Comscore Tracker

Fakta-fakta Memanasnya Hubungan Tiongkok-Australia

Hubungan memburuk di tengah pandemik COVID-19

Jakarta, IDN Times – Hubungan Australia dan Tiongkok telah memburuk selama setahun terakhir, setelah Australia bersikeras ingin menggelar penyelidikan untuk mengetahui asal-usul virus corona (COVID-19) meski Tiongkok telah menjelaskan kemungkinan asal dari wabah yang telah menginfeksi puluhan juta orang tersebut.

Namun demikian, pemerintah Tiongkok baru-baru ini mengeluarkan komentar yang memberi harapan bahwa hubungan kedua negara bisa diperbaiki.

Dalam sebuah bincang-bincang dengan mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengatakan bahwa kemerosotan dalam hubungan Tiongkok dengan Australia bukanlah sesuatu yang ingin dilihat negaranya. Ia juga menegaskan bahwa dia ingin hubungan itu kembali ke jalur yang benar secepat mungkin.

"Jika Australia melihat China sebagai ancaman, maka perbaikan hubungan ini akan sulit,” kata Wang, sebagaimana dilaporkan The Sydney Morning Herald, Kamis (31/12/2020). “Jika Australia melihat China bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai mitra, maka untuk masalah di antara kami ada peluang lebih baik untuk menemukan solusi. Jadi saya akan menyerahkannya ke Australia.”

“Kami berharap hubungan dapat kembali ke jalur yang benar secepat mungkin dan kami akan menyambut upaya semua pihak yang ingin hubungan meningkat untuk melakukan beberapa upaya,” katanya.

Baca Juga: Terus Diserang, Australia: Tiongkok Rusak Perjanjian Perdagangan Bebas

1. Penyebab hubungan kedua negara memburuk

Fakta-fakta Memanasnya Hubungan Tiongkok-AustraliaPersonel Satgas Mobile COVID-19 membawa pasien terjangkit virus Corona (COVID-19) saat simulasi penanganan pasien terjangkit Covid-19 di Desa Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (9/3/2020) (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/wsj)

Menurut The Guardian, hubungan Australia dengan Tiongkok mulai memburuk sejak pertengahan 2017. Namun banyak pihak yang berpendapat hubungan kedua negara semakin memburuk setelah Australia menyerukan keinginannya untuk mengadakan penyelidikan independen tentang asal-usul COVID-19.

Pada saat itu pemerintah Tiongkok telah menyebut bahwa asal-usul virus corona mungkin berasal dari hewan buas yang dijual di sebuah pasar di kota Wuhan. Namun Australia tetap merasa penyelidikan independen perlu dilakukan dan mengajak negara-negara dunia untuk bergabung. Langkah itu telah membuat pemerintahan Presiden Xi Jinping marah.

Setelah itu, Tiongkok meluncurkan serangkaian serangan pada berbagai sektor yang menopang perekonomian Australia, mulai dari pertanian, wisata, hingga pendidikan.

2. Serangan Tiongkok

Fakta-fakta Memanasnya Hubungan Tiongkok-AustraliaANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter

Sejak Australia menyerukan keinginannya untuk melakukan penyelidikan independen pada awal 2020, Tiongkok telah menerapkan serangkaian langkah yang ‘menghukum’ Australia. Salah satunya adalah menerapkan tarif pada sejumlah ekspor Australia. Beberapa produk yang terpengaruh di antaranya yaitu gandum, anggur, kapas, kayu, daging merah, batu bara, dan lobster.

Berikut rinciannya:

Gandum

Menurut CNBC, Tiongkok memberlakukan bea anti-dumping dan anti-subsidi hingga 80,5 persen terhadap gandum Australia pada Mei. Langkah itu secara efektif membuat produsen kedelai Australia keluar dari pasar Tiongkok.

Pada saat itu, Kementerian Perdagangan Tiongkok mengatakan telah melakukan penyelidikan di bidang itu sejak 2018. Mereka pun menemukan bahwa Australia melakukan dumping kedelai sehingga menyebabkan kerugian pada industri domestik mereka.

Pejabat pemerintah Australia membantah tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa petani mereka adalah yang paling sedikit disubsidi di antara negara-negara OECD. Australia juga telah meminta Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk menengahi perselisihan tersebut.

Anggur

Kementerian perdagangan Tiongkok pada November mengumumkan bea antidumping awal sebesar sekitar 107 persen hingga 212 persen untuk impor anggur dalam kemasan Australia. Langkah itu diumumkan setelah mereka melakukan penyelidikan anti-dumping terhadap impor anggur dari Australia. Pada awal Desember lalu, Tiongkok telah mengenakan tarif sementara tambahan sekitar 6,3 persen hingga 6,4 persen setelah melakukan penyelidikan terpisah ke skema subsidi anggur Australia.

Daging merah

Tiongkok menangguhkan impor dari satu perusahaan pemasok daging Australia pada Desember. Sebelumnya negara itu juga telah mengeluarkan larangan impor pada lima pemasok daging dengan alasan adanya masalah pelabelan dan sertifikat kesehatan.

Media lokal juga melaporkan pada Desember bahwa eksportir domba Australia mengatakan mereka tidak dapat masuk ke pasar Tiongkok karena ada pembatasan terkait COVID-19. Mereka juga mengatakan bahwa ekspor madu, buah, dan farmasi Australia ke Tiongkok terancam mengalami nasib yang sama.

Kapas

Dua kelompok industri kapas Australia pada Oktober mengatakan Tiongkok melarang pabrik pemintalannya menggunakan kapas yang diimpor dari Down Under. Tiongkok memiliki kuota impor sekitar 894.000 ton kapas yang dikenakan tarif minimal, menurut laporan Departemen Pertanian Amerika serikat (USDA). Untuk impor kapas di atas batas itu dikenakan bea sebesar 40 persen.

Pada saat itu menteri pertanian Australia mengatakan kepada CNBC bahwa pemerintah khawatir pejabat Tiongkok telah meminta pabrik pemintal untuk memblokir kapas Australia.

Kayu

Tiongkok telah melarang impor kayu dari negara bagian Queensland, Victoria, dan baru-baru ini, Australia Selatan dan Tasmania dengan alasan adanya hama yang ikut masuk bersama kayu impor tersebut.

“Kebiasaan China sejak Januari telah mendeteksi banyak kasus hama hidup pada kayu yang diimpor dari Australia, seperti kumbang longicorn dan buprestid. Hama hidup ini, jika dibiarkan masuk ke China, akan sangat membahayakan produksi kehutanan China dan keamanan ekologi,” kata juru bicara kementerian luar negeri China Wang Wenbin dalam konferensi pers 2 November, menyusul laporan larangan ekspor kayu Queensland.

“China telah memberitahu pihak Australia tentang kasus tersebut dan meminta Australia untuk menyelidiki dan mengambil tindakan untuk mencegah terulangnya kasus tersebut,” katanya lagi.

Batu bara

Outlet media Tiongkok mengatakan bahwa perencana ekonomi utama negara itu memberikan persetujuan kepada pembangkit listrik untuk mengimpor batu bara tanpa batasan izin kecuali untuk Australia, menurut laporan Reuters. Laporan itu muncul setelah Tiongkok dikabarkan mengimbau perusahaan utilitas milik negara dan pabrik baja untuk berhenti mengimpor batu bara Australia.

Batubara adalah ekspor terbesar ketiga Australia ke Tiongkok.

Lobster

Laporan media lokal pada November mengatakan berton-ton lobster hidup terdampar di bandara Tiongkok dan clearing house, menunggu pemeriksaan dari petugas bea cukai Tiongkok.

Grup Penasihat Perdagangan Makanan Laut Australia mengatakan bulan lalu bahwa industri tersebut untuk sementara menghentikan ekspor lobster batu ke Tiongkok. Mereka bekerja sama dengan otoritas Tiongkok dan Australia untuk menanggapi protokol inspeksi perbatasan baru Beijing. Grup tersebut juga mengatakan perencanaan juga sedang dilakukan untuk menemukan tujuan lain untuk lobster termasuk pasar domestik Australia.

Menurut laporan, pada tahun fiskal 2018-2019, Tiongkok menguasai sekitar 32,6 persen dari semua ekspor Australia - yaitu sekitar 153,2 miliar dolar Australia. Ekspor terbesar sejauh ini adalah bijih besi.

3. Pendidikan dan pariwisata ikut kena getahnya

Fakta-fakta Memanasnya Hubungan Tiongkok-Australia(Gedung Sydney Opera House di Australia) www.sydneyoperahouse.com

Selain menargetkan barang-barang dagangan Australia, Tiongkok juga telah melarang warganya untuk berwisata ke Australia tahun lalu. Selain itu, siswa Tiongkok juga telah diberitahu untuk mempertimbangkan negara lain sebagai tujuan pendidikan mereka di tengah wabah COVID-19.

Menurut BBC, pendidikan dan pariwisata adalah ekspor terbesar ketiga dan keempat Australia secara keseluruhan, dan penyumbang besar bagi perekonomian negara.

Siswa dari Tiongkok mewakili 28 persen dari lebih dari 750.000 siswa internasional di Australia pada 2019, mengutip data pemerintah.

4. Pernyataan Australia

Fakta-fakta Memanasnya Hubungan Tiongkok-AustraliaANTARA FOTO/Michael Franchi/Pool via REUTERS

Dari sisi Australia, pemerintah negara tersebut telah berulang kali menyatakan telah mengajak Tiongkok untuk berdiskusi dan berdamai, namun Tiongkok tidak menanggapi.

Pada Desember lalu, Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham, mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan Tiongkok telah merusak perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) milik kedua negara. Padahal menurut Birmingham, perjanjian perdagangan bebas mereka (China-Australia Free Trade Agreement/ChAFTA) telah memungkinkan peningkatan akses ke pasar Tiongkok dan melakukan serangkaian pemotongan tarif.

“Namun, pemerintah Australia menjadi semakin prihatin tentang serangkaian tindakan mengganggu dan membatasi perdagangan yang diterapkan oleh pemerintah China pada berbagai barang yang diimpor dari [Australia] dan gangguan ini telah meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir,” katanya, menurut The Guardian, Rabu (9/12/2020).

“Dalam pandangan pemerintah Australia, tindakan pemerintah China yang menargetkan pada barang-barang Australia menimbulkan kekhawatiran tentang kepatuhan China terhadap surat dan semangat Chafta dan kewajibannya [pada Organisasi Perdagangan Dunia].”

Baca Juga: WeChat Hapus Pesan Kritik dari PM Australia untuk Tiongkok

5. Tanggapan tokoh atas sinyal berbaikan dari Tiongkok

Fakta-fakta Memanasnya Hubungan Tiongkok-AustraliaANTARA FOTO/REUTERS/Jason Lee

Rory Medcalf, pemimpin National Security Colleges di Australian National University (ANU), memperingatkan bahwa komentar Wang seharusnya tidak ditafsirkan secara berlebihan sebagai semacam sinyal positif.

“Mereka paling lembut dan bersyarat,” kata Medcalf. “Tentu saja menyenangkan pada satu tingkat untuk menerima beberapa petunjuk bahwa China juga menginginkan hubungan yang stabil, tetapi intinya adalah bahwa perkataan Wang masih menempatkan semua tanggung jawab pada Australia,” tegasnya.

“Tidak ada pengakuan bahwa China menanggung kesalahan apa pun dalam kemerosotan hubungan ini, atau bahkan pengakuan bahwa mereka menggunakan langkah-langkah koersif yang sedang berlangsung--pembatasan ekonomi atau diplomasi sandera--terhadap negara-negara seperti Australia dan Kanada,” tambahnya.

Ia juga mengatakan bahwa Tiongkok belum menunjukkan niatan untuk berbaikan sepenuhnya.

“Dan pada akhirnya, semuanya tampaknya bergantung pada bagaimana Beijing memilih untuk mendefinisikan bagaimana Australia memperlakukan dan memandang China - seolah-olah ada pilihan sederhana antara semua ancaman dan semua mitra. Itu bukan titik awal yang sehat untuk hubungan pragmatis dan saling menguntungkan.”

Di sisi lain, Peter Jennings, dari Institut Kebijakan Strategis Australia, juga memiliki pandangan yang sama dengan Wang.

“Dia menghindari substansi apa pun dan hanya mengatakan ini semua adalah masalah sikap Australia,” katanya. “Tetapi Australia tidak menciptakan aneksasi militer China atas Laut China Selatan, kami juga tidak menemukan China sepenuhnya tentang mata-mata intelijen dunia maya dan manusia, atau pertumbuhan militer China yang tegas, atau pelanggaran massal hak asasi manusia kelompok minoritas di China,” paparnya.

Baca Juga: Karena Gambar Palsu di Twitter, Australia Tuntut Tiongkok Minta Maaf

Topic:

  • Rehia Sebayang
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya