Comscore Tracker

Butuh Rp112 Kuadriliun untuk Selamatkan Ekonomi Dunia dari COVID-19

Indonesia sudah keluarkan 3 jilid kebijakan untuk bertahan

Jakarta, IDN Times - Ekonomi dunia tengah mengalami tekanan mendalam akibat wabah virus corona jenis baru, COVID-19, yang terus menyebar. Hal itu menyebabkan kegiatan ekonomi, termasuk di Indonesia, menjadi terganggu. Jika terus dibiarkan, maka ekonomi dunia bakal lumpuh.

Oleh karena itu dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara mengeluarkan banyak insentif untuk melawan dampak virus corona yang kian ganas menggerogoti perekonomian. Sebut saja Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Tiongkok, hingga India telah mengeluarkan triliunan dolar guna mati-matian menjaga ekonomi global agar tidak tenggelam dalam depresi.

Berdasarkan analisis dari CNN Business, total uang yang sudah dikucurkan oleh bank-bank dan pemerintah negara-negara tersebut hampir mencapai US$7 triliun atau setara Rp112 kuadriliun (kurs Rp16 ribu). Dana itu termasuk dalam pengeluaran pemerintah, jaminan pinjaman dan keringanan pajak, serta pencetakan uang oleh bank sentral untuk membeli aset seperti obligasi dan dana saham.

Angka itu juga termasuk paket bantuan senilai US$2 triliun yang berhasil melalui kongres dan stimulus 30 triliun yen (US$274 miliar) yang diperkirakan dari Jepang yang akan disetujui bulan depan. 

1. Stimulus yang dikeluarkan oleh negara-negara tersebut lebih besar dibanding krisis keuangan 2008

Butuh Rp112 Kuadriliun untuk Selamatkan Ekonomi Dunia dari COVID-19Ilustrasi uang (IDN Times/Arief Rahmat)

Insentif-insentif tersebut, nilainya lebih besar dibanding pemberian pada krisis keuangan 2008. Namun, muncul kekhawatiran dari para ekonom bahwa upaya tersebut tidak akan berhasil bila krisis akibat wabah virus corona terus berlanjut hingga Juni 2020.

"Paket stimulus US$2 triliun adalah minimum yang diperlukan untuk mengimbangi hambatan saat ini dari wabah (virus corona). Ekonomi kemungkinan akan membutuhkan US$3 triliun stimulus fiskal, jika tidak lebih," kata ekonom Bank of America Joseph Song seperti dikutip dari IDN Times dari CNN Business, Sabtu (28/3).

Baca Juga: Ada Pandemi COVID-19, Wajib Pajak Bakal Dapat 4 Insentif Ini

2. Ekonomi akan mengalami kesulitan pulih bila kegiatan ekonomi belum kembali normal

Butuh Rp112 Kuadriliun untuk Selamatkan Ekonomi Dunia dari COVID-19IDN Times/Anggun Puspitoningrum

Adapun para pemimpin G20 telah melakukan pertemuan KTT luar biasa. Dalam pertemuan itu mereka sepakat untuk melakukan apapun untuk meminimalisasi resesi ekonomi akibat virus corona dan mengembalikan pertumbuhan ekonomi global. 

"Besarnya dan ruang lingkup respon ini akan membuat ekonomi global kembali berdiri dan menetapkan dasar yang kuat untuk perlindungan pekerjaan dan pemulihan pertumbuhan," kata para pemimpin dalam pernyataan bersama setelah konferensi video. 

Mereka mengatakan bahwa negara mereka telah berkomitmen untuk stimulus senilai US$5 triliun. Namun pengeluaran yang besar hanya bisa meminimalkan sebagian dari rasa sakit ekonomi. Sementara tunjangan pengangguran dan pemotongan pajak kepada warga akan memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan. 

Ekonomi tidak dapat benar-benar pulih, setidaknya sampai bar dan restoran mulai dibuka kembali, orang-orang kembali bekerja dan melakukan liburan.

3. Indonesia merilis tiga jilid kebijakan ekonomi lawan dampak virus corona

Butuh Rp112 Kuadriliun untuk Selamatkan Ekonomi Dunia dari COVID-19Presiden Joko "Jokowi" Widodo (Dok. Biro Pers Sekretariat Negara)

Indonesia saat ini juga belum melakukan lockdown. Namun pemerintah membatasi pergerakan warganya guna mencegah penyebaran yang kian cepat. Hingga Selasa (24/3), jumlah pasien terinfeksi virus corona bertambah menjadi 686 kasus.

Wabah virus corona yang kian cepat penyebarannya membuat banyak sektor terdampak, mulai dari pariwisata, penerbangan hingga industri. Untuk menghadapi dampak tersebut, pemerintah mengeluarkan tiga jilid stimulus ekonomi.

Jilid pertama terkait dengan sektor pariwisata. Pemerintah menerapkan diskon tiket penerbangan domestik dan pembebasan pajak restoran serta hotel. Stimulus ini diberikan setelah sebelumnya pemerintah melakukan larangan penerbangan dari dan menuju Tiongkok pada pertengahan Februari lalu. Pemerintah juga telah melarang masuknya warga negara asing (WNA) ke dalam negeri.

Pada Jilid II, pemerintah memberi stimulus berupa pembebasan pajak penghasilan (PPh) 21 untuk pekerja, penundaan pengenaan PPh Pasal 22 Impor, dan pengurangan PPh Pasal 25 Badan sebesar 30 persen. Stimulus tersebut berlaku untuk industri manufaktur selama enam bulan.

Pemerintah juga melakukan percepatan dan kenaikan batas maksimum restitusi pajak. Tidak hanya itu, pemerintah melakukan penyederhanaan dan pengurangan larangan terbatas ekspor dan impor, percepatan ekspor dan impor untuk eksportir dan importir berreputasi baik, dan terkait pengawasan logistik.

Untuk jilid III, pemerintah belum mengumumkannya secara langsung. Namun stimulus ini disebut-sebut akan fokus untuk penanganan kesehatan.

Adapun stimulus terbaru yang diberikan pemerintah adalah dengan melonggarkan cicilan kendaraan bagi ojek dan sopir diberi kelonggaran selama satu tahun. Kebijakan tersebut diputuskan setelah mendengar banyaknya keluhan dari tukang ojek, sopir, dan nelayan yang terkena dampak kebijakan dalam penanganan virus corona.

"Keluhan yang saya dengar juga dari tukang ojek, supir taksi yang sedang memiliki kredit motor atau mobil, atau nelayan yang sedang memiliki kredit, saya kira sampaikan ke mereka tidak perlu khawatir karena pembayaran bunga atau angsuran diberikan kelonggaran selama satu tahun," kata Presiden Jokowi.

Tidak hanya itu, Presiden Jokowi juga memutuskan menaikkan dana di kartu sembako murah sebesar Rp50 ribu dari sebelumnya Rp150 ribu per kepala keluarga (KK) menjadi Rp200 ribu per KK. Keputusan ini dilakukan sebagai bentuk insentif pemerintah dalam melawan dampak virus corona.

"Sebentar lagi juga akan kita keluarkan penerima kartu sembako selama 6 bulan ke depan akan ditambah Rp50 ribu menjadi yang diterima Rp200 ribu per keluarga penerima manfaat. Dana yang dianggarkan sebesar Rp4,5 triliun," tuturnya.

Pembaca bisa membantu kelengkapan perlindungan bagi para tenaga medis dengan donasi di program #KitaIDN : Bergandeng Tangan Melawan Corona di Kitabisa.com

Baca Juga: Menengok Stimulus Ekonomi Sejumlah Negara di Tengah Dampak COVID-19

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya