Comscore Tracker

Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi RI Minus 2,2 Persen di Akhir 2020

Ekonomi Indonesia dibayangi depresi ekonomi

Jakarta, IDN Times - Pandemik COVID-19 yang urung selesai membuat ekonomi dunia, termasuk Indonesia pontang-panting. Bahkan, hingga akhir tahun ini dampak dari pandemik tersebut masih terasa signifikan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pada kuartal IV 2020 nanti pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh minus 0,9 persen sampai minus 2,9 persen. Konsumsi masyarakat juga dinilai masih akan terkontraksi -3,6 persen sampai minus 2,6 persen.

"Kami memperkirakan keseluruhan tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 1,7 persen sampai minus 2,2 persen," kata Sri Mulyani dalalm konferensi pers APBN KiTa yang digelar secara virtual, Senin (21/12/2020).

1. Peluang ekonomi lebih baik kandas karena adanya pengetatan penanganan COVID-19

Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi RI Minus 2,2 Persen di Akhir 2020Ilustrasi Swab Test (ANTARA FOTO/Fauzan)

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyampaikan, Indonesia sejatinya punya peluang besar dalam pemulihan ekonomi di akhir tahun. Sayangnya, asa tersebut musnah lantaran terjadi kenaikan kasus positif COVID-19.

Hal itu berimbas pada diketatkannya aturan saat libur Natal dan Tahun Baru 2021. Pemerintah memangkas libur panjang serta mewajibkan seluruh masyarakat yang bepergian ke luar kota untuk melakukan tes swab antigen.

"Tadinya ada harapan, ada travelling tapi karena kenaikan COVID-19, penanganan kasusnya menjadi penahan momentum pemulihan di kuartal IV 2020. Namun (pertumbuhan ekonomi) ini lebih baik dari kuartal III tapi belum mencapai di level positif karena langkah untuk menahan penyebaran COVID-19," jelas dia.

Baca Juga: Airlangga Pede Pertumbuhan Ekonomi Bisa Positif Akhir Tahun, Asalkan..

2. Proyeksi pemerintah berubah signifikan

Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi RI Minus 2,2 Persen di Akhir 2020Ilustrasi ekonomi terdampak pandemik COVID-19 (IDN Times/Arief Rahmat)

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang 2020 berubah signifikan. Sebelumnya, Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 berada di kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen.

Awalnya, pemerintah sempat optimistis pertumbuhan ekonomi domestik mampu mencapai 5,3 persen. Namun optimisme itu dikandaskan oleh pandemik COVID-19 yang menghantam ekonomi-sosial Indonesia pada Maret 2020.

3. Indonesia dibayangi depresi ekonomi

Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi RI Minus 2,2 Persen di Akhir 2020Ilustrasi Resesi (IDN Times/Arief Rahmat)

Diberitakan sebelumnya, Indonesia telah kedatangan 1,2 juta dosis vaksin Sinovac. Saat ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sedang melakukan pengujian pemeriksaan dan juga proses untuk para kandidat vaksin. Bila telah selesai, maka pelaksanaan vaksinasi bisa dimulai.

Namun demikian, program vaksinasi COVID-19 diyakini tidak akan berjalan cepat. Apalagi, pelaksanaan vaksinasi tidak dilakukan secara bersamaan. Pemulihan ekonomi pun disebut akan terdampak.

"Jauh lebih lambat (pemulihan ekonominya). Menurut saya kan proses ada yang bayar ada yang beli, tidak semua punya daya beli. Orang miskin tidak jamin mendapat (vaksin) gratis," kata Direktur Eksekutif Institute for Development Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad kepada IDN Times.

Lambatnya program vaksinasi akan membuat proses pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan lambat. Tauhid memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2021 akan mengalami perbaikan dibanding kuartal IV 2020. Namun, angkanya tetap minus.

Bila terjadi, maka Indonesia akan mengalami depresi ekonomi. Meski begitu, depresinya tidak akan terlalu dalam.

"Bisa jadi peluang (depresi ekonomi). Secara harfiah ya memang bisa depresi. tapo prosesnya membaik. jadi masih ada peluang. tetapi kalau kuartal I negatif masuk wilayah depresi tapi tidak terlampau dalam karena prosesnya membaik," ujar Tauhid.

Baca Juga: Minta Ekonomi Digenjot, Jokowi Harapkan Kuartal 4 RI Lepas dari Resesi

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya