Comscore Tracker

Melihat Pesona Vanilla Indonesia dari Mata Pengusaha Muda asal AS

Zach Schwindt pasarkan vanilla Indonesia ke AS

Jakarta, IDN Times – Berpetualang keliling dunia untuk mencari vanilla merupakan salah satu hobi dari pengusaha muda asal Colorado, Amerika Serikat (AS), Zach Schwindt. Namun, siapa sangka, dari lebih dari 28 negara di seluruh dunia yang pernah dikunjunginya sebelum usianya mencapai 22 tahun, Zach akhirnya jatuh cinta pada vanilla Indonesia.

Kecintaannya pada vanilla Indonesia itu tidak lepas dari pertemuannya dengan Rommy Senduk, pengusaha dan petani vanilla asal Desa Rerer, Minahasa, Sulawesi Utara. Dari Rommy, Zach akhirnya mengetahui lebih banyak soal vanilla Indonesia dan bagaimana kehidupan para petani di desa itu. Dari sana, dia akhirnya bersedia untuk menetap lama dan mendidik para petani untuk dapat menghasilkan vanilla terbaik yang layak ekspor.

Bagaimana perjuangan Zach dan Rommy membawa vanilla Minahasa ke Amerika dan mancanegara? Berikut kisahnya.

Baca Juga: 5 Peluang Bisnis Menjanjikan Jelang Natal, Bikin Untung!

Baca Juga: Indonesia Berpotensi Cuan Besar dari Bisnis 'Emas Hijau'

1. Berkenalan dengan Rommy

Melihat Pesona Vanilla Indonesia dari Mata Pengusaha Muda asal ASPendiri Narasi Pangan Rommy Senduk dan pengusaha AS Zach Schwindt

Instagram berperan penting dalam mempertemukan Zach yang berada di Colorado dengan Rommy yang berada di Desa Rerer. Sebab, melalui postingan Rommy tentang vanilla di Instagram-lah perkenalan keduanya dimulai.

Zach mengatakan dirinya yang pertama menghubungi Rommy setelah melihat postingan vanilla di Instagram pria yang juga bekerja sebagai General Manager di salah satu hotel bintang 5 di Manado tersebut. Dari situ, keduanya pun banyak berbagi pengetahuan soal vanilla Desa Rerer hingga akhirnya Rommy mengajaknya berkunjung dan ia pun terbang ke Indonesia pada awal 2019.

“Pada dasarnya saya sedang dalam perjalanan backpacking dan melakukan kontak dengan Rommy melalui Instagram. Saya sedang dalam perjalanan ke Jawa dan sejumlah wilayah di Bali, mencari vanilla dan sebenarnya saya tidak pernah berpikir Sulawesi Utara adalah tempat vanilla. Indonesia adalah negara yang sangat besar dan saya selalu berpikir mungkin Sumatera Utara, mungkin Flores. Ada banyak tempat yang perlu dijelajahi,” kata pemilik bisnis Origin Vanilla tersebut.

“Namun, saya melihat foto yang dia posting. Saya melihat biji vanili di foto itu dan saya berpikir ‘wow, itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan’ dan saya tidak tahu apakah saya harus melihatnya sendiri. Kemudian, saya pergi menghubungi Rommy dan kami bertemu di bandara,” lanjutnya.

Zach mengatakan dirinya tinggal di rumah Rommy selama 3,5 minggu lamanya dan selama itu ia banyak belajar tentang vanilla Desa Rerer hingga dipertemukan dengan para petani secara langsung. Ia juga turut melihat proses penanaman hingga panen.

Menyadari minimnya ilmu yang dimiliki para petani vanilla di desa itu, ia akhirnya bekerja sama dengan Rommy untuk membimbing dan mengajari para petani tentang cara membudidayakan vanilla--atau dikenal sebagai vanili di Indonesia--dengan baik hingga layak ekspor.

2. Memasarkan vanilla ke mancanegara

Melihat Pesona Vanilla Indonesia dari Mata Pengusaha Muda asal ASOrigin Vanilla

Lewat kerja sama dengan Narasi Pangan yang didirikan oleh Rommy, Zach akhirnya bisa melakukan impor vanilla Indonesia ke negaranya, Amerika Serikat. Ia mengatakan saat ini, perusahaannya sedang mencoba untuk memperoleh 100 persen sumber biji vanillanya (vanilla beans) dari Narasi Pangan, sebab tidak hanya karena kualitas biji vanilla yang dihasilkan sangat memuaskan, tapi juga karena ia bisa melihat semua proses budi daya dari awal sampai akhir.

“Sebenarnya, yang terjadi adalah saya memiliki perusahaan bernama Origin Vanilla. Ini didirikan oleh saya, dan Rommy adalah mitra yang merupakan mitra sumber. Di sinilah asal semua vanilla, secara efektif, dan di AS yang kami lakukan hanyalah memproduksi produk bernilai tambah seperti produk bubuk vanili, pasta vanilla,” jelasnya.

“Tapi menurut saya, Rommy benar-benar sumbernya semua vanilla kami. Kami telah mengimpor dari wilayah lain di Indonesia tetapi Rommy sedang mentransisikannya ke… semoga 100 persen vanilla itu berasal dari Rommy. [Alasannya] mungkin karena bukan hanya kualitasnya yang unggul tetapi saya juga bisa mengatakan itu karena kami dapat melihat semuanya dari A hingga Z,” terang Zach yang juga bekerja di salah satu perusahaan importir bahan pangan terbesar di AS, Smirk's Ltd.

Di AS, Zach memiliki sejumlah pelanggan tetap yang membeli vanilla Indonesia hasil impornya, termasuk Ladybird Provisions, Switch Grocery, Bjorn's Honey Company, Smirk's, Table Mountain Farm, Sati Cold, Brew Coffee, dan June Poppies.

“Jadi ketika kamu pergi ke toko grosir, terkadang kamu akan melihat produk yang tidak memiliki stiker Origin atau Narasi tetapi masih ada vanilla ini di dalamnya,” jelasnya.

Baca Juga: Kisah Sukses Bisnis Ternak Sapi Perah hingga Generasi Ketiga

3. Proses ekspor yang menantang

Melihat Pesona Vanilla Indonesia dari Mata Pengusaha Muda asal ASOrigin Vanilla

Pria kelahiran 1996 itu lebih lanjut menceritakan bahwa proses mengimpor vanilla Indonesia ke AS bukanlah hal mudah. Ia harus memenuhi banyak sekali persyaratan yang ditetapkan pemerintah Amerika, termasuk mendaftarkan para petani yang membudidayakan vanilla ke Badan Pengawas Obat dan Makanan negara itu (Food and Drug Administration/FDA).

“Saya pikir kendala terbesar yang saya hadapi di awal adalah memastikan bahwa petani kami dan mitra petani kami disertifikasi dan terdaftar di FDA dan setiap petani yang kami libatkan harus memiliki nomor FDA sehingga itu adalah masalah terbesar nomor satu saya di awal. Membuat yakin bahwa semua orang mematuhi FDA,” ungkapnya.

“Pada awalnya saya berpikir, ‘Oh, semuanya siap. Kami memiliki semua vanilla kami, saatnya untuk mengirimkannya ke rumah (AS)'. Ternyata tidak semudah itu. Kami harus mengisi banyak dokumen, vanilla dihentikan di bea cukai saat pertama kali kami mencoba untuk mengimpor dan bahkan kami harus mengisi banyak dokumen dan vanilla harus dikirim kembali (ke Indonesia),” sambung Zach.

Ia juga mengatakan bahwa pengiriman vanilla dari Indonesia ke AS cukup sulit dilakukan, mengingat jarak yang membentang dan juga ketidakpastian yang bisa terjadi di perjalanan.

“Beberapa kali kami mengalami masalah di mana biji vanilla menjadi berjamur saat kami mengirimkannya ke luar negeri. Untungnya kami telah mempelajari cara-cara untuk mengatasinya. Kami dapat mengirimkan biji vanilla berjamur ke fasilitas dan mensterilkannya. Kami membunuh jamur itu dan kemudian kami bisa mengubah biji vanilla menjadi bubuk atau ekstrak. Pada saat itu kami tidak dapat menjual dalam bentuk biji vanilla, tapi setidaknya masih bisa lulus uji lab pada pada saat itu,” katanya.

4. Bersaing dengan vanilla sintetis

Melihat Pesona Vanilla Indonesia dari Mata Pengusaha Muda asal ASVanilla beans Narasi Pangan

Sebagai importir biji vanilla asli, Zach mengatakan bahwa salah satu tantangan terberat dalam memasarkan produk vanillanya adalah adanya vanilla imitasi atau vanilla sintetis yang jauh lebih murah di pasaran. Harga vanilla sintetis itu bisa berkali-kali lipat lebih murah dibandingkan vanilla asli seperti yang ia peroleh dari para petani Minahasa.

“Misalnya, Anda pergi ke supermarket di AS. Anda akan melihat dua opsi berbeda di supermarket. Anda menemukan vanili sintetis dan Anda juga menemukan vanilla alami [dijual]. Keduanya berukuran sama. Salah satunya adalah 8 ons, yang lainnya 8 ons, tetapi salah satunya harganya sekitar 97 sen yang setara dengan sekitar Rp12 ribu, tidak terlalu mahal, dan yang lainnya sekitar 30 dolar AS yang mana sekitar Rp310 ribu. Jadi ini adalah perbedaan [harga] yang sangat besar antara vanili sintetis dan vanilla alami,” jelasnya.

Hal yang lebih menantang, lanjutnya, adalah fakta bahwa saat ini ada lebih banyak vanilla sintetis di pasaran dan bahwa bentuknya sama persis dengan vanilla asli. Menurut Zach, ada dua jenis vanili sintetis yang dijual di pasaran saat ini, yaitu produk vanilla yang memiliki warna gelap dan warna terang.

“Vanilla warna terang sering digunakan untuk frosting karena warnanya putih. Jadi orang tidak ingin menggunakan warna gelap dan alami. Sebagian besar vanili sintetis hanyalah vanillin,” jelasnya.

“Vanillin adalah senyawa yang ditemukan di vanilla. Itu menyerupai rasa vanilla dan biasanya diekstrak dari kayu. Begitulah cara melakukannya, dan juga cengkeh. Ada juga produk lain seperti yang Rommy dan saya pernah baca bahwa beberapa perusahaan akan mengekstrak sedikit vanilin dari cengkeh hanya untuk mereproduksi perasa buatan dalam vanilla. Ini cara yang sangat murah,” katanya lagi.

Baca Juga: 6 Manfaat Vanilla, Gak Hanya Jadi Aroma dan Perasa Makanan

5. Ragam kelas dan harga vanilla

Melihat Pesona Vanilla Indonesia dari Mata Pengusaha Muda asal ASPemilik Origin Vanilla Zach Schwindt dan petani Desa Rerer

Zach lebih lanjut menjelaskan bahwa harga biji vanilla akan tergantung pada setiap kelasnya (grade). Di mana biji vanilla grade A, yang besar dan lebih lembab, umumnya akan dihargai lebih mahal. Sementara grade C biasanya akan diekstrak menjadi produk bubuk atau pasta karena peminatnya tidak sebanyak grade A.

“Grade C harganya tidak terlalu mahal jika dijual ke end-consumer. Jika Anda membeli vanilla beans untuk end consumer di AS atau Eropa, Anda ingin vanilla beans itu bagus dan besar. Anda tidak mau itu terlihat tidak bagus. Intinya kami ingin yang hampir sempurna,” katanya.

Namun demikian, ia mengatakan alasan diolahnya grade C menjadi produk bernilai tambah bukan karena grade C adalah jenis vanilla yang buruk, tapi karena kandungannya lebih cocok untuk diolah.

“Jika perusahaan Anda ingin membuat ekstrak vanili, Anda dapat menghasilkan lebih banyak ekstrak dengan membeli grade C daripada dengan membeli grade A,” katanya.

“Dan fakta mengapa kita menggunakan grade C, sebenarnya tidak ada cara lain untuk menggunakan grade C karena jika kita tawarkan kepada seseorang, biasanya akan diolah menjadi pasta, bubuk, atau ekstrak,” lanjut mantan jurnalis foto itu.

Baca Juga: Cerita Petani Minahasa dan Pebisnis AS Bawa Vanilla Indonesia Mendunia

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya