Comscore Tracker

Perbedaan B2B dan B2C, Istilah yang Pebisnis Wajib Tahu!

Model bisnis ini akan mempengaruhi strategi marketing kamu

Jakarta, IDN Times - Bagi sebagian orang, istilah B2C atau B2B mungkin cukup asing terdengar. Istilah ini umumnya dikenal oleh para pelaku bisnis. Kedua istilah tersebut nantinya akan berpengaruh pada strategi bisnis dari suatu perusahaan atau para pelaku usaha.

Buat kamu yang sedang menjalankan dan mengembangkan bisnis, istilah marketing ini wajib kamu tau!

Dikutip dari niagahoster.co.id, berikut IDN Times rangkum perbedaan B2B dan B2C.

Baca Juga: Cara Daftar Franchise Sabana Fried Chicken, Merek Lokal yang Lagi Hits

1. Pengertian B2B atau business to business

Perbedaan B2B dan B2C, Istilah yang Pebisnis Wajib Tahu!Ilustrasi industri/pabrik. IDN Times/Arief Rahmat

B2B atau business to business adalah sebuah model penjualan yang terjadi antara pelaku bisnis dengan pelaku bisnis lainnya.

Sebagai contoh, jika kamu menjalankan bisnis yang menjual bahan pakaian dan kamu melakukan penjualan ke store-store atau bisnis fashion yang ada. Inilah yang disebut dengan B2B karena bisnis atau jasa kamu diperuntukkan untuk perusahaan lain, bukan langsung kepada perorangan atau grup.

 

Baca Juga: Cara Daftar Franchise Alfamart, Ada Banyak Jenis Gerainya!

2. Pengertian B2C atau business to consumer

Perbedaan B2B dan B2C, Istilah yang Pebisnis Wajib Tahu!Ilustrasi Transaksi Pembelian Makanan di Restoran (IDN Times/Besse Fadhilah)

Nah, B2C ini justru kebalikannya dari B2B. Jika B2B melakukan pelayanan atau penjualan hanya ke suatu bisnis atau bisnis lainnya, maka B2C melakukan bisnisnya ke konsumen, baik perorangan maupun grup secara langsung.

Sebagai contohnya, kamu memiliki bisnis makanan. Lalu ketika kamu menjual produk makananmu kepada konsumen perorangan, berarti bisnis kamu tergolong B2C.

Tetapi jika kamu menjual makanan dalam jumlah besar kepada bisnis lainnya, berarti bisnis kamu adalah B2B.

 

3. Perbedaan B2B dan B2C

Perbedaan B2B dan B2C, Istilah yang Pebisnis Wajib Tahu!(Ilustrasi) Pixabay.com/wynpnt

Lewat penjelasan di atas, perbedaan B2C dan B2B sudah cukup jelas. Namun demikian, perbedaannya tidak hanya cukup sampai disitu.

Apa saja itu?

A. Target audiens atau pasar

Baik B2B maupun B2C memiliki target pasar yang berbeda. B2B menyasar para pelaku bisnis sedangkan B2C kepada konsumen perorangan atau grup.

Perlu dipahami juga bahwa pasar B2B cenderung kecil dibanding B2C. Sebab, jumlah pengusaha atau produsen tidak lebih besar dibanding konsumen perorangan.

B. Jumlah pembelian dan harga

Dalam marketing, siapa yang membeli ikut mempengaruhi jumlah barang yang dibeli berikut juga harganya. Untuk B2B misalnya, tidak perlu menjual barang dalam jumlah besar untuk mendapatkan omzet tinggi. Karena pada dasarnya, harga per unit pada model B2B sudah sangat tinggi.

Lain halnya dengan B2C. Model satu ini mengharuskan kamu menjual produk dalam jumlah besar untuk memaksimalkan omzet. Apalagi, tidak banyak konsumen perorangan yang membeli dalam jumlah besar.

C. Motivasi

Bemaksimalkan keuntungan, efisiensi pekerjaan, dan investasi ─ setidaknya itulah motivasi yang dimiliki pembeli B2B. Klien membeli barang bukan untuk memenuhi kebutuhan emosional. Justru sebaliknya, pertimbangan logis lah yang mendominasi alasan pembeli produk B2B.

Sementara motivasi pembeli barang-barang B2C sangatlah beragam. Bisa jadi konsumen membeli karena ingin mencoba produk baru, memanfaatkan promo, menyukai produknya atau mungkin untuk diberikan sebagai hadiah.

D. Pembuatan keputusan\

Dalam bisnis B2B, klien bisnis mereka adalah klien bisnis yang logis. Mereka perlu mempertimbangkan banyak hal serta keuntungan jangka panjang sebelum membeli produk. Maka tak jarang, ada banyak pihak yang dimintai pertimbangan.

Lain halnya dengan pembeli produk B2C. Karena pembelinya adalah perorangan, maka keputusan hanya ada di individu itu sendiri. Jikalau ada pertimbangan lain, biasanya tidak sesulit dengan pembuatan keputusan di bisnis B2B.

E. Hubungan penjual dan pembeli

Praktik bisnis B2B dan B2C memiliki hubungan antara penjual dan pembeli yang berbeda. Sifat kontras ini sedikit banyak dipengaruhi oleh motivasi dan proses pembuatan keputusan.

B2B, misalnya. Proses yang panjang dan rumit membuat klien B2B bisnis cenderung menjalin hubungan jangka panjang dengan supplier-nya. Sekali klien merasa puas dan cocok dengan kualitas produk serta pelayanan, klien B2B kemungkinan akan terus memakai supplier tersebut.

Lain halnya dengan B2C. Hubungan mereka cenderung berlangsung dalam waktu singkat, lantaran dipengaruhi motivasi personal dan pengambilan keputusan yang cepat.

Selain itu, produk-produk yang ditawarkan juga sangat bervariasi di pasaran. Persoalan hubungan penjual dan pembeli di model bisnis B2C pun menjadi tatangan tersendiri.

Baca Juga: 8 Tips Memulai Usaha Katering Tanpa Ribet

Topic:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya