Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Stagnan Atas Dolar AS

Rupiah masih bertengger di level Rp14.417 per dolar AS

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah berhasil mengimbangi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. Pada penutupan perdagangan akhir pekan atau Jumat (27/8/2021), kurs rupiah ditutup stagnan atas dolar AS.

Mengutip Bloomberg, mata uang Garuda ditutup pada level yang sama pada penutupan perdagangan Kamis (26/8/2021), yakni Rp14.417.

Kurs rupiah sendiri dibuka melemah 8 poin ke level Rp14.425 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi.

Baca Juga: Jelang Pidato Ketua The Fed, Rupiah Terkulai Lemas Lawan Dolar AS

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Stagnan Atas Dolar ASIlustrasi Uang Rupiah (IDN Times/Hana Adi Perdana)

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada Jumat (27/8/2021), nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp14.431 per dolar AS.

Angka ini lebih tinggi dari kurs rupiah pada Kamis (26/8/2021) yang ada di level Rp14.423 per dolar AS.

Baca Juga: Instrumennya Sama, Ini Perbedaan Investasi dan Trading Saham

2. Rupiah berpotensi melemah pada pembukaan pekan depan

Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Stagnan Atas Dolar ASIlustrasi uang, rupiah (IDN Times/Shemi)

Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra menilai bahwa rupiah berpotensi memulai perdagangan awal pekan depan dalam posisi melemah.

Hal itu sebagai imbas dari sentimen penguatan dolar AS pasca pidato Ketua Federal Reserve, Jerome Powell yang akan dilangsungkan nanti malam.

Powell diketahui bakal menyampaikan tentang kebijakan moneter AS ke depannya di depan gelaran acara Jackson Hole.

"Pasar kelihatannya berkonsolidasi mengantisipasi kemungkinan Powell akan mengindikasikan tapering akan dimulai di akhir tahun ini," kata Pengamat Pasar Keuangan, Ariston Tjendra, kepada IDN Times, Jumat pagi.

3. Kebijakan tapering jadi kunci penguatan mata uang dolar AS

Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Stagnan Atas Dolar ASIlustrasi dolar AS (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Ariston menambahkan, kebijakan tapering dengan mengurangi pembelian aset atau obligasi bakal mengurangi likuiditas dolar AS di pasar.

Dengan demikian, hal tersebut akan mampu mendorong penguatan mata uang Negeri Paman Sam.

"Tapering ini juga nantinya akan berlanjut ke kebijakan kenaikan suku bunga AS yang tentunya akan memicu para pelaku pasar untuk mengalkulasi ulang risiko dan posisinya di pasar keuangan," ujar Ariston.

Baca Juga: Sentimen Tapering Bikin Rupiah Terkapar Hadapi Dolar AS

Topik:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya