Comscore Tracker

Rupiah Tumbang versus Dolar AS Sore Ini, Melemah ke Rp14.971

Potensi kenaikan rate The Fed pengaruhi rupiah sore ini

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah melemah atas mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (4/7/2022). Kurs mata uang Garuda ditutup melemah 29 poin ke level Rp14.971 per dolar AS.

Seperti dikutip dari Bloomberg, mata uang rupiah sebelumnya ditutup ke level Rp14.942.

Baca Juga: Cuaca Buruk, Petani Bawang Merah di Bantul Rugi Ratusan Juta Rupiah

1. Faktor eksternal melemahnya rupiah

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan faktor eksternal melemahnya rupiah pada sore ini dikarenakan investor masih menunggu hasil dari pertemuan The Fed pada bulan Juni ini.

"The Fed dijadwalkan akan melaksanakan rapat pada Rabu mendatang dan hampir dipastikan akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin," kata Ibrahim, Senin (4/7/2022).

Baca Juga: 5 Instrumen Pasar Uang, Kenali sebelum Berinvestasi! 

2. Inflasi jadi faktor internal

Ibrahim mengatakan pasar terus menyoroti tingginya inflasi global yang berdampak terhadap inflasi di Indonesia. Tingginya inflasi pada Juni 2022 membuat pemerintah harus mulai menyiapkan strategi untuk menahan kenaikan inflasi hingga akhir tahun.

Salah satu strategi adalah pertama, pemerintah harus mewaspadai pergerakan harga-harga komoditas global seperti gandum dan minyak bumi yang terdampak oleh kondisi geopolitik di Eropa.

"Kedua, pemerintah juga harus memikirkan dan membuat roadmap ketahanan pangan, terutama bahan makanan yang selama ini sering kali menjadi penyebab utama inflasi di Indonesia. Masalah kedelai, jagung, cabai rawit, bawang merah, bawah putih, telur ayam, daging ayam, merupakan contoh dari masalah rutin dan selalu berulang karena mismanajemen mulai dari sektor hulu sampai hilir," ujar Ibrahim.

Ketiga, lanjut Ibrahim, pemerintah melakukan perbaikan komprehensif lintas sektoral dari sektor hulu yang berada di Kementerian Pertanian, sampai sektor hilir yang berada di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Hal Ini tidak bisa dilakukan secara instan, perlu waktu yang lebih lama, tapi bisa dilakukan.

"Tingginya inflasi tersebut bisa memberikan ketidakpastian dan mengganggu potensi pertumbuhan, sehingga pemerintah harus meningkatkan kewaspadaan dari kemungkinan kenaikan inflasi hingga akhir 2022. Sedangkan, tantangan terbesar yang dihadapi perekonomian Indonesia adalah potensi terjadinya stagflasi yaitu kenaikan inflasi di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan atau bahkan kontraksi," ujarnya.

Baca Juga: Dunia Dibayangi Resesi, Rupiah Dibuka Melemah Pagi ini

3. Prediksi rupiah esok hari

Ibrahim mengatakan pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah kembali melemah 29 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 25 poin di level Rp14.971 dari penutupan sebelumnya di level Rp14.941.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.960 - Rp15.020,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 4,35 persen (yoy) pada Juni 2022 atau sedikit lebih tinggi dari proyeksi empat persen plus minus satu persen. Realisasi ini merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memperkirakan tingkat inflasi hingga akhir 2022 akan mencapai tingkat 4,5 persen, dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas global akibat disrupsi rantai pasok global dan perang antara Rusia dan Ukraina.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya