Comscore Tracker

17 Juta Orang Nganggur, Bisakah Diangkat Jadi PNS dan Staf BUMN Saja?

Cara yang dianggap paling tepat mendorong dibuka investasi

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut, saat ini hampir 17 juta orang yang menganggur. Angka ini terdiri dari 7 juta yang sedang mencari kerja, 7 juta orang pengangguran karena dampak COVID-19, dan 2,5 juta angkatan kerja tiap tahunnya.

"Ada 16-17 juta orang siap cari kerja," kata Bahlil dalam webinar INDEF, Selasa (4/8/2020).

Lantas apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia?

Baca Juga: 10,7 Juta Orang Indonesia Berstatus Pengangguran

1. Bisakah semuanya diangkat jadi PNS atau karyawan BUMN?

17 Juta Orang Nganggur, Bisakah Diangkat Jadi PNS dan Staf BUMN Saja?Ilustrasi PNS/ASN (IDN Times/Irwan Idris)

Pemerintah, kata Bahlil, bisa saja membuka lowongan untuk pegawai negeri sipil alias PNS dan karyawan untuk bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tapi, lanjut Bahlil,  hal seperti itu susah.

"Tidak mungkin 17 juta orang ini Pemerintah Indonesia lewat PNS atau BUMN akan rekrut mereka," ujarnya.

2. Kuncinya adalah mendorong dibukanya investasi

17 Juta Orang Nganggur, Bisakah Diangkat Jadi PNS dan Staf BUMN Saja?IDN Times / Auriga Agustina

Menurut Bahlil, cara paling tepat adalah dengan mendorong dibukanya investasi di Indonesia. Dengan adanya investasi, maka akan membuka pintu lapangan kerja.

"Dengan posisi sekarang ini kita akan mendorong investasi sebagai pintu untuk menciptakan lapangan kerja. Kita pikir bahwa lapangan kerja sangat dibutuhkan Indonesia, tapi harus dorong agar percepatan pengusaha jalan," Bahlil menjelaskan.

3. Indonesia bidik investasi yang berorientasi nilai tambah

17 Juta Orang Nganggur, Bisakah Diangkat Jadi PNS dan Staf BUMN Saja?Ilustrasi investasi (IDN Times/Sukma Shakti)

Dalam kondisi dunia dilanda wabah virus corona seperti saat ini, Indonesia menargetkan investasi yang tidak hanya sekadar menaruh modal saja. Bahlil menegaskan, ke depannya Indonesia mau investasi yang berorientasi nilai tambah.

"Investasi nilai tambah tidak mungkin kalau kita tidak hilirisasi, industri harus kita bangun," katanya.

Ada beberapa sektor yang dibidik Bahlil untuk investasi nilai tambah, di antaranya alat kesehatan, termasuk bahan bakunya. Lalu energi, pertambangan, dan manufaktur.

"Kalau dulu kita pilih-pilih, sekarang dengan COVID-19 yang penting investasi masuk dan lapangan kerja bisa kita ciptakan," ujar Bahlil.

Baca Juga: 3 Upaya Menkaer Ida Tekan Angka Pengangguran di Masa Pandemik

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya