tengah masa ini menyangkut tagihan listrik masyarakat yang melonjak. Berbagai keluhan soal lonjakan tagihan listrik yang angkanya fantastis ini kemudian membuat Dirut PLN diminta memberikan penjelasan kepada anggota DPR.

Direktur Utama PT PLN Zulkifli Zaini mengatakan tarif listrik sejatinya tidak ada perubahan atau kenaikan sejak Januari 2017. Lonjakan iuran yang dibayarkan masyarakat, menurutnya, terjadi lantaran hitungannya berasal dari dua komponen di mana tarif listrik dikalikan dengan penggunaan listrik.

Baca Juga: Seperti Apa Pemeliharaan Transmisi Listrik Inalum? Ini Potretnya

4. Pemerintah memberikan subsidi listrik untuk masyarakat

Sejarah Hari Listrik Nasional, Merebut Jawatan dari Tangan Jepangilustrasi listrik (IDN Times/Wayan Antara)

Menyadari kebutuhan listrik masyarakat, apalagi di tengah keterpurukan ekonomi di tengah pandemik COVID-19, pemerintah memberikan subsidi listrik bagi masyarakat. Subsidi ini sudah mengalami beberapa kali perpanjangan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan bahwa pemerintah memperpanjang subsidi listrik untuk pelanggan 450 VA (100 persen) dan 900 VA bersubsidi (50 persen) hingga Desember 2020.

"Kita perpanjang diskon tarif listrik sampai dengan Desember 2020. Kita juga menambah diskon bagi pelanggan listrik, bisnis dan sosial. Ini mereka mendapat dukungan," ujarnya dalam video conference, Senin (10/8/2020).

Sebelumnya, insentif tersebut hanya diberikan sampai September 2020. Insentif itu diberikan melalui usulan program perlindungan sosial yang total usulan anggarannya mencapai Rp18,7 triliun.

Baca Juga: Profil PLN, BUMN yang Bertugas Aliri Listrik ke Seluruh Penjuru Negeri

Topic:

  • Auriga Agustina
  • Anata Siregar
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya