Comscore Tracker

KADIN: 2022 Masih Menjadi Tahun yang Penuh Ketidakpastian

Pengendalian pandemik masih belum merata di seluruh dunia

Jakarta, IDN Times – Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pandemik COVID-19 masih akan membayangi pemulihan ekonomi global, serta pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun 2022.

“Meskipun lintasan global kuat menuju pemulihan, kita harus mengakui bahwa 2022 juga merupakan tahun ketidakpastian karena pengendalian pandemik yang tidak merata di seluruh dunia dan melemahnya momentum rebound ekonomi,” katanya dalam webinar Economic Forecast and Business Opportunities in China 2021-2022, Senin (25/10/2021).

Baca Juga: Ada RCEP, Hubungan Ekonomi RI-China Diprediksi Bakal Makin 'Mesra'

1. Stimulus global mulai berkurang

KADIN: 2022 Masih Menjadi Tahun yang Penuh Ketidakpastian(Ilustrasi stimulus ekonomi) IDN Times/Mia Amalia

Sinta juga mengatakan jika ada negara yang masih memberikan dukungan pemerintah yang kuat terhadap pemulihan, maka sebagian besar dukungan ini akan berakhir atau berkurang secara signifikan pada 2022. Penyebabnya adalah karena keterbatasan kemampuan pembiayaan pemerintah.

Ia juga menyebut bahwa sebagian besar negara berkembang seperti Indonesia tidak akan lagi dapat memberikan banyak stimulus ekonomi karena utang publik menumpuk dan ada defisit transaksi berjalan yang besar dalam dua tahun terakhir di tengah pandemik.

“Pemulihan ekonomi tersebut akan sangat bergantung pada produktivitas domestik dan normalisasi permintaan serta kemampuan negara untuk memanfaatkan potensi pasar global melalui peningkatan kinerja perdagangan dan investasi,” jelasnya.

2. Peran teknologi semakin besar

KADIN: 2022 Masih Menjadi Tahun yang Penuh KetidakpastianIlustrasi Belanja Online/Belanja di e-commerce. (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam pemaparannya, Sinta juga mengatakan bahwa teknologi akan menjadi bagian yang lebih besar dari kehidupan masyarakat dunia dan perekonomian karena digitalisasi akan menyebar di semua aspek kehidupan sehari-hari. Ia juga mengatakan bahwa percepatan adopsi Industri 4.0 akan sangat penting bagi daya saing ekonomi Indonesia di era pasca pandemik.

Ia juga menjelaskan meskipun Indonesia dapat melakukan pengadaan atau memasok teknologi dari banyak tempat, China telah menjadi pemasok alternatif teknologi yang kompetitif terhadap teknologi barat. Meski demikian, ia juga menekankan bahwa ketergantungan Indonesia pada teknologi asing juga bisa jadi peluang untuk mempercepat adopsi teknologi dan partisipasi Indonesia dalam manufaktur teknologi.

“Dalam konteks ini, kemampuan Indonesia untuk mencapai tren pasar China dan agresivitas untuk memanfaatkan peluang ekonomi China akan menjadi kunci bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tahun 2022 dan seterusnya,” ujarnya.

Baca Juga: Angka Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi China Terpangkas

3. Indonesia - China masih berpeluang meningkatkan hubungan di bidang ekonomi

KADIN: 2022 Masih Menjadi Tahun yang Penuh KetidakpastianIlustrasi Investasi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Sinta lebih lanjut mengatakan bahwa dalam pandangannya, sejauh ini kehadiran Indonesia di China tidak sekuat kehadiran China di Indonesia. Oleh karena itu, ia mengatakan KADIN yakin bahwa kedua negara masih dapat meningkatkan hubungannya, terutama dalam bidang ekonomi.

“KADIN Indonesia melihat bahwa hubungan ekonomi Indonesia-China memiliki banyak ruang untuk berkembang,” katanya.

Baca Juga: Ada RCEP, Hubungan Ekonomi RI-China Diprediksi Bakal Makin 'Mesra'

Topic:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya