Comscore Tracker

Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja yang Berdampak Buruk

Biasanya terjadi pada millennial dan Gen Z

Jakarta, IDN Times - Dalam lingkungan kerja, kamu pasti pernah bertemu dengan orang-orang yang senang bekerja hingga tidak sempat beristirahat. Beberapa orang menilai jika gaya hidup tersebut sebagai "workaholic".

Namun tau kah kamu jika kondisi gila kerja itu disebut sebagai "Hustle Culture"? Ya, budaya ini biasanya kerap ditemui pada generasi muda, khususnya mahasiswa.

Lalu apa dampak dari hustle culture? dikutip dari laman OCBC NISP, berikut dampak negatif dari hustle culture bagi kesehatan.

Baca Juga: 5 Zodiak Ini Paling Gila Kerja, Rela Lembur biar Cuan Makin Banyak! 

1. Pengertian hustle culture

Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja yang Berdampak Burukunsplash/frantic

Sebelum mengetahui dampak buruknya, ada baiknya mengetahui terlebih dulu apa itu hustle culture. Hustle culture artinya suatu cara hidup dimana seseorang merasa perlu untuk terus bekerja keras dan beristirahat hanya sebentar sehingga mereka dapat menganggap dirinya sukses.

Fenomena hustle culture pertama kali ditemukan pada tahun 1971 dan menyebar dengan cepat terutama di kalangan millennial.

Dalam fenomena hustle culture, seseorang percaya bahwa aspek terpenting dalam hidup adalah mencapai tujuan karir dengan bekerja keras secara terus menerus.

 

Baca Juga: 5 Tips Cegah Kelelahan saat Bekerja Sampingan di Hari Libur

2. Berdampak buruk ke kesehatan mental

Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja yang Berdampak BurukIlustrasi kesehatan mental. (Dok. Pixabay)

Sebuah studi yang diterbitkan di Occupational Medicine menemukan bahwa orang yang bekerja lebih lama, berapapun usianya sangat mungkin mengalami kecemasan depresi dan masalah kesehatan tidur.

Dikutip dari Forbes, sebanyak 55 persen pekerja di Amerika Serikat (AS) tertekan oleh pekerjaannya.

Sementara, menurut Mental Health Foundation UK, di Inggris terdapat 14,7 persen pekerja menderita gangguan kesehatan mental yang disebabkan oleh pekerjaan.

Kondisi serupa juga dialami pekerja Jepang, di mana jumlah pekerja yang menderita penyakit jantung stroke dan gangguan mental meningkat tiga kali lipat karena kelelahan di tempat kerja.

Lalu, bagaimana dengan kondisi di Indonesia?

Di Tanah Air, 1 dari 3 pekerja menderita gangguan kesehatan mental akibat jam kerja yang panjang. Ditambah lagi pada masa pandemik COVID-19, pekerja kerap "dituntut" untuk lebih produktif lagi saat di rumah.

Hal ini kemudian memunculkan tren toxic hustle culture baru di Indonesia.

 

3. Siswa hingga pekerja bisa terkena hustle culture

Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja yang Berdampak BurukIlustrasi kuliah online (IDN Times/Candra Irawan)

Fenomena hustle culture tidak hanya menyasar pada orang dewasa dan sudah bekerja, tetapi juga menghinggapi siswa maupun mahasiswa. Apalagi bila mereka kerap mendapat banyak tugas, kegiatan kampus dan lainnya.

Sementara pada siswa, budaya ini bisa ditandai dengan aktifnya mengikuti bimbingan les di berbagai tempat. Belum lagi, apabila mereka bergabung dengan beberapa organisasi aktivis di sekolah.

Kegiatan yang padat tersebut tentu akan membuat mereka tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengatur waktu antara bekerja/belajar maupun istirahat.

Baca Juga: 5 Usaha Sampingan Guru yang Cocok dan Perlu Dicoba

Topic:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya