Comscore Tracker

Belajar dari Dendy Darman: Bicara UNKL347 dan Idealisme dalam Bisnis

Dendy disebut juga sebagai godfather clothing line Indonesia

Bandung, IDN Times - Perkembangan industri kreatif di Indonesia terus mengalami peningkatan. Selain mengambil peran penting bagi perkembangan ekonomi di tanah air, industri tersebut kini mulai diperhitungkan dunia.

Mengutip laporan Opus Creative Economy Outlook 2019, ekonomi kreatif berkontribusi 7,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Hal itu membuat Indonesia berada di posisi ketiga di bawah Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam urusan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB.

Berdasarkan data pemerintah, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB mencapai Rp1.200 triliun pada 2019, dan telah menyerap kurang lebih 17 juta orang pekerja lokal.

Pemerintah menunjukkan bahwa tiga sektor ekonomi kreatif mendominasi kontribusi tersebut, antara lain ialah sektor kuliner, fashion, dan kriya. Dalam urusan fashion, tidak bisa ditampik jika masyarakat Indonesia di berbagai daerah semakin berani untuk berwirausaha dengan membuka merek lokal baru.

Siapa sebenarnya yang memulai tren clothing line tersebut?

1. Dimulai dari UNKL347

Belajar dari Dendy Darman: Bicara UNKL347 dan Idealisme dalam BisnisUNKL347 (Instagram.com/@unkl347)

Omong-omong soal skena merek lokal, atau akrab disebut clothing line Indonesia, sebenarnya sudah menunjukkan kebangkitannya lebih dari 20 tahun silam. Tidak sedikit orang menganggap bahwa kebangkitan clothing line lokal untuk dapat bersaing dengan jenama asing dimulai di Bandung, tempat yang juga dijuluki sebagai kota fashion.

Titik kebangkitan itu dimulai oleh UNKL347 (dengan nama 347 ketika pertama kali berdiri) sekitar tahun 1996. Dendy Darman, sang founder, dengan lingkarannya yang sama-sama menggeluti disiplin desain, mencoba menumpahkan ide kreatif dan kehausannya akan menciptakan karya kepada berbagai apparel, salah satunya tentu kaus.

“Kami enggak pernah bikin sesuatu dengan harapan laku, untung sekian, dan lain-lain. Itu hanya hadiah saja, dan enggak pernah ada di pikiran kami. Kami mencoba mempertahankan idealisme, maksudnya dari dulu UNKL347 dibikin itu benar-benar kita mau bikin pakai hati lah,” ujar Dendy, dalam siaran live program UKM (Unit Kreativitas Milennial) vol.01 di Instagram IDN Times, Selasa (12/1/2021) malam.

Apa yang dikatakan Dendy bukan hanya ucapan belaka. Buktinya, pernah suatu waktu UNKL347 menutup gerainya hanya gara-gara mereka tak punya desain baru untuk dipajang di tokonya.

“Kami bisa tutup toko gara-gara gak punya desain, atau memang kami lagi ingin surfing dulu sebulan. Karena menurut kami, sayang juga kalau ada pembeli yang membeli barang kami dengan desain asal-asalan," kata Dendy.

"Penginnya benar-benar sampai ke end user itu dengan kualitas terbaik, dengan hasil development yang maksimal,” tuturnya.

2. Antara clothing line, furniture, hingga mendesain rumah

Belajar dari Dendy Darman: Bicara UNKL347 dan Idealisme dalam BisnisUNKL347 (IDN Times/Galih Persiana)

Dimulai dari UNKL347, Dendy kemudian terbilang aktif mengorbitkan berbagai produk lain berbasis desain yang ia suka. Tidak hanya furniture, lewat studionya yang bernama Dendy dan Darman Studio, ia rutin menerima pesanan desain rumah hingga banyak yang menganggapnya sebagai seorang arsitek. Padahal, jelas-jelas Dendy ogah disebut arsitek.

Berbagai macam hal yang digeluti Dendy seakan tak pernah lepas dari apa yang ia suka. Seakan-akan, Dendy merupakan cerminan dari kalimat klise: "bekerja sesuai hobi".

Soalnya tak berhenti di sana, Dendy juga menumpahkan kesukaannya terhadap dunia surfing dan skateboarding lewat sebuah usaha perhotelan. Ya, dia saat ini merupakan seorang founder dari sebuah surf shack bernama Hunting Hi and Low. Surf shack alias tempat menginap bagi para surfers itu kini telah berdiri di dua tempat di Indonesia, yakni Batukaras, Jawa Barat; dan Canggu, Bali.

Ketika diberi pertanyaan tricky "jika harus memilih di antara clothing line, furniture, dan desain rumah, mana yang akan kamu pilih?", wajah Dendy berubah menjadi bingung.

"Pertanyaan ini cukup susah gue jawab, karena gue menyukai ketiganya," kata dia.

3. Dendy Darman ialah dia yang bersyukur atas pembajakan

Belajar dari Dendy Darman: Bicara UNKL347 dan Idealisme dalam BisnisDendy Darman (IDN Times/Galih Persiana)

Dendy Darman boleh dibilang merupakan salah satu kreator sekaligus pengusaha dengan perspektif yang unik terhadap fenomena pembajakan. Tidak hanya melihatnya dari kejauhan, Dendy juga sebenarnya menjadi korban pembajakan itu sendiri.

Kepada IDN Times lewat siaran langsung Instagram program UKM, Dendy mengaku beberapa kali menemukan produk yang ia desain dibajak pihak lain. Tidak hanya produk berupa kaus, pembajakan juga mendera desain daripada rumah yang pernah ia bangun. Suatu hari, Dendy mengaku pernah menemukan sebuah perumahan yang menggunakan desainnya untuk berpuluh-puluh unit. 

Namun, ia mengaku tak pernah marah akan aksi pembajakan itu. Alih-alih menuntut sang penjual, ia malah menganggap itu sebagai tantangan yang harus dihadapi orang kreatif.

Ketika produk UNKL347 dibajak, ia malah menganggap hal tersebut sebagai sinyal untuknya segera mengubah nama UNKL347, menambah desain, dan mengerjakan hal-hal lainnya.

Sementara soal pembajakan terhadap desain rumah bikinannya, Dendy malah merasa bersyukur. "Bayangkan, untuk ngebajak kaus mungkin enggak sulit. Tapi ini yang dibajak adalah rumah, di mana perlu effort. Jadi justru gue berterima kasih banget," katanya.

Baca Juga: Menengok Hunting Hi & Low, Penginapan Unik Para Surfers di Batu Karas

4. Menunggu perayaan usai pandemik

Belajar dari Dendy Darman: Bicara UNKL347 dan Idealisme dalam BisnisDendy Darman (instagram.com/@dendydandarman_studio)

Ketika dunia dilanda pandemik COVID-19, banyak orang berpikir bahwa mengamankan uang adalah hal yang paling bijak. Berdiam diri di rumah dan sejenak berhenti melakoni rutinitas menjadi sesuatu yang pantas untuk dimaklumi.

Namun tidak dengan Dendy, karena nyatanya ia justru merombak surf shack-nya, Hunting Hi and Low yang terletak di Batu Karas, di pertengahan tahun 2020. Meski terlihat nyeleneh, rupanya ia memiliki pemikiran lain dalam merespons keadaan pandemik.

Ia menganggap bahwa pandemik COVID-19 bukanlah sesuatu yang harus disesali. Sebaliknya, bagi seorang Dendy, COVID-19 harus dirayakan dengan berkarya sebaik mungkin.

"Almarhum orang tua saya tidak pernah mengalami pandemik semasa hidupnya. Begitu juga mungkin cucu kita nanti. Mangkanya, bagi saya, ini adalah momentum spesial yang sayang sekali jika harus dilewati begitu saja," kata Dendy.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukannya di tahun 2021, Dendy menjawab singkat. Ia hanya memilih untuk menunggu apa yang akan terjadi jika pandemik COVID-19 usai.

"Perayaan apa yang akan kita lakukan setelah pandemik ini beres, menjadi hal yang paling gue tunggu-tunggu," tutur dia.

5. Apa yang harus dilakukan pengusaha clothing line rintisan?

Belajar dari Dendy Darman: Bicara UNKL347 dan Idealisme dalam BisnisUNKL347 (Instagram.com/@unkl347)

Zaman yang harus dihadapi para pengusaha masa kini dengan pengusaha di tahun 1990-an tentu berbeda. Menurut Dendy, perbedaan paling kentara terjadi lantaran berkembangnya teknologi yang dapat memotong jalur komunikasi yang panjang.

Saat mulai merintis UNKL347 pada 1996, Dendy perlu tenaga ekstra mencari di mana tempat menjahit baju dan sablon terbaik di Kota Bandung. “Gue dulu bikin kaos susah banget. Harus ambil hati tukang jahit dulu,” kata Dendy.

Dewasa ini, perkembangan teknologi dan berbagai media sosial memudahkan pengusaha zaman sekarang mendapat sumber daya yang diperlukan. Dendi pun menilai, pengrajin juga semakin pintar, agresif, dan melek teknologi, sehingga tidak sulit untuk ditemui.

Namun, tak selamanya perkembangan zaman bisa menguntungkan. Derasnya arus informasi tak menjamin pengusaha perintis masa kini mudah menjalankan bisnisnya. Mereka terkadang kebingungan menentukan referensi.

"Karena kebanyakan referensi jadi masalah juga. Kadang-kadang kita baru bangun, buka handphone, informasi sudah masuk. Tantangannya ya itu, lu terlalu banyak referensi. Kalau kami dulu tantangannya tidak punya referensi, jadi mau gak mau harus survive," ujarnya.

Baca Juga: 10 Lokal Clothing Brand Ini Bikin Penampilanmu Gak Pasaran

Topic:

  • Ilyas Listianto Mujib

Berita Terkini Lainnya