Comscore Tracker

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia 

Pengendalian virus jadi kunci pemulihan ekonomi

Jakarta, IDN Times - Pandemik COVID-19 telah memporak-porandakan dunia. Satu per satu negara menyatakan resesi imbas anjloknya pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal II lalu, pertumbuhan ekonomi di Indonesia terkontraksi 5,32 persen. Sementara, kasus COVID-19 terus meningkat setiap hari.

Lantas, bagaimana proyeksi perekonomian Indonesia ke depan? Akankah bernasib sama seperti negara lain?

Berikut hasil wawancara IDN Times bersama ekonom Faisal Basri. Wawancara ini dilakukan dalam rangkaian Indonesia Millennial Report 2020 yang akan diluncurkan saat acara Indonesia Millennial Summit (IMS) 2021 mendatang.

1. Apa tanggapan terhadap kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah selama pandemik?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi ekonomi terdampak pandemik COVID-19 (IDN Times/Arief Rahmat)

Di Indonesia sampai sekarang kebijakan ekonominya agak unik, kenapa? Karena Indonesia sedang dalam fase tegang-tegangnya, meningkat dengan kecepatan yang lebih tinggi. Sekarang kita sudah memasuki fase 3000 kasus per hari. Angka kematian rata-rata itu sudah di atas 100, ya kadang-kadang 80, kadang-kadang 132. Tidak ada satu negara pun yang berhasil atau yang berani--kecuali beberapa negara saja--seperti Amerika yang berani melonggarkan pembatasan sosial tatkala kasus sedang tinggi-tingginya.

Jadi kita sekarang sedang mendaki, tapi kita disuruh lari, kan, ya, tidak bisa. Virusnya sedang mendaki, ekonomi disuruh berlari, tidak bisa. Akibatnya, sekalipun pemerintah memberikan banyak stimulus tidak begitu efektif, karena apa? Oke, dunia usaha dibantu, restrukturisasi kreditkah, atau macam-macam ya stimulus itu. Namun, dia tidak bisa menjual produknya, kan tidak ada gunanya?

Kemudian masyarakat disuruh belanja, belanja, belanja kan karena belanja masyarakat itu komponen terbesar di dalam PDB. Tetapi mereka enggan belanja atau menahan belanja karena bantuan ini tidak diberikan setiap bulan atau sepanjang tahun.

Jadi, langkah paling bagus untuk menggerakkan ekonomi adalah tatkala pemerintah telah mampu mengendalikan virus, itu kuncinya. Sepanjang virus tidak bisa dikendalikan atau belum bisa dikendalikan atau belum menunjukkan tanda-tanda yang membuat masyarakat maupun dunia usaha confident bahwa pemerintah mampu mengawasinya, mengendalikannya, maka ekonomi akan sulit dan kebijakan apa pun akan tumpul. 

Baca Juga: Sri Mulyani Pastikan Indonesia Bakal Resesi Kuartal 3 Ini

2. Bagaimana peran dari perbankan dan lembaga keuangan dalam menopang daya tahan ekonomi selama pandemik?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi Logo Bank Indonesia. bi.go.id

Perbankan sebetulnya tidak terlalu masalah, dia tidak terlalu terkendala oleh dampak COVID-19 ya. Mereka bisa mengatur aktivitas ekonomi, aktivitas sehari-harinya tanpa terkendala oleh COVID-19. Ya ada sedikit, tetapi tidak terlalu sensitif. Namun, perbankan akan kesulitan kalau makin banyak dunia usaha yang berkepanjangan terdampak COVID-19, karena pendapatan turun, tidak bisa bayar kredit, tidak bisa bayar cicilan.

Kemudian, masyarakat itu menaruh uang di bank kan ada bunganya, sementara penyaluran kredit bank turun. Jadi, pendapatan dia makin lama makin tipis, lama-lama bisa merugi. Karena ATM kan harus jalan semua, perangkat-perangkat teknologi harus jalan semua, harus on semua, tidak bisa istirahat dulu. Jadi, sama seperti yang lain, tidak ada pengecualian. 

Perbankan pun akan makin sulit, kredit macetnya akan semakin tinggi. Kalau sekarang kredit macetnya masih relatif terkendali, 3,11 persen naik dari 2,8. Tapi ini datanya per Juni, karena data perbankan ini timeline-nya agak panjang.

3. Lalu, bagaimana peran BUMN dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Gedung BUMN. IDN Times/Indiana Malia

Sama juga, misalnya Pertamina. BUMN terbesar, kan, Pertamina dan PLN. Pertamina kalau kelamaan seperti ini maka penjualan BBM-nya akan turun lebih dari separuh karena pembatasan sosial ini. Kemudian, harga minyak yang rendah, harga minyak tertekan di hulu ya dia akan kesulitan juga.

Kemudian PLN, misalnya. PLN penjualan listriknya turun tajam sekali karena kegiatan ekonomi berkurang sehingga kebutuhan energinya pun berkurang. Tidak ada kegiatan ekonomi yang tidak butuh energi. Memang ada work from home sehingga penjualan ke rumah tangga naik, tetapi tidak mampu mengompensasikan penurunan penjualan listrik untuk pelanggan bisnis dan industri. Misalnya pabrik, mal, kantor, dan sebagainya. Jadi, jelas apa yang menyebabkan, ya, COVID-19 itu.

4. Apa yang harus dilakukan untuk menekan angka COVID-19 serta memulihkan ekonomi?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi PNS mengikuti tes usap atau swab test. (IDN Times/Bagus F).

Presiden Jokowi sudah melihat sembilan daerah mengalami peningkatan tajam dan berkontribusi kepada 75 persen kasus, lalu diperintahkanlah Menko Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk mempercepat penanganan. Gak bisa. Jadi, kita itu tidak bisa bikin timeline. Tidak bisa mengatur-ngatur ‘Ah ini saya maunya virus turun 2 minggu lagi’, ya, gak bisa.

Virus lah yang menentukan timeline-nya. Yang bisa kita lakukan adalah berlari lebih cepat daripada larinya si virus ini sehingga tertinggallah si virus itu. Dengan cara apa? Dengan cara testing. Jadi positivity rate di Indonesia itu relatif tinggi, kalau ada 10 yang dites, 2,7 positif. Nah, berarti sudah gentayangan di mana-mana  virus ini. Kalau yang dites 100 yang positif 1, itu berarti sudah jinak. Kalau ini kan positivity rate-nya bisa 20-an persen.

Oleh karena itulah tes, tes, tes sehingga lebih cepat kita mengidentifikasi orang-orang yang terkena virus, kemudian kita isolasi dia. Isolasi di hotel kek, di apa kek. Jadi kan anggarannya untuk isolasi itu, setelah itu contact tracing, telusuri dia bertemu dengan siapa saja, tes dia. Akhirnya kasus meningkat, cepat naiknya tapi mencapai puncaknya cepat, baru dia turun.

Kemudian, lakukan intervensi sosial, jadi bagaimana mengimbau masyarakat tidak dengan kekerasan, tidak dengan represif, tapi dengan penetrasi sosial, ya orang-orang seperti doktor Imam Prasodjo itu menjadi penting karena yang di Jakarta dengan Surabaya beda intervensi sosialnya. Intervensi sosialnya dalam bentuk cuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak, itu diterapkan secara baik dan setiap daerah punya karakteristik sosial yang berbeda. Oleh karena itu intervensi sosialnya berbeda.

Orang yang berkeliaran menggunakan masker kurang dari 80 persen, itu efektivitasnya rendah. Jadi harus dipastikan itu berjalan dengan baik sehingga kita cepat mencapai puncaknya. Tidak seperti sekarang, kita tidak tahu puncak kurvanya kapan dan pada level berapa, setelah itu baru turun.

Kalau kurvanya sudah turun, berarti kita berhasil mengendalikan. Tetapi turunnya itu jangan 2 hari turun, seminggu turun sudah nekat dibuka lagi, gak mencapai satu level. Setidaknya 3 minggu, sebulan, kalau sebulan kasusnya tinggal puluhan ya baru ekonomi tanpa dikomando dia akan naik.

Baca Juga: Faisal Basri: Kartu Prakerja Gak Jelas, Alihkan Buat Bansos Saja 

5. Apakah Indonesia sudah bisa dikategorikan masuk dalam resesi ekonomi?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi resesi ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Bagaimana membandingkan tingkat kesulitan ekonomi-bisnis yang terjadi saat ini dibandingkan dengan krisis 1998 dan krisis 2008?

Pada 1998 aktivitas produksi hancur lebur karena kredit macet, kemudian tidak bisa bayar utang luar negeri yang dalam USD. Kemudian, hampir semua perusahaan besar itu masuk ICU. Kalau sekarang fasilitas produksi terjaga semua, tidak ada yang rusak, tidak ada juga gempa bumi yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan sebagainya, jadi semua fasilitas produksi itu siap siaga.

Tatkala virusnya terkendali, otomatis bisa digunakan tanpa adjustment. Kalau krisis itu butuh waktu 5 tahun untuk betul-betul pulih karena ya bergerak dari awal lagi. Kemudian 2008 kan krisis yang datangnya dari luar, krisis finansial global. Karena kita bagian dari komunitas internasional, kita terdampaknya relatif kecil.

Lebih parah sekarang daripada 2008, karena apa? Karena ekonomi kita tidak terlalu berinteraksi secara dalam dengan dunia. Sektor keuangan kita masih cetek. Sehingga waktu itu pertumbuhan ekonomi masih positif 4,6 persen padahal ekonomi dunia waktu itu resesi. Nah, kalau kita kan sekarang resesi ramai-ramai. Ini menunjukkan betapa ekonomi Indonesia itu tidak banyak terpegaruh karena ya kita tidak fully integrated dengan global economy itu.

6. Di sektor ketenagakerjaan, apakah Kartu Prakerja perannya signifikan mendukung ketahanan ekonomi pekerja?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi tampilan aplikasi kartu prakerja (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Dalam menghadapi kondisi seperti ini, setiap kebijakan harus efektif. Pengangguran naik akibat COVID-19 dari 4,99 persen saya perkirakan (sekarang) di atas 7 persen. Pastikan orang yang menganggur itu tidak kelaparan. Itu yang paling penting dulu, sehingga dia tidak melakukan tindakan-tindakan yang cenderung kekerasan. Kan sekarang kekerasan meningkat, ya, penjambretan, bahkan di Jalan Sudirman (Jakarta) dia sudah berani jambret (karena lapar).

Jadi kuncinya bukan training. Ini kan (Kartu Prakerja) training, kalau training baru dikasih uang. Itu dalam keadaan normal, nah kan yang menganggur sekarang dalam keadaan macam-macam, ada yang karena PHK, menganggur karena dirumahkan tetapi tidak di-PHK, kemudian mereka sudah berada di luar negeri untuk bekerja tetapi dipulangkan oleh negara tempat bekerjanya karena COVID-19.

Kemudian ada pekerja yang baru. Jadi dia baru lulus, masuk ke pasar kerja, nah idealnya Kartu Prakerja ini buat mereka ini. Pertanyaannya, mereka yang baru masuk ke pasar kerja ini berapa persen dari total yang menganggur?

Oleh karena itulah kita usul Kartu Prakerjanya gak usah dulu deh, apalagi kontroversi. Utamakan buat nyawa manusia, utamakan untuk membuat orang tidak kelaparan. Kalau kelaparan, apa pun akan dia lakukan dan itu mengarah ke chaos sosial.

7. Jadi Kartu Prakerja lebih baik dialihkan ke bansos biasa?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi Kartu Prakerja (IDN Times/Arief Rahmat)

Iya. Full BLT buat orang yang terdampak COVID-19 dan tidak bisa bekerja. Karena orang yang baru mau masuk ke dunia kerja ini pada umumnya masih ditanggung orangtua. Dia belum pernah dapat pendapatan, dia tahan dulu lah 6 bulan, 1 tahun, pada umumnya bujangan kan. Barangkali 0,01 persen yang menikah.

Jadi, kebijakan ekonomi pakai akal sehat saja, gak usah pintar-pintar amat gitu. Pakai akal sehat dan hati, nah dibimbinglah para perumus kebijakan itu untuk melakukan hal-hal yang tepat. Sesuai keinginan masyarakat.

Nah, Kartu Prakerja ini gak jelas. Tapi ya itulah, sudah gelombang ke berapa ini, bebal pemerintahnya. Yang saya kecewa lagi direktur eksekutifnya dalam satu acara menunjukkan bahwa tingkat kepuasan terhadap Prakerja ini di atas 90 persen, itu kan artinya semua orang puas. Tapi yang melakukan survei pemerintah sendiri dan yang disurvei itu yang dapat Kartu Prakerja.

Tolong pemerintah juga jujur. Karena ini uang semuanya dari rakyat atau dari utang yang harus dibayar oleh rakyat. Jangan yang aneh-aneh. Kalau kita tidak tahu, kita tidak punya pengalaman, minta bimbing hati kita ini. Hati kita minta dibimbing oleh tuhan supaya keluar kebijakan yang betul-betul sensitif kepada kebutuhan masyarakat. 

8. Kapan pemulihan ekonomi nasional bakal dimulai? Q4? Q1 2021? Atau?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Faisal Basri, Ekonom Senior dalam Webinar Eps. 6 #MenjagaIndonesia by IDN Times dengan tema "75 Tahun Merdeka, Kok Masih Korupsi" (IDN Times/Besse Fadhilah)

Sekarang ini kasus naik, ekonomi turun terus. Kalau pemerintah maunya COVID-19 naik dan ekonomi juga naik, ya, mimpi. Obsesi itu namanya. Ekonomi akan naik tanpa harus dikomandoi kalau kita telah berhasil mengendalikan virus. Kasus boleh naik terus karena testing makin banyak, tetapi mencapai puncaknya juga cepat. Kemudian turun terus, ekonomi ya jalan waktu kasus turun.

Pertanyaannya, kita tidak tahu puncaknya kapan, karena pemerintah itu sibuk dengan penamaan dan satgas. Jadi ada satgas percepatan vaksin, satgas yang dipimpin oleh Menko Luhut Pandaitan itu, padahal dia juga di situ. Sampai 15 September 2020, testing di Indonesia masih di bawah 10 ribu per 1 juta penduduk. Hanya lebih tinggi dari negara Afrika, Senegal, Kamerun, Zambia, Wina, Pantai gading, Madagaskar, Kenya, Nigeria, dan Mesir. Dan satu-satunya negara Asia yang lebih rendah dari Indonesia adalah Afghanistan.

Kalau begini, ya, kapan puncak virusnya? Tidak ada strategi sampai sekarang untuk tracing, lompat-lompat begitu. Ini menunjukkan komite penanganan COVID-19 ini didominasi oleh sektor ekonomi.

Kuncinya adalah saving life is saving the economy. Pada triwulan satu kita masih positif, belum kontraksi. Triwulan dua kita minus 5,32 persen. Triwulan tiga kemungkinan besar kontraksi lagi, saya perkirakan 2 persen. Jadi, kita resmi mengalami resesi. Triwulan ketiga kan bulan Juli, Agustus, September.

Harapannya Oktober, November, dan Desember itu sudah positif, tapi tampaknya karena pengendalian virusnya belum jelas maka Desember akan minus. Sepanjang tahun ini kita akan mengalami pertumbuhan minus, saya perkirakan minus antara 2-3 persen. 

Jadi kuncinya adalah kita kendalikan virus, yakinkan masyarakat bahwa pemerintah itu mampu mengendalikannya. Tidak seperti sekarang, kita dinilai oleh dunia terburuk ke-4 dalam menangani virus ini, sehingga tidak ada satu negara pun yang mau kerja sama dengan Indonesia dalam kerangka corona corridor atau travel bubble.

Jadi sekarang negara-negara yang sudah mampu mengendalikan virus itu saling membuka di sesama mereka, misalnya New Zealand, Singapore, Malaysia, dan Brunei Darussalam itu mulai membuka. Indonesia gak diajak. Itu dampaknya ke sektor pariwisata, akhirnya pejabat-pejabat saja yang melakukan perjalanan dinas ramai-ramai, terus foto di Bali, bukan begitu caranya. 

9. Bagaimana proyeksi situasi ekonomi 2021? Sektor-sektor apa yang bisa bangkit lebih dulu?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Mensos Juliari P Batubara salurkan bansos di Natuna (Dok. Kemensos)

Sektor apa yang butuh waktu lama untuk bangkit?

Kalau (penanganan COVID-19) berjalan mulus, kita bisa tumbuh 2021 itu sekitar 4 persen positif. Semua sektor akan bergerak. Kalau sekarang kan sampai semester 1 ada empat sektor yang masih positif, pendidikan, kesehatan, komunikasi, teknologi.

10. Apa keunggulan yang dimiliki Indonesia dibandingkan dengan ekonomi di regional ASEAN untuk pemulihan ekonomi?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi Pasar (IDN Times/Besse Fadhilah)

Ekonomi Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke ada 270 juta rakyat yang bisa saling mengisi satu sama lain. Misalnya buah salak pondoh dikirim ke Palembang, dari Palembang dikirim duku ke Jawa, dari Jawa kirim mangga harum manis, kemudian dari Sumatra dan Kalimantan kirim durian, lengkap semua. Kemudian, yang mulutnya menganga setiap hari itu 270 juta jiwa yang perlu konsumsi, konsumsi, konsumsi terus.

Pasar kita itu 1,3 triliun dolar AS, nomor 16 terbesar di dunia. Terbesar di ASEAN nomor 2, itu Thailand jauh di bawah kita. Jadi kita punya pasar yang besar. Contoh lain, Vietnam itu sudah masuk ke fase aging penduduknya itu, menua. Jadi sekalipun Vietnam hebat, kalau saya bikin pabrik di Vietnam susah cari pekerja yang muda. Kalau di Indonesia, pekerja mudanya 60 persen lebih, jadi mayoritas dari pekerja itu usia muda. Jadi geraknya itu harusnya lebih cepat. Itulah keunggulan Indonesia.

Ditambah lagi kita punya ribuan pulau. Masalahnya adalah sekarang laut kita ini tidak dimanfaatkan untuk mempersatukan ekonomi dan masyarakat Indonesia. Kita sangat bergantung pada transportasi darat dan udara. Kalau lewat lautnya efisien, transportasi lautnya bagus, Indonesia bakal keren sekali. 

Baca Juga: Faisal Basri: Selama Virus Gak Terkendali, Ekonomi Mustahil Bangkit 

11. Seberapa penting pemulihan ekonomi di negara mitra berpengaruh terhadap ekonomi di RI?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi Singapura (IDN Times/Dwifantya Aquina)

Tidak begitu berpengaruh, karena apa? Pertumbuhan ekonomi Indonesia 56 persen dipengaruhi konsumsi masyarakat dalam negeri. Kemudian, 32 persen oleh investasi, jadi itu sudah 90 persen. Nah investasi itu hanya seperlimabelas yang berasal dari luar negeri. Kemudian, komponen berikutnya adalah konsumsi pemerintah. Kira-kira 8-9 persen, nah itu hampir 100 persen. Jadi komponen lain misalnya ekspor dan impor kita anggap nol, kita menutup diri, ekonomi kita masih jalan. 

Coba Anda bandingkan dengan Singapura, ekspornya itu 173 persen dari PDB, jadi masa dia ekspor lebih banyak dari yang dia produksi? 173 persen, impornya lebih sedikit 150 persen. Jadi, kalau ada apa-apa di dunia, ekonomi Singapura ambles seperti sekarang ini. Ekspornya dulu yang terkena. Jadi, mitra dagang tidak begitu penting buat Indonesia. Kalaupun kita tidak mengekspor, ada 270 juta rakyat Indonesia yang siap untuk menyergap itu, mengasorbsi itu. Beda dengan Singapura, produksinya besar, pesawatnya banyak, tapi penduduknya hanya 5 juta.

Tetapi, ini bukan menunjukkan Indonesia hebat, bukan. Kita tidak bisa bersaing di pasar internasional, sehingga waktu di dunia susah, kita tidak ikutan kena. Itu sebetulnya tidak baik karena karena nanti kalau ekonomi dunia recovery, Indonesia belakangan, paling buncit pulihnya itu. Jadi jangan dibangga-banggakan, tapi ya syukurlah makanya kita kontraksinya relatif kecil. 

Indonesia gak terlalu terpengaruh negara mitra. Mau perang dagang kek, apa kek antara Amerika dengan Tiongkok pengaruhnya relatif kecil, bahkan cenderung bisa positif. Jadi gara-gara perang dagang, pabrik di Tiongkok pindah ke luar, bergantung pada kita. Berapa banyak yang kita serap? Produk Tiongkok makin susah ke Amerika, maka tekstil garmen kita dapat peluang untuk mengisi pasar yang kosong, dan banyak lagi.

12. Apa great reset atau tata ulang yang harus dilakukan di sektor ekonomi bisnis kita agar lebih tahan terhadap krisis?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi Industri/Pabrik (IDN Times/Arief Rahmat)

Ayo kita jadikan momentum pandemik ini untuk mewujudkan green economy. Jadi jangan ekonomi yang penuh dengan kerusakan lingkungan, pertimbangkan kembali biodesel. Kita negara kepulauan, terdiri dari 17 ribu lebih pulau, sambung menyambung menjadi satu yang menyambungkannya adalah laut. Maka, transportasi laut jadi urat nadi perekonomian sehingga pergerakan barang jadi dua arah.

Sekarang kalau kita mengirim barang ke kawasan timur isinya penuh pulangnya kosong, kan ongkos jadi mahal. Oleh karena itulah ayo kita wujudkan otonomi yang lebih hakiki, gerakkan seluruh potensi yang ada di seluruh Indonesia ini dan saling bahu-membahu. Saat ini logistic cost kita masih salah satu yang tertinggi di dunia, jadi istilahnya ekonomi habis di ongkos.

Kemudian, gerakkan kembali industri manufaktur, karena ini sumbangannya besar sekali terhadap ekonomi. Dia menyerap terbanyak pekerja formal, dia penyumbang terbesar pajak, dan membentuk kelas menengah yang tangguh.

Lalu, galakkan budaya menabung. Pertumbuhan ekonomi Singapura anjlok belasan persen, kok gak ada kriminalitas yang naik? Kok tidak terjadi pengangguran yang massif? Karena pemerintahnya, rakyatnya punya tabungan yang besar untuk mengantisipasi kesulitan. Jadi, perusahaan-perusahaan yang tidak mampu lagi membayar gaji pegawainya tidak perlu mem-PHK karena 70 persen gajinya ditanggung oleh pemerintah. Jadi perusahaannya gak jadi PHK kan? Dari mana uangnya, ya dari nabung. Di Indonesia, 10 persen saja tidak.

13. Bicara mengenai krisis, apa infrastruktur paling krusial untuk dibangun?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi Kantor BPJS Kesehatan. IDN Times/Feny Maulia Agustin

Industri, sistem jaminan sosial. Apa sih jantung dalam ekonomi itu? Sektor keuangan. Tugas jantung kan menyedot darah dan memompakan kembali ke sekujur tubuh, sektor keuangan juga gitu, nyedot dana dari masyarakat untuk dipompakan kembali dalam perekonomian berupa kredit. Kalau jantungnya lemah, ya jangan mimpi pertumbuhan tinggi. Sederhana sekali. Nah, ayo benahi jantungnya.

Diberikan contoh oleh pemerintah, gabunglah bank-bank pemerintah itu, jadi dua saja deh. Mandiri, BNI digabung jadi bank besar kemudian kalau bisa BTN ikut gabung, BRI jadi bank buat rakyat ini, rakyat UMKM gitu ya sehingga kredit KPR-nya turun, semua bunga-bunga turun karena kemampuan menghimpun dana-dana murah jadi meningkat. Sehingga, mereka bisa menginjeksi ekonomi dalam bentuk kredit lebih saksama lagi.

Satu lagi, pasar kita besar, tidak terlalu bergantung pada luar, pekerja kita muda, kemudian ada industrialisasi yang mumpuni. Oleh karena itu, segala langkah kita akan terukur dan tentu saja wajib dibungkus oleh sense of equity. Pemerataan. Berkeadilan. Jangan seperti sekarang, penguasaan sumber daya alam berada di tangan segelintir orang.

14. Pekerja kita ada banyak, sebentar lagi masuk bonus demografi, apa kira-kira dampak pandemik ini terhadap masa depan generasi muda?

[WANSUS] Blak-Blakan Faisal Basri soal Masa Depan Ekonomi Indonesia Ilustrasi millennials (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

Generasi muda inilah yang menjadi tumpuan Indonesia pascapandemik. Mereka tidak punya beban masa lalu. Mereka tidak berada di comfort zone sehingga leluasa untuk berkiprah. Mereka jiwanya adalah berubah, berubah, berubah, mencari, mencari, mencoba, mencoba, mencoba, dan hebatnya mereka itu kalau jatuh cepat bangun. Kalau orang tua jatuh susah bangun kan?

Jadi, inilah kesempatan millennial, saya mengutip yang disampaikan Prof Budiono mantan Wapres kita, dia mengimbau pemerintah untuk memperlebar jalan bagi peningkatan kiprah generasi muda ini dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara pasca-COVID. Generasi muda yang punya daya menerawang ke depan.

Anda bisa lihat kelakuan pemerintah. Lihat anggaran riset di Kemenristek itu, tahun ini cuman Rp2 triliun, anggaran buat infrastruktur tahun depan naik dari Rp280-an triliun menjadi Rp400 triliun, jadi di otak pemerintah ini tahun depan sirna dengan sendirinya yang namanya COVID-19. Sim salabim keadaan normal kembali.

Anggaran kesehatan tahun depan juga turun, padahal belum selesai ini semua. Tidak ada program percepatan menghasilkan dokter karena dokter banyak yang meninggal. Atau, coba orang-orang terpandai di setiap provinsi dapat beasiswa untuk 10 mahasiswa di Fakultas Kedokteran, betul-betul diprogram khusus, kemudian pengadaan fasilitas kesehatan, rumah sakit, tempat tidur.

Kita harus ada pemerataan supaya siapa pun yang di mana pun itu terjadi wabah kita bisa cepat gitu. Itulah yang menggerakkan seluruh potensi kita dan kita berhasil belajar dari COVID-19 ini.

https://www.youtube.com/embed/q95iTFccskI

Baca Juga: Faisal Basri: Gas Rem Gas Rem, Itu Gak Ada Strategi, Itu Trial Error

Topic:

  • Indiana Malia
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya