Comscore Tracker

Industri Tekstil Kembangkan Material Khusus untuk Keperluan Medis

Fasilitas laboratorium melt spinning tengah disiapkan

Jakarta, IDN Times - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memanfaatkan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan daya saing pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Menghadapi pandemik COVID-19, industri TPT mengembangkan material tekstil dengan fungsi khusus untuk medis.

"Permintaan konsumen ketika pandemik terhadap produk tekstil yang memiliki fungsi anti bakteri dan anti virus terus meningkat," ujar Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Doddy Rahadi dalam keterangan tertulis, Jumat (12/2/2021).

Baca Juga: Hanya Mampu Bertahan Sampai Juni, Industri Tekstil Paling Rentan PHK

1. Fasilitas laboratorium melt spinning tengah disiapkan

Industri Tekstil Kembangkan Material Khusus untuk Keperluan MedisIlustrasi industri/pabrik. IDN Times/Arief Rahmat

Doddy memaparkan, salah satu satuan kerja Kemenperin di bidang standardisasi dan jasa industri, yakni Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung, sedang mengembangkan fasilitas laboratorium melt spinning. Fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan oleh industri TPT nasional yang tengah mengembangkan bahan baku benang dengan fungsi khusus, termasuk untuk keperluan medis.

“Pengembangan material akan berdampak pada peningkatan daya saing industri tekstil dan produk tekstil nasional,” tuturnya.

Ia menambahkan, teknologi melt spinning mampu mendesain benang dengan fungsi khusus yang langsung ditanamkan pada seratnya. Dengan adanya proses rekayasa serat menggunakan teknologi melt spinning, dapat dihasilkan produk tekstil fungsional yang memiliki tingkat durabilitas lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penyempurnaan tekstil secara kimia. Penerapan teknologi melt spinning juga bertujuan untuk mendukung substitusi impor bahan baku tekstil dan produk tekstil fungsional.

"Kami menyiapkan melt spinning untuk mendukung industri. Kami mempersilakan industri memanfaatkan teknologi dan peralatan ini. Salah satu keunggulannya adalah bisa mencari bahan terbaik seperti yang diinginkan,” ujar dia.

2. Pengadaan alat melt spinning untuk pengembangan teknologi industri

Industri Tekstil Kembangkan Material Khusus untuk Keperluan MedisSuasana pabrik tekstil dan garmen PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex di Sukoharjo Jawa Tengah. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Baca Juga: Industri Tekstil Terbebani Jika Diwajibkan Rapid Test Secara Mandiri

Sementara itu, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh mengapresiasi percepatan pengadaan alat melt spinning untuk pengembangan teknologi industri.

"Besar harapan kami kepada BBT Bandung untuk menjadi jembatan inovasi bagi industri tekstil dan produk tekstil dalam mengembangkan produknya,” ucap Elis.

Kepala BBT Bandung Wibowo Dwi Hartoto menambahkan, balai besar tersebut juga siap berkontribusi dalam mengkaji standardisasi produk-produk tekstil fungsional. Selain itu, melayani industri dalam pengujian mutu produk yang dihasilkan.

3. Fasilitas laboratorium pengujian masker medis juga telah didirikan

Industri Tekstil Kembangkan Material Khusus untuk Keperluan MedisSuasana pabrik tekstil dan garmen PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex di Sukoharjo Jawa Tengah. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Terkait layanan uji di segmen produk tekstil medis, BBT Bandung bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendirikan fasilitas laboratorium pengujian masker medis.

Pengujian yang dapat dilakukan di laboratorium tersebut antara lain uji bacteria filtration efficiency (BFE), particle filtration efficiency (PFE), breathing resistance, syntheticblood penetration test atau splash resistance, differential pressure, dan uji flammability.

"Fasilitas ini disiapkan dalam rangka menjawab tantangan untuk menciptakan produk tekstil yang berkualitas dan memadai, seperti pada saat pandemi seperti ini,” sebutnya.

Ia menambahkan, laboratorium pengujian masker di BBT Bandung mengacu pada parameter yang telah direkomendasikan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan telah diadopsi identik oleh Badan Standarisasi Nasional menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI), yakni SNI EN 149:2001+A1:2009 (standar masker N95) dan SNI EN 14683:2019+AC:2019 (standar masker medis). Kemudian, ada pula SNI 8488:2018 (standar masker medis) serta SNI 8914:2020 yang merupakan standar masker kain.

"Melalui fasilitas pengujian masker di BBT Bandung, pemerintah menyiapkan agar masker yang diproduksi di tanah air nantinya sesuai dengan SNI serta standar yang ditetapkan WHO,” kata dia

 

Baca Juga: Masyarakat Diimbau Pakai Masker Kain, Masker Bedah untuk Tenaga Medis

Topic:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya