Comscore Tracker

Wow, Saham Kerupuk Udang SKLT Jadi yang Terkuat di Bursa 7 Tahun Ini

Tetapi SKLT tidak selikuid saham konsumer lainnya

Jakarta, IDN Times - Saham dari PT Sekar Laut Tbk (SKLT) menjadi saham dengan performa terkuat sejak 1 September 2013 hingga 21 September 2020 untuk sektor saham konsumer.

SKLT adalah produsen kerupuk udang dengan merek FINNA. Emiten ini juga memproduksi sambal, bumbu masakan, hingga saos. Berdasarkan riset Lifepal.co.id, capital gain dari SKLT mencapai 594,44 persen dalam jangka waktu 1 September 2013 hingga 21 September 2020.

1. Saham SKLT tidak selikuid saham konsumer lainnya

Wow, Saham Kerupuk Udang SKLT Jadi yang Terkuat di Bursa 7 Tahun IniPetugas membelakangi layar informasi pergerakan harga saham pada layar elektronik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (18/9/2020) (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Pada kuartal I 2020, SKLT sanggup membukukan kenaikan laba bersih 33,01 persen (yoy). Sementara itu, pendapatan neto mereka pun naik 6,98 persen di kuartal II. Berdasarkan laporan keuangan semester I 2020 SKLT, laba bersih SKLT justru turun 19,5 persen dari semester I di periode sebelumnya. Namun, pendapatan neto mereka di semester II 2020 naik 4,71 persen.

Menurut informasi di RTI, hanya 5,94 persen dari total saham SKLT yang dilepas ke publik. Terhitung dari September 2013 ke September 2020, rata-rata volume transaksi harian SKLT hanyalah 9.327 lembar saham. Dengan demikian, bisa dikatakan SKLT merupakan saham yang jarang ditransaksikan, dan tidak se-likuid ICBP, MYOR, ULTJ atau saham emiten makanan dan minuman lainnya yang memiliki kapitalisasi besar. 

Baca Juga: Cara Jitu Kelola Investasi Saham saat Ekonomi Dihajar Pandemik

2. Kinerja saham STTP juga mampu mengalahkan pasar

Wow, Saham Kerupuk Udang SKLT Jadi yang Terkuat di Bursa 7 Tahun IniKaryawan memantau pergerakan harga saham di Kantor Mandiri Sekuritas, Jakarta, Rabu (15/7/2020) (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Selain SKLT, saham dari produsen kudapan Twistko, Go Potato, Kopi Maestro dan Mie Gemez yaitu PT Siantar Top Tbk (STTP) menjadi saham makanan dan minuman terbaik kedua. Kinerjanya sanggup mengalahkan pasar. 

Terhitung sejak 1 September 2013 hingga 21 September 2020, capital gain dari STTP mencapai 347,02 persen. Terkait fundamental, laba bersih STTP naik 12 persen dari semester I 2019 ke semester I 2020, yaitu dari Rp248,8 miliar menjadi Rp278 miliar. Penjualan PT Siantar Top Tbk sendiri di periode yang sama naik sebesar 8,6 persen dari Rp1,65 triliun di semester I 2019 jadi Rp1,8 triliun di semester I 2020.

3. Performa saham ICBP dan INDF masih tergolong bagus

Wow, Saham Kerupuk Udang SKLT Jadi yang Terkuat di Bursa 7 Tahun IniKaryawan memantau pergerakan harga saham di Kantor Mandiri Sekuritas, Jakarta, Rabu (15/7/2020) (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Kinerja IHSG dari 1 September 2013 hingga 21 September 2020 tercatat hanya 15,82 persen, sementara itu Indeks Konsumer adalah 0,45 persen. Emiten makanan dan minuman raksasa PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga berada di jajaran emiten yang kinerjanya sanggup mengalahkan pasar. Begitu pun dengan perusahaan induknya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Dalam sehari, saham ICBP bisa ditransaksikan 7 hingga 8 juta lembar saham.

Melongok performa ICBP dari 1 September 2013 hingga 21 September 2020, capital gain yang didapat oleh produsen Indomie itu tercatat 98,05 persen. Performa ini dinilai masih kalah dengan satu emiten raksasa makanan dan minuman PT Mayora Indah Tbk (MYOR), namun lebih unggul dari PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ).

Baca Juga: IHSG Bertenaga, Ini Saham-saham yang Bisa Jadi Pilihan Kamu! 

4. Saham produsen Taro Snack miliki kinerja terburuk

Wow, Saham Kerupuk Udang SKLT Jadi yang Terkuat di Bursa 7 Tahun IniANTARA FOTO/Reno Esnir

Sementara, saham Tiga Pilar Sejahtera Food (ASIA) yang memproduksi Taro Snack tercatat berkinerja buruk. Selama dua tahun, AISA telah disuspensi BEI karena insiden gagal bayar bunga obligasi dan sukuk ijarah yang diterbitkan pada 2003. Sayangnya, laporan kuartal II dari emiten ini belum dirilis. 

Pada laporan kuartal I AISA, perusahaan ini masuk ke dalam daftar perusahaan dengan ekuitas negatif. Ekuitas AISA yang tercatat dalam laporan keuangan kuartal I adalah minus Rp1,32 triliun. Riset Lifepal.co.id mencatat kinerja AISA terhitung dari 1 Mei hingga 21 September 2020 minus 82,56 persen. Di atas AISA ada pula ADES (PT Akasha Wira International Tbk) yang performanya minus 51,28 persen.

Dalam membuat riset data ini, Lifepal.co.id menganalisis pergerakan saham 14 emiten di sektor barang konsumsi (sub sektor makanan) yang sudah melantai di BEI selama lebih dari 10 tahun. Selain itu, Lifepal juga membandingkan pergerakan saham mereka dengan pergerakan IHSG maupun Indeks Konsumer di BEI.

Baca Juga: Yuhuu! Kabar Baik di Awal Pekan, IHSG dan Bursa Kompak Bertenaga

Topic:

  • Indiana Malia
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya