Comscore Tracker

Atasi Krisis Tenaga Kerja, Australia Genjot Kuota Migran Permanen

Langkah Australia dalam menghadapi krisis tenaga kerja

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia telah memutuskan untuk menambah penerimaan 35 ribu izin migran permanen, menjadi 195 ribu kuota. Hal ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Australia, Clare O'Neil, dalam pidatonya pada summit yang berlangsung selama dua hari di Canberra.

Pertemuan yang dihadiri 140 perwakilan dari pemerintah, serikat pekerja, bisnis, dan industri tersebut bertujuan mencari solusi terhadap tantangan ekonomi utama yang melanda Australia saat ini.

"Fokus kami selalu mengutamakan sektor pekerjaan Australia, tetapi dampak COVID-19 begitu parah," kata O'Neil pada Jumat (2/9/2022), dikutip dari The Straits Times. "Bahkan jika kita kehabisan setiap kemungkinan lain, kita masih akan kekurangan ribuan pekerja, setidaknya dalam jangka pendek," imbuhnya.

Baca Juga: Satu Juta Dosis Vaksin PMK dari Australia Tiba di Indonesia 

1. Disambut baik industri dan bisnis Australia

Atasi Krisis Tenaga Kerja, Australia Genjot Kuota Migran PermanenBendera Australia. (Pexels.com/Hugo Heimendinger)

Langkah yang diambil Australia untuk pertama kalinya dalam satu dekade ini, karena negara tersebut sedang bergulat pada kekurangan tenaga kerja dan tenaga terampil. Kamar Dagang dan Industri Australia mendukung langkah maju yang signifikan tersebut, yang dianggap sebagai keputusan yang sangat baik.

Selain itu, kebijakan imigrasi tersebut juga membantu bisnis dan industri dalam menghadapi krisis tenaga kerja yang meluas, serta mengurangi ketergantungan pada pekerja jangka pendek.

Kebijakan ini akan berlaku pada tahun fiskal 2022-2023 dan berakhir pada Juni 2023. Pada periode sebelumnya, batas tersebut hanya berkisar pada 160 ribu kuota.

Baca Juga: Pekerja Migran di Qatar Dideportasi karena Protes Gaji Tidak Dibayar

2. Krisis tenaga kerja berbagai sektor imbas pandemik COVID-19

Atasi Krisis Tenaga Kerja, Australia Genjot Kuota Migran PermanenIlustrasi virus COVID-19. (Unsplash.com/Martin Sanchez)

Pandemik COVID-19 yang melanda, berimbas pada kebijakan penutupan perbatasan negara selama hampir dua tahun lamanya dan memperburuk kesenjangan tenaga kerja di berbagai sektor. Sektor perhotelan, perawatan kesehatan, pertanian, dan perdagangan terampil yang paling terdampak.

Rumah sakit mengalami tekanan berat karena selama dua tahun terakhir, perawat Australia telah bekerja shift ganda dan tiga kali lipat. Krisis tenaga kerja juga membuat bandara menjadi kacau dan penerbangan dibatalkan karena kurangnya staf lapangan. 

Migran dari China, India, dan Inggris merupakan sumber pekerja migran utama di Negeri Kanguru, di mana mereka dibutuhkan guna mengisi berbagai posisi di Australia. Menurut BBC, terdapat lebih dari 480 ribu lowongan pekerjaan di Australia.

Saat ini, tingkat pengangguran di Australia berada di level terendah dalam hampir 50 tahun, menyentuh angka 3,4 persen. Namun, krisis tenaga kerja telah berkontribusi pada melonjaknya inflasi yang telah mengurangi upah riil, dilansir Reuters.

Baca Juga: Bus Pengangkut Migran Gelap Tabrak 2 Polisi di Bulgaria

3. Proses pemberian visa Australia yang lambat

Atasi Krisis Tenaga Kerja, Australia Genjot Kuota Migran PermanenIlustrasi visa yang disetujui. (pixabay.com/mohamed Hassan)

Ketimbang ke Australia, orang-orang lebih memilih Kanada dan Jerman untuk bermigrasi,. Negara-negara tersebut lebih memikat banyak tenaga kerja terampil.

Sedangkan, Australia justru membuat sekitar satu juta calon pekerja terjebak dalam ketidakpastian karena waktu pemrosesan visa yang lambat. Belum lagi, program imigrasi Australia, yang digambarkan O'Neil, sangat kompleks dengan lebih dari 70 program visa yang unik, seperti yang dikutip dari AP News.

Hal ini membuat pemerintah Australia akan mengambil langkah-langkah guna memangkas waktu tunggu visa dan memerangi eksploitasi pekerja migran.

Dalam upaya untuk mempercepat pemrosesan visa tersebut, Menteri Imigrasi Australia Andrew Giles mengatakan bahwa pemerintah akan menggelontorkan 36,1 juta dolar Australia (Rp365 miliar). Pemerintah akan meningkatkan kapasitas stafnya sebanyak 500 orang selama sembilan bulan ke depan.

Rahmah N Photo Verified Writer Rahmah N

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya