Comscore Tracker

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah Pandemik

Banyak bisnis terpuruk, namun ada pula yang meroket

Jakarta, IDN Times - Pandemik COVID-19 musuh bersama, termasuk bagi para pelaku dunia usaha. Meski hampir semua sektor ikut terpukul, ternyata ada juga pengusaha yang masih meraup untung di tengah pandemik ini.

Dengan sejumlah perubahan gaya hidup dan aktivitas masyarakat di saat pandemik, sejumlah jenis bisnis kecipratan untung. Mereka yang punya bisnis tanaman, alat berkebun, kuliner, alat kesehatan hingga alat olahraga, adalah sebagian dari mereka yang beruntung. 

Seperti apa pengalaman para pengusaha yang mampu meraup keuntungan di tengah pandemik COVID-19? Yuk, simak kisah mereka. Bisa jadi inspirasi bisnismu juga lho!

1. Pedagang sepeda di Tangerang panen cuan karena tren gowes

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikIlustrasi toko sepeda (IDN Times/Besse Fadhilah)

Seorang pedagang sepeda di Kota Tangerang, Banten, ini adalah salah satu yang panen cuan di masa pandemik. Sejak bersepeda menjadi tren, pemasukan para pedagang sepeda pun melesat naik. Banyak orang ingin menjaga kebugaran sekaligus mengatasi kebosanan lewat "gowes".

Toko sepeda Bersaudara di Jalan Kiasnawi, Pasar Anyar, Kota Tangerang salah satu yang laris manis. "Selagi tren gini, terutama setelah lebaran kemarin, penjualan meningkat sampai 70 persen," kata pemilk toko sepeda, Helen Limanto, Jumat (20/11/2020).

Helen mengisahkan, kondisi penjualan yang baik ini tidak terjadi sejak awal pandemik. Di bulan-bulan awal, penjualan justru merosot tajam. Dalam sehari, dia pernah menjual hanya tiga sepeda saja.

Kini, kondisinya berbalik setelah gowes menjadi aktivitas yang hype. Setiap harinya, rata-rata 17 sepeda laku terjual. Peningkatannya hampir dua kali lipat dari jumlah penjualan pada hari-hari biasanya sebelum masa pandemik.

Harga sepeda yang dijual Helen bervariasi, mulai dari harga Rp1,5 juta hingga Rp9 juta. Menurutnya, sepeda yang paling diminati pembeli di tokonya adalah sepeda gunung dan lipat. "Karena pembeli setelah pandemik katanya mau jalan-jalan atau olahraga," imbuhnya. 

Baca Juga: Pedagang Sepeda Raup Untung di Pandemik

2. Dulu event organizer, kini banting setir jualan sayur online

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikHuta Fresh Market (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Henny Pandiangan (42) putar otak sejak bisnisnya terhantam pandemik. Dia selama ini menjalani bisnis event organizer di Medan, Sumatera Utara. Seperti pengusaha EO lainnya, usaha miliknya benar-benar terpuruk karena penyelenggaraan event besar dilarang pemerintah untuk menekan penyebaran COVID-19.

Akhirnya, banyak event yang di-reschedule, bahkan dibatalkan.

"Event terakhir ada BCA Expo di bulan Maret, kita sudah banyak schedule sampai bulan July, kan ini benar-benar mendadak sekali. Bahkan ketika perintah WFH itu, setengah tim aku udah di Palembang, tiba-tiba pandemik, disuruh pulang," tuturnya.

Kini booth-booth acara, printing, dan sejumlah dekorasi wedding teronggok saja di kantor Henny.

Di tengah keterpurukan itu, Henny pun putar otak untuk bisa bertahan tanpa merumahkan para tim kreatifnya. Dia akhirnya memutuskan banting setir merambah bidang lain. Berjualan sayur secara daring, menjadi pilihan Henny. 

Kini, bisnis jualan sayur yang dinamakan Huta Fresh Market itu, sudah menggaet 382 pelanggan. Setiap harinya ada sekitar 40 pelanggan tetap yang melakukan pembelian.

Meski bisa sukses mengakali bisnisnya, Henny tetap berharap pandemik ini segera berakhir agar dia dan timnya bisa kembali menggeluti bisnis EO agency.

"Secara bisnis persentase (sayur online), oke. Tapi kan nominalnya beda sekali. Tapi ini bisnis baru lah."

Tak hanya jualan sayur, kini dia pun sudah memikirkan ide baru untuk dijalankan selama pandemik belum berakhir. Henny akan mencoba mengembangkan kreativitas timnya untuk memproduksi digital performance. " Kita mau bikin Huta Live ya, kita mau menginspirasi," tuturnya. 

Baca Juga: Masa Pandemik, Henny Beralih Profesi dari EO Jadi Jual Sayur Online

3. Clothing Bigboylooksgood yang jeli melihat peluang, merambah produksi masker kain

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikLocal Brand fashion big size, produknya selalu ditunggu konsumen (Dok.IDN Times/bigboylooksgood)

Jeli melihat peluang di tengah pandemik COVID-19 juga membuat Denny Nugraha (41) mampu bertahan bahkan mengembangkan usahanya. Denny selama ini dikenal dengan Bigboylooksgood, clothing big size khusus cowok yang sudah punya pelanggan setia di Jakarta dan Bali.

Bisnis fashion itu sudah digelutinya sejak 2012. Berangkat dari melihat peluang pasar bagi konsumen yang punya ukuran baju di atas Xl atau 2L yang belum banyak digeluti brand lokal, Denny pun merintis Bigboylooksgood.

“Semua itu paling besar hanya XL (Xtra Large) sama 2L. Yang paling mahal kami nemuin itu kemeja Rp2 juta satu lembar, mentok itu sizenya itu di XL. Terus kami pikir ini orang yang kaya, punya duit, ketika badannya lebih besar dari XL ke mana kah? Kan berarti marketnya kosong kan?” jelasnya.

Pemikiran tersebut kemudian mengantarnya memulai bisnis fashion big size dari ukuran L sampai XL American Size. Saran yang disampaikan oleh konsumen-konsumennya saat itu membuatnya menciptakan ukuran lain seperti 2L, 3L, 4L dan 5L.

Pada 2018, dia tidak hanya menyediakan fashion dengan ukuran 2L, 3L dan 4L, tapi juga hingga 5L. "Ternyata permintaannya makin banyak juga,” jelasnya.

Local brand yang berlokasi di Seminyak village ini harganya pun terjangkau sekitar Rp328 ribu hingga Rp428 ribu. Daur hidup koleksinya hanya 3 minggu saja, setelah itu habis barangnya. 

Denny mengungkapkan bahwa pandemik ini menjadi tantangan tersendiri baginya agar bisa menyiasati income. Dia pun memutuskan untuk merambah produk lain yang dibutuhkan dalam kondisi saat ini. Tak hanya produksi baju, kini dia pun membuat masker.

Masker yang merek produksi pun memanfaatkan bahan kain-kain dari membuat baju. Hasilnya, masker matching dengan baju buatannya.

“Jadi surprisingly, malah disukai sama customer kami. Karena kan customer kami itu modelannya tampil beda gitu kan. Pada saat itu masker masih pada yang polosan, masih yang medis ya,” jelasnya.

Motif yang ia gunakan sama masih tetap dengan ciri khas clothing-nya selama ini. Motif yang jarang ditemukan di merek-merek lokal seperti motif apel, ikan, donat, mata, sepatu, dan lain sebagainya. "Kain-kain yang gak berani dibeli oleh orang." 

Baca Juga: Dari Fashion Big Size di Bali, Kini Raup Cuan Lewat Produksi Masker

4. Bisnis empon-empon diburu karena khasiatnya bagi imun tubuh

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikHarga empon-empon di Surabaya merangkak naik. IDN Times/Ardiansyah Fajar

Bisnis lain yang meroket di tengah pandemik adalah produk herbal, termasuk empon-empon. Jenis herbal satu ini begitu diminati orang karena diyakini bisa meningkatkan imun tubuh, utamanya di tengah pandemik.

Salah satu pengusaha di sektor ini adalah Supriyatin. Saat virus corona merebak pertama kali di Indonesia, warga Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah itu mengaku seperti ketiban durian runtuh. Betapa tidak, sirup jahe gula aren yang sudah ia produksi sejak enam tahun terakhir, mendadak booming!

Di bulan pertama hingga bulan ketiga masa pandemik, Supriyatin  kebanjiran orderan. Pri, begitu ia akrab disapa, sampai-sampai kewalahan menerima banyaknya pesanan dari para pelanggan. 

Menurut Pri, minuman berbahan baku jahe sebenarnya bisa menghangatkan tubuh dan melegakan tenggorokan. Tapi para pelaku industri jamu sepertinya juga diuntungkan dengan maraknya kabar bahwa empon-empon merupakan salah satu tanaman yang dianggap manjur meredakan gejala infeksi virus corona.

Sang istri Sri Sudarmi berkisah, jumlah pesanan bisa naik sampai lima kali lipat. "Dari yang tadinya gak pernah datang ke rumah, pas pandemik tiba-tiba orang-orang pada kemari. Awalnya kepengin lihat sirup jahenya. Terus langsung dibeli," kata Sri. 

Berbagai cara pun dilakukan suami-istri ini untuk mengantarkan produk buatannya sampai ke tangan konsumen yang tinggal di luar kota. Ya, pelanggan minuman Jahe 33 tersebar di Jakarta, Jabar hingga Yogyakarta. "Biasanya kita kirimnya pakai mobil boks, bisa juga lewat kantor pos dan kalau yang pesan dari Jakarta bisa dititipkan lewat bus juga," tambahnya. 

Jika kondisi normal ia hanya mendapat pesanan 500-1.000 botol per bulan. Namun, kala pandemik jumlahnya meroket hingga bisa melayani pesanan 25.000 botol saban bulan. Wow! 

Baca Juga: Kisah Meraup Cuan Rp13 Juta Sehari dari Bisnis Pulsa saat Pandemik

5. Gerakan #dirumahaja membuat mebel pun menjadi bisnis menggiurkan

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikKaryawan Mebelux Furnitur memperlihatkan model mebel kepada pembeli. IDNTimes/Larasati Rey

Berdiam diri selama pandemik, membuat orang menjadi asyik mengotak-atik dekorasi rumah. Bisnis mebel pun kebanjiran orderan. Salah satu yang merasakan hal itu adalah desainer Interior Mebelux, Fitriana dari Kota Solo, Jawa Tengah. Fitri mengaku penjualan mebelnya mengalami peningkatan hingga 20 persen selama masa pandemik dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

“Mungkin orang-orang bosan ya di rumah sehingga ingin mempercantik rumahnya, jadi ingin membuat nyaman rumah jadi malah banyak yang melakukan renovasi di rumah,” ungkapnya.

Dari berbagai mebel, produk kitchen set adalah yang paling laris saat masa pandemi ini. “Selama masa ini, permintaan meningkat kebanyakan permintaan di kitchen set, backdrop televisi, dan interior-interior lainnya seperti interior kamar, tangga, dan menghias bawah tangga,” jelasnya.

Untuk produk yang sesuai permintaan pelanggan (custom) ditawarkan mulai dari Rp1,8 juta per meter persegi. Selama pembukaan showroom di Solo, Mebelux Furnitur memberikan diskon berupa cashback Rp1 juta untuk pembelian furnitur senilai Rp10 juta. Selain di Solo, Mebelux juga membuka cabang dì Jakarta.

Baca Juga: Mau Dapat Cuan Fantastis? Budidayakan Nih 2 Jenis Cupang Ini

6. Penjual ikan cupang di Lampung ini cuan hingga bisa bangun rumah

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikIlustrasi Ikan Cupang (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Mengulik hobi, menjadi salah satu "obat" kejenuhan selama masa pandemik yang membuat sebagian besar orang berdiam diri di rumah. Salah satu hobi yang tren kembali adalah memelihara ikan cupang.

Popularitas cupang dan tanaman hias membawa untung yang melimpah bagi para penjualnya. Aidan, misalnya, meraup omzet jutaan rupiah dari usahanya berjualan cupang. Penjual asal Lampung ini memilih jenis cupang koi multicolor untuk dia tawarkan melalui media sosial.

Aidan sudah melakoni bisnis cupang ini sejak April 2019. Awalnya dia adalah penjual ikan cupang reseller. Lama kelamaan, dia mulai belajar sendiri untuk beternak. Saat ini, lahan kolamnya sudah cukup luas dan dia berencana untuk memperluas lagi.

Sebelum pandemik, Aidan sempat memasarkan ikannya ke luar negeri. Kini, dengan banyaknya negara yang memberlakukan lockdown, akhirnya dia hanya fokus memasarkan cupang secara lokal. Itu pun tetap meraup untung yang besar.  

“Hampir seluruh Indonesia udah pernah semua, kalau luar negeri kecuali Afrika udah semua juga order ke saya. Gak pernah rugi sih karena kan saya ternak sendiri. Sekarang saya mau bangun rumah sama perluas kolam. Ini semua murni dari hasil jualan cupang,” ujarnya.

Memelihara cupang, kata Aidan, membutuhkan kesabaran dan semangat yang besar. Usia satu bulan, adalah masa rawan ikan cupang. Perawatan dan jenis makannya harus benar-benar diperhatikan. "Tapi kalau sudah lewat usia itu sudah biasa saja karena sudah bisa diberi makan pelet atau jenis makanan ikan lain."

Menurutnya dalam waktu tiga bulan ikan sudah bisa dipasarkan tapi bergantung pada jenis ikannya. Karena ikan koi multicolor ini membutuhkan mutasi untuk memecahkan warna pada kulit ikan.

Berbisnis cupang juga menjadi pilihan penjual cupang di Kota Bandung, Jawa Barat bernama Yana Waryana. Dia mulai kebanjiran orderan selama pandemik COVID-19, terlebih ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Penjualan cupang Yana bahkan meningkat hingga 50 persen dibandingkan sebelum pandemik. "Kebutuhan konsumen lebih tajam daripada dulu," kata Yana. 

Bisnis berjualan cupang ini juga menjadi penyelamat bagi Muhammad Iqbal. Pria yang berprofesi sebagai freelance fotografer di salah satu kantor swasta ini, terpaksa banting setir untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Menjual ikan cupang dirasakannya merupakan jalan yang tepat untuk kondisi saat ini.

"Baru mulai tiga bulanan. beberapa teman lain yang sudah mulai pendapatannya per-hari bisa kurang lebih Rp10 juta, ini partai besar dan tergantung jenis cupangnya," ujar Iqbal.

Ia pun kini membuka toko sendiri di kediamannya Jalan Cisaranten Kulon, RT04/RW02, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Saat ini yang masih ia ternak adalah ikan cupang jenis avatar dan blue rim. "Saya berharap, ini bisa menolong dalam kondisi pandemik," kata dia.

Baca Juga: Berbisnis Ikan Cupang, si Penghilang Stres di Kala Pandemik COVID-19

7. Bisnis tanaman hias keuntungannya kian gurih

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikTanaman hias daun bercorak cerah cukup diminati warga PPU (IDN Times/Istimewa)

Selain ikan cupang, fenomena unik yang kembali muncul di tengah pandemik ini adalah  tanaman hias. Selain karena faktor kebutuhan orang mengulik hobi saat pandemik, koleksi tanaman hias memang telah memiliki pangsa pasar tersendiri sejak lama. Banyak orang senang mengoleksi tanaman hias dan berburu tanaman dengan warna dan bentuk yang menarik.

Salah seorang warga Kota Bandung yang kini banyak mendapatkan untung dari berbisnis tanaman hias itu yakni Nisa Nurjanah. Perempuan yang berprofesi sebagai karyawan di salah satu galeri seni di Kota Bandung ini mengaku banyak mendapatkan untung dari usaha tanaman hias.

Hanya bermodalkan suka dengan tanaman hias, ia memulai menanam beberapa potong tanaman pot yang kemudian dirawat di rumah pribadinya. Kondisi pandemik pun akhirnya membuat Nisa banyak memiliki waktu berdiam diri di rumah. Sehingga, hal ini membuatnya terus merawat tanaman-tanamannya dan kemudian berkembang hingga akhirnya berjualan.

"Karena pandemik, tanaman banyak, akhirnya tamanan itu di-posting (di media sosial). Sempat bikin YouTube dulu, terus banyak tertarik," ujar Nisa saat dihubungi IDN Times, Jumat (20/11/2020).

Dengan animo masyarakat yang banyak memesan tanaman-tanamannya itu, Nisa akhinya langsung membuat akun instagram @ber.akarr sebagai wadahnya berjualan. Tidak hanya itu, ia pun membuka toko offline di Jalan Bukit Pakar Timur VI, nomor 131, Dago Atas, Kota Bandung.

Jenis tanaman yang ia jual kebanyakan jenis monstera variegata alias janda bolong. Harga satu tanaman itu ia jual dengan harga Rp150 ribu. Menurutnya, harga tersebut merupakan harga yang sudah naik dari sebelumnya yang hanya Rp50 ribu. Ada juga tanaman-tanaman koleksi yang harganya bisa di atas Rp3 juta.

"Kalau sudah terjun dalam dunia ini makin tidak masuk akal (harganya)."

Rinda Amalia, warga Kabupaten Bandung Barat juga meraup cuan dari bisnis serupa. Wanita berumur 30 tahun ini mengaku sudah memulai bisnis tanaman sejak 2011 lalu. Namun, saat itu ia hanya menyediakan bunga hias dan tanaman untuk dekorasi.

Seiring berjalannya waktu, dengan bisnis tanaman pot yang belakangan semakin hits, Ia akhirnya memantapkan diri untuk ikut serta membudidayakan beberapa tanaman hias dan menjualnya melalui akun Instagram @littlestarflorist. Ia pun berjualan secara offline di Jalan Terusan Sersan Bajuri, Desa Cihideung, Kabupaten Bandung Barat.

"Kami ada sekitar 100 lebih jenis tanaman pot. Ada tanaman bidara, krisan, katusba dan silver dust. Kami sudah ekspor ke mancanegara, seperti Asia di antaranya ke Filipina, Eropa dan Amerika juga pernah," ujar Rinda.

Saat ini, tanaman hias jenis monstera merupakan yang paling banyak dicari oleh pembeli. Tak hanya itu, philodendron dan alocasia juga menjadi primadona. Tiga jenis tanaman itu dikatakannya banyak diburu oleh pecinta tanaman hias di dalam negeri dan di luar negeri.

Harga satu tanaman hias yang ia jual pun bermacam-macam, mulai dari Rp35 ribu hingga jutaan rupiah. Soal keuntungan yang didapat dari bisnis ini, dirasakannya sangat profitable, apalagi saat ini banyak masyarakat yang mencarinya.

"Pesan untuk millennial yang baru mau mulai, intinya harus mau belajar jangan terlalu khawatir akan teknis seperti apa. Masalah pasti ada, intinya mau belajar saja dan mendalami apa yang kita kerjakan nanti. Pahami kemampuan diri juga penting," tuturnya.

Baca Juga: Cupang dan Tanaman Hias Jadi Penyelamat Ekonomi Warga Bandung Raya 

8. Millennial bercocok tanam? Kenapa tidak!

8 Cerita Bisnis yang Laris Manis di Tengah PandemikPemilik Sayuran Organik Merbabu (SOM), Shofyan Adi Cahyono. IDN Times/Dhana Kencana

Tidak banyak millennial yang terjun ke dunia pertanian, padahal prospek bisnisnya cukup menjanjikan asalkan mengetahui kunci suksesnya. Di tengah pandemik, produk sayur mayur organik diburu karena dipercaya menyehatkan tubuh, dan juga mempunyai khasiat serta menjaga imunitas tubuh.

Celah inilah yang dilirik Shofyan Adi Cahyono, millennial asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dia merintis Usaha Sayuran Organik Merbabu (SOM) sejak 2014 di Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan.

Semula, Shofyan yang kini baru berusia 25 tahun, tidak ingin terjun ke dunia pertanian. Cita-citanya sejak SMA sebenarnya adalah menjadi pengusaha warung internet (warnet).

"Seperti dengan anak muda lainnya, suka dengan teknologi. Makanya waktu SMA pengin cita-cita masuk kuliah di teknologi informasi (TI). Mimpinya saat itu, enak hanya duduk-duduk bisa internetan dan main media sosial, dapat uang, gak perlu panas-panasan dan kotor-kotoran," akunya kepada IDN Times, akhir Agustus lalu.

Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Teknologi Informasi Amikom Yogyakarta setelah lulus SMA Negeri 1 Grabag, Magelang ternyata harus pupus karena ditolak mentah-mentah oleh orangtua, Suwadi dan Suyanti, yang bersikeras memintanya untuk bertani saja dan kalaupun ingin kuliah harus ke jurusan Pertanian.

Ia pun kemudian kuliah  dan mencapai gelar kesarjanaanya di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana dan saat ini tengah melanjutkan pendidikan pascasarjana Jurusan Ilmu Pertanian pada fakultas yang sama.

Shofyan mendalami pertanian berbekal pengalaman orangtuanya yang pada saat itu kesulitan menjual produk sayuran organik. Selama 7 tahun, sejak 2007 hingga 2014, kendala utama bukan pada budidaya melainkan pemasaran, kesulitan yang juga dialami para petani di wilayah Kopeng, Kabupaten Semarang.

Pria kelahiran Kabupaten Semarang, 20 Juli 1995 itu kemudian mulai membenahi produk pertanian organik milik orangtuanya. Dia memulai pemasaran dengan menggunakan media sosial di dunia maya. Ia meyakini bahwa petani yang melakukan pemasaran online, yakni memasarkan komoditasnya melalui media sosial, tidak harus bergantung kepada pasar konvensional. 

Terobosan tersebut membuahkan hasil. Pangsa pasar SOM telah berkembang ke luar kota bahkan luar pulau. SOM juga memiliki reseller dan agen di beberapa daerah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Surabaya, Yogyakarta, dan Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

SOM menjual lebih dari 80 jenis sayuran, baik yang umum maupun yang khusus, dengan harga jual terjangkau untuk segmen menengah ke atas. Masa pandemi virus corona bahkan meningkatkan pembelian produk sayuran organik. Omzet bulanan SOM rata-rata per bulan mencapai Rp300 juta.

Hasil positif tersebut turut dirasakan salah satu agen SOM di Semarang, Hamzah Ari Wibowo yang mengaku selama pandemi penjualannya relatif naik. Tak tanggung-tanggung, omsetnya mampu tembus Rp50 juta hingga Rp60 juta per bulan.

"Dari awal usaha sudah melakukan penjualan online sebagai konsep interaksi ekonomi. Jadi ketika pandemi, aktivitas ekonomi beralih ke online dan SOM sudah lebih siap daripada yang lain. Ditambah produk sayur organik memang dinilai lebih sehat dan menyehatkan. Yang laris wortel, tomat, pakcoy, kale, horenso," ungkapnya ketika dihubungi IDN Times melalui WhatsApp, Rabu, 30 September 2020.

Hingga pandemik berlangsung kini, SOM tetap eksis dan konsisten menghasilkan pangan sehat. Sejak proses pembenihan, pembibitan, produksi tanaman, pemberantasan hama dan penyakit dalam pertanian organik sama sekali tidak menggunakan bahan kimia. SOM bahkan telah berstandar SNI dan mendapat sertifikasi Organik Indonesia dari Lembaga Sertifikasi Organik (INOFICE) loh.

Itulah beberapa cerita bisnis yang laris manis di tengah Pandemik. Berminat untuk memulai usaha di atas?

Baca Juga: Bertani Organik Kala Pandemik, Mendorong Regenerasi Petani Millennial

Tulisan ini merupakan kolaborasi Hyperlocal IDN Times. Tim Penulis: M Iqbal, Masdalena Napitupulu, Larasati Rey, Fariz Fardianto, Silviana, Dhana Kencana, Debbie Sutrisno, Azzis Zulkhairil, Ayu Afria Ulita Ermalia. 

Topic:

  • Anata Siregar
  • Hidayat Taufik

Berita Terkini Lainnya