Comscore Tracker

Luhut akan Bidik Turis Berduit untuk Wisata ke Indonesia Saat Pandemik

Pariwisata bisa kehilangan pemasukan Rp140 triliun

Jakarta, IDN Times - Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan tak menampik saat ini industri pariwisata Indonesia terpukul akibat pandemik COVID-19. Oleh sebab itu, pihaknya tengah menyiapkan strategi untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Salah satu caranya dengan meningkatkan jumlah wisatawan domestik dari 50 persen menjadi 70 persen. Cara lain yang bisa ditempuh yakni dengan mendorong wisatawan asing kelas A dan B untuk melancong ke Tanah Air. 

"Kita mau mengurangi turis kelas c. Dari hasil survei banyak turis yang 'berada' akan datang, karena ongkos. Oleh karena itu persiapan kita harus baik," ujar Luhut ketika berbicara dalam webinar yang ditayangkan di YouTube Kemenkomarves, Jumat (12/6).

Bagaimana cara pemerintah meningkatkan rasa percaya bagi turis domestik dan asing agar mau kembali berkunjung ke Indonesia?

1. Akibat pandemik COVID-19, RI kehilangan kunjungan 11 juta turis

Luhut akan Bidik Turis Berduit untuk Wisata ke Indonesia Saat PandemikIlustrasi Pantai Kuta. (IDN Times/Reynaldy Wiranata)

Forum yang sama turut menghadirkan Menteri Pariwisata, Whisnu Tama. Menurutnya, salah satu penyebab menghilangnya penghasilan di sektor pariwisata yakni karena adanya penurunan drastis turis mancanegara. Tidak tanggung-tanggung, angkanya mencapai 11 juta orang. Padahal, semula pemerintah menargetkan tahun ini akan ada 16 juta kunjungan turis mancanegara.

"Memang sektor pariwisata perlu rebound pascapandemi, tapi butuh staging, gak bisa langsung," kata pria yang akrab disapa Tama itu.

Alasan, pemerintah mengandalkan wisman karena per harinya rata-rata mereka bisa menghabiskan US$1.200 untuk melancong di Indonesia. 

Baca Juga: 101 Agenda Pariwisata Palembang Terhenti Akibat COVID-19

2. Devisa dari sektor pariwisata berpotensi 'rontok' Rp140 triliun akibat COVID-19

Luhut akan Bidik Turis Berduit untuk Wisata ke Indonesia Saat PandemikIlustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)

Pandemik COVID-19 terjadi ketika pemerintah tengah menggencarkan 10 daerah sebagai Bali baru. Dalam hitung-hitungan Tama, Indonesia terancam kehilangan devisa atau penghasilan dari sektor pariwisata sebesar US$10 miliar atau setara Rp140 triliun (dengan kurs Rp14 ribu). Angka tersebut bisa semakin membengkak bila pandemik tak mereda di pertengahan tahun. 

"Perkiraan dengan asumsi Juni sudah recovery, itu mungkin potensi dari devisa saja itu kurang lebih bisa. Tahun lalu US$20 miliar dari pariwisata, mungkin tahun ini bisa sekitar separuhnya atau lebih dari separuhnya kehilangan devisa dari pariwisata. Tergantung kapan ini berhenti," kata Wishnu dalam keterangan persnya.

3. Pemerintah mendorong agar gunakan produk lokal lewat One Village One Product

Luhut akan Bidik Turis Berduit untuk Wisata ke Indonesia Saat PandemikIDN Times/Hana Adi Perdana

Strategi yang tengah dimatangkan oleh pemerintah untuk membangkitkan ekonomi dan pariwisata yakni mereka bakal mendorong pemasaran terhadap produk-produk lokal melalui program One Village One Product. Produk kreatif masyarakat desa bakal dijajakan untuk wisatawan, khususnya turis asing.

"Di sekitar Danau Toba ada 10 desa. Kita coba buat jadi percontohan One Village One Product, tolong bupati sekeliling Danau Toba lihat ini dan bisa dibantu biar berjalan ke depan," ungkap Luhut. 

Baca Juga: Bangun Kepercayaan Wisatawan, Cara Pemerintah Pulihkan Pariwisata

Topic:

  • Santi Dewi

Berita Terkini Lainnya