Comscore Tracker

Taliban Kuasai Kekayaan Alam Afghanistan yang Bernilai 1 Triliun Dolar

Afghanistan memiliki mineral senilai 1 triliun dolar AS

Jakarta, IDN Times – Jatuhnya Afghanistan dengan cepat ke tangan kelompok Taliban telah memicu krisis kemanusiaan. Ribuan orang mencoba melarikan diri dari negara itu. Kemenangan Taliban ini juga memunculkan pertanyaan baru mengenai kekayaan mineral besar Afghanistan yang belum dimanfaatkan.

Sumber daya tersebut diyakini dapat mengubah prospek ekonomi Afghanistan, yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia, jika dikembangkan.

Baca Juga: Taliban, Sarang Narkoba, dan Masa Depan Afghanistan

1. Afghanistan kaya dengan logam mulia dan sumber daya berharga yang dibutuhkan dunia

Taliban Kuasai Kekayaan Alam Afghanistan yang Bernilai 1 Triliun DolarIlustrasi Taliban (ANTARA FOTO/AFP/Noorullah Shirzada)

Pada 2010, pejabat militer dan ahli geologi Amerika Serikat (AS) mengungkapkan, negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Selatan ini memiliki cadangan mineral senilai hampir 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp14.500 triliun.

Pasokan mineral seperti besi, tembaga, dan emas itu tersebar di seluruh provinsi. Ada juga mineral tanah jarang (rare earth), dan juga diyakini memiliki salah satu cadangan lithium terbesar di dunia. Komponen penting tetapi langka ini biasanya digunakan dalam baterai isi ulang dan teknologi lain yang penting untuk mengatasi krisis iklim.

“Afghanistan tentu saja merupakan salah satu daerah yang kaya akan logam mulia tradisional, tetapi juga logam [yang dibutuhkan] untuk ekonomi yang muncul di abad ke-21,” kata Rod Schoonover, seorang ilmuwan dan pakar keamanan yang mendirikan Ecological Futures Group.

2. Banyak negara berminat olah sumber daya alam Afghanistan

Taliban Kuasai Kekayaan Alam Afghanistan yang Bernilai 1 Triliun DolarMantan Mujahidin memegang senjata untuk mendukung pasukan Afghanistan dalam perang mereka melawan Taliban, di pinggiran provinsi Herat, Afghanistan, Sabtu (10/7/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Jalil Ahmad.

Meski diyakini memiliki cadangan mineral besar, negara ini memiliki tantangan untuk memanfaatkan sumber daya alamnya (SDA) tersebut. Tantangan terbesar yakni masalah keamanan, kurangnya infrastruktur, dan kekeringan parah yang telah mencegah ekstraksi mineral paling berharga terjadi di masa lalu.

Semua tantangan ini dipercaya tidak akan dapat diatasi dengan cepat di bawah kendali Taliban. Namun, ada minat dari negara-negara termasuk Tiongkok, Pakistan, dan India, yang mungkin mencoba untuk terlibat meskipun mungkin akan menimbulkan kekacauan.

“Ini tanda tanya besar,” kata Schoonover, menurut CNN, Kamis (19/8/2021).

3. Ekonomi Afghanistan suram

Taliban Kuasai Kekayaan Alam Afghanistan yang Bernilai 1 Triliun DolarSeorang anak yang mengungsi dari provinsi bagian selatan, yang meninggalkan rumah akibat peperangan antara Taliban dengan aparat keamanan Afghanistan, tidur di taman umum yang digunakan sebagai penampungan di Kabul, Afghanistan, Selasa (10/8/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/FOC.

Meski kaya, tapi prospek ekonomi Afghanistan begitu suram. Bahkan sebelum Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa dia akan menarik pasukan AS dari Afghanistan awal tahun ini, yang ternyata menjadi jalan untuk Taliban kembali berkuasa.

Menurut laporan dari US Congressional Research Service yang diterbitkan Juni, pada 2020 diperkirakan 90 persen orang Afghanistan hidup di bawah tingkat kemiskinan yang ditentukan pemerintah dengan pengeluaran sebesar 2 dolar AS per hari. Dalam profil negara terbarunya, Bank Dunia mengatakan bahwa ekonomi Afghanistan tetap dibentuk oleh kerapuhan dan ketergantungan pada bantuan.

“Pengembangan dan diversifikasi sektor swasta dibatasi oleh ketidakamanan, ketidakstabilan politik, institusi yang lemah, infrastruktur yang tidak memadai, korupsi yang meluas, dan lingkungan bisnis yang sulit,” kata lembaga itu pada Maret.

4. Potensi besar Afghanistan

Taliban Kuasai Kekayaan Alam Afghanistan yang Bernilai 1 Triliun DolarPengiriman pasukan keamanan dari Kanada ke Afghanistan untuk mengevakuasi ribuan warga Afghanistan. (Twitter.com/GlobalNational)

Sementara itu, permintaan logam seperti lithium dan kobalt, serta elemen tanah jarang seperti neodymium, melonjak ketika berbagai negara mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi bersih lainnya untuk memangkas emisi karbon.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada Mei bahwa pasokan global lithium, tembaga, nikel, kobalt, dan elemen tanah jarang perlu meningkat tajam atau dunia akan gagal dalam upayanya untuk mengatasi krisis iklim. Tiga negara yakni Tiongkok, Republik Demokratik Kongo, dan Australia, saat ini menyumbang 75 persen dari produksi global lithium, kobalt, dan tanah jarang.

Menurut IEA, rata-rata mobil listrik membutuhkan mineral enam kali lebih banyak daripada mobil konvensional. Lithium, nikel, dan kobalt sangat penting untuk baterai. Jaringan listrik juga membutuhkan tembaga dan aluminium dalam jumlah besar, sementara elemen tanah jarang digunakan dalam magnet yang dibutuhkan untuk membuat turbin angin bekerja.

Pemerintah AS dilaporkan telah memperkirakan bahwa deposit lithium di Afghanistan dapat menyaingi yang ada di Bolivia, rumah bagi cadangan terbesar yang diketahui di dunia.

“Jika Afghanistan dalam beberapa tahun tenang, memungkinkan pengembangan sumber daya mineralnya, itu bisa menjadi salah satu negara terkaya di kawasan itu dalam satu dekade,” kata Mirzad dari Survei Geologi AS kepada majalah Science pada 2010. Dia memimpin Survei Geologi Afghanistan hingga 1979.

5. Lebih banyak rintangan

Taliban Kuasai Kekayaan Alam Afghanistan yang Bernilai 1 Triliun DolarANTARA FOTO/REUTERS/Omar Sobhani

Namun, ketenangan itu tidak pernah tiba, dan sebagian besar kekayaan mineral Afghanistan tetap berada di dalam tanah, kata Mosin Khan, seorang rekan senior nonresiden di Dewan Atlantik dan mantan direktur Timur Tengah dan Asia Tengah di Dana Moneter Internasional (IMF).

Meskipun telah ada kegiatan ekstraksi emas, tembaga, dan besi, langkah untuk mengeksploitasi litium dan mineral tanah jarang membutuhkan investasi dan pengetahuan teknis, serta waktu yang jauh lebih besar. IEA memperkirakan bahwa dibutuhkan rata-rata 16 tahun dari penemuan deposit untuk sebuah tambang hingga memulai produksi.

Saat ini, Afghanistan hanya menghasilkan 1 miliar dolar AS mineral per tahun, menurut Khan. Dia memperkirakan bahwa 30 persen hingga 40 persennya telah disedot oleh korupsi, serta oleh panglima perang dan Taliban, yang telah memimpin proyek pertambangan kecil.

Namun, ada kemungkinan Taliban menggunakan kekuatan barunya untuk mengembangkan sektor pertambangan, kata Schoonover.

“Bisa dibayangkan satu lintasan mungkin ada beberapa konsolidasi, dan beberapa penambangan ini tidak perlu lagi diatur,” katanya. Namun ia juga menambahkan bahwa ini mungkin tidak terjadi mengingat Taliban perlu mencurahkan perhatian pada berbagai masalah keamanan dan kemanusiaan.

“Taliban telah mengambil alih kekuasaan tetapi transisi dari kelompok pemberontak ke pemerintah nasional akan jauh dari mudah,” kata Joseph Parkes, analis keamanan Asia di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft.

“Tata kelola fungsional dari sektor mineral yang baru lahir kemungkinan akan berlangsung bertahun-tahun lagi.”

Khan sementara itu mengatakan bahwa investasi asing sulit didapat sebelum Taliban menggulingkan pemerintah sipil Afghanistan yang didukung Barat, dan sekarang, menarik modal swasta akan menjadi lebih sulit. Terutama karena banyak bisnis dan investor global berpegang pada standar lingkungan, sosial, dan tata kelola yang semakin tinggi.

“Siapa yang akan berinvestasi di Afghanistan ketika mereka tidak mau berinvestasi sebelumnya?” kata Khan. “Investor swasta tidak akan mengambil risiko.”

Selain itu, pembatasan AS juga bisa menghadirkan tantangan. Taliban belum secara resmi ditetapkan sebagai Organisasi Teroris Asing oleh Amerika Serikat. Namun, kelompok itu ditempatkan pada daftar Departemen Keuangan AS tentang Teroris Global yang Ditunjuk Secara Khusus dan daftar Warga Negara yang Ditunjuk Secara Khusus.

Baca Juga: Warga Afghanistan Cerita Pemandangan Mengerikan di Bandara Kabul

6. Peluang bagi Tiongkok?

Taliban Kuasai Kekayaan Alam Afghanistan yang Bernilai 1 Triliun DolarPenasihat Negara dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Mullah Abdul Ghani Baradar, kepala politik Taliban Afghanistan, di Tianjin, China, Rabu (28/7/2021). Gambar diambil (28/7/2021). ANTARA FOTO/Li Ran/Xinhua via REUTERS.

Proyek yang didukung negara yang sebagian dimotivasi oleh geopolitik bisa menjadi cerita yang berbeda. Tiongkok, pemimpin dunia dalam penambangan tanah jarang, mengatakan pada Senin bahwa pihaknya telah mempertahankan kontak dan komunikasi dengan Taliban.

“China, tetangga sebelah, memulai program pengembangan energi hijau yang sangat signifikan,” kata Schoonover. “Lithium dan tanah jarang sejauh ini tak tergantikan karena kepadatan dan sifat fisiknya. Mineral tersebut menjadi faktor dalam rencana jangka panjang mereka.”

Jika Tiongkok turun tangan, Schoonover mengatakan, akan ada kekhawatiran tentang keberlanjutan proyek pertambangan mengingat rekam jejak negara tersebut.

“Bila penambangan tidak dilakukan dengan hati-hati, itu dapat merusak ekologis, yang merugikan segmen tertentu dari populasi tanpa banyak suara,” katanya.

Khan mengatakan bahwa sebelumnya Tiongkok pernah mencoba berinvestasi dalam proyek tembaga yang kemudian terhenti. Untuk berinvestasi lagi, Tiongkok disebutnya akan skeptis karena ketidakstabilan yang sedang berlangsung.

Atas dasar itu, mitra RK Equity Howard Klein, yang memberi nasihat kepada investor tentang lithium, mengatakan bahwa Tiongkok jelas akan menargetkan celah lain.

“Saya percaya mereka akan memprioritaskan geografi baru/perbatasan lainnya jauh sebelum Afghanistan dipimpin Taliban,” katanya.

Topic:

  • Sunariyah
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya