Comscore Tracker

Perempuan Lebih Banyak Kehilangan Pekerjaan akibat COVID-19

Dampak negatif COVID-19 lebih parah pada perempuan

Jakarta, IDN Times – Pandemik COVID-19 memiliki dampak negatif yang lebih parah pada perempuan daripada laki-laki. Menurut Laporan Kesenjangan Gender Global 2021 Forum Ekonomi Dunia (WEF), yang mengutip data Organisasi Perburuhan Internasional, perempuan kehilangan pekerjaan pada tingkat yang lebih tinggi akibat pandemik, yaitu 5 persen dibandingkan 3,9 persen pada laki-laki.

Itu terjadi sebagian karena representasi mereka yang tidak proporsional di sektor-sektor yang secara langsung terganggu oleh penguncian (lockdown), seperti sektor konsumen.

Data dari Amerika Serikat (AS) juga menunjukkan bahwa perempuan dari kelompok ras dan etnis yang secara historis kurang beruntung terkena dampak paling parah.

Baca Juga: Hari Perempuan Internasional 2021: Ajak Perempuan untuk Sadar Pilihan

1. Beban perempuan lebih berat

Perempuan Lebih Banyak Kehilangan Pekerjaan akibat COVID-19Ilustrasi Buffering (IDN Times/Arief Rahmat)

Data dari survei Ipsos menunjukkan bahwa saat banyak tempat penitipan ditutup akibat pandemik sehingga perempuan harus mengurus anaknya, mereka juga harus melakukan pekerjaan lain seperti mengurus rumah tangga dan mengasuh orang tua.

Beban kerja yang tidak proporsional pada perempuan itu berkontribusi pada tingkat stres yang lebih tinggi dan tingkat produktivitas yang lebih rendah.

Di sisi lain, data LinkedIn menunjukkan bahwa saat pasar kerja pulih, perempuan dipekerjakan pada tingkat yang lebih lambat di berbagai industri.

“Mereka juga cenderung tidak dipekerjakan untuk peran kepemimpinan, yang mengakibatkan pembalikan kemajuan hingga dua tahun,” menurut laporan itu.

2. Representasi perempuan dalam pekerjaan baru

Perempuan Lebih Banyak Kehilangan Pekerjaan akibat COVID-19Ilustrasi hari perempuan (IDN Times/Arief Rahmat)

Representasi perempuan dalam pekerjaan baru seperti yang berhubungan dengan teknologi juga cenderung rendah. Padahal sektor ini memiliki peluang untuk tumbuh cepat di masa depan.

Dalam komputasi awan, misalnya, perempuan merupakan 14 persen dari angkatan kerja; di bidang teknik, 20 persen; dan dalam data dan kecerdasan buatan, 32 persen.

“Dan lebih sulit bagi perempuan untuk beralih ke peran-peran yang semakin populer ini daripada laki-laki,” menurut WEF.

Baca Juga: 5 Perempuan Terkaya di Dunia versi Forbes 

3. Mendapat gaji yang lebih rendah

Perempuan Lebih Banyak Kehilangan Pekerjaan akibat COVID-19Ilustrasi Perdagangan Perempuan (IDN Times/Mardya Shakti)

Selain dalam hal terkait teknologi, pekerjaan seperti peran perawatan dan pendidikan juga menawarkan area pertumbuhan di masa depan. Dalam hal ini perempuan memiliki keterlibatan yang lebih kuat, namun mereka seringkali mendapat peran dengan gaji lebih rendah daripada pekerjaan lain di masa depan.

Menanggapi ini, Sue Duke, Kepala Kebijakan Publik Global di LinkedIn mengatakan bahwa masalah ketidaksetaraan gender dalam pekerjaan akan lebih besar saat dunia keluar dari pandemik.

“Peran ini memainkan peran penting dalam membentuk semua aspek teknologi dan cara penerapannya di dunia. Kami hanya perlu membuat suara dan perspektif perempuan terwakili pada tahap dasar ini, terutama saat digitalisasi semakin cepat. Perusahaan dan pemerintah perlu membangun keragaman, kesetaraan, dan penyertaan ke dalam rencana pemulihan mereka,” katanya, Rabu (31/3/2021).

“Menilai kandidat berdasarkan keterampilan dan potensi mereka, dan bukan hanya pengalaman kerja langsung dan kualifikasi formal mereka, adalah inti dari itu. Perekrutan berbasis keterampilan adalah kunci jika kita ingin membuat ekonomi dan masyarakat kita lebih inklusif,” tambah Duke.

Sementara Natalie Lacey, Chief Operating Officer Global Affairs Ipsos mengatakan bahwa pandemik telah memperburuk ketidaksetaraan dalam tanggung jawab rumah tangga, mekanisme kompensasi dan kesempatan kerja. Ini terjadi terlebih lagi di antara kelompok perempuan tertentu termasuk pengasuh dan mereka yang bekerja paruh waktu dan lingkungan kerja yang tidak fleksibel.

“Tantangan bagi organisasi bukan hanya bagaimana memulihkan diri dari pandemi tetapi untuk mengatasi masalah sistematis jangka panjang yang menciptakan ketidaksetaraan di seluruh angkatan kerja,” katanya.

Baca Juga: 5 CEO Perempuan di Perusahaan Ternama Indonesia

Topic:

  • Rehia Sebayang
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya