Comscore Tracker

Kasus Evergrande Bikin Rupiah Menguat Tipis Atas Dolar AS

Rupiah menguat ke level Rp14.252 per dolar AS

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah berhasil mengungguli dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. Pada penutupan perdagangan awal pekan atau Senin (27/9/2021), kurs rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS.

Mengutip Bloomberg, mata uang Garuda ditutup menguat tipis 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.252 per dolar AS.

Kurs rupiah sendiri dibuka terkoreksi tipis tiga poin ke level Rp14.260 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin pagi. Sementara, pada penutupan sebelumnya yakni Jumat (24/9/2021), rupiah berada pada level Rp14.257 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Lawan Dolar AS Jelang Akhir Pekan

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Kasus Evergrande Bikin Rupiah Menguat Tipis Atas Dolar ASIlustrasi Kurs Rupiah. (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada Senin (27/9/2021), nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp14.258 per dolar AS.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan kurs rupiah pada Jumat (24/9/2021) yang ada di level Rp14.250 per dolar AS.

2. Perbaikan sentimen bikin rupiah perkasa lawan dolar AS

Kasus Evergrande Bikin Rupiah Menguat Tipis Atas Dolar ASIlustrasi Uang Rupiah (IDN Times/Hana Adi Perdana)

Menurut pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra, penguatan rupiah pada penutupan perdagangan sore tak terlepas dari membaiknya sentimen pasar keuangan global.

"Sentimen pasar keuangan global terhadap aset berisiko terlihat membaik sejak pagi ini dengan menguatnya indeks saham Asia dan nilai tukar regional terhadap dolar AS," ujar Ariston, kepada IDN Times.

Baca Juga: IHSG Ditutup Anjlok karena Faktor Krisis Evergrande

3. Evergrande bikin penguatan rupiah tidak terlalu besar

Kasus Evergrande Bikin Rupiah Menguat Tipis Atas Dolar ASIlustrasi Uang. (IDN Times/Ita Malau)

Di sisi lain, penguatan rupiah terhadap dolar hari ini yang sangat tipis disebabkan oleh kasus Evergrande di China.

Padahal, kata Ariston, situasi pandemik COVID-19 di dalam negeri yang terus membaik telah berhasil memberikan penguatan kepada rupiah.

"Penguatan tidak terlalu dalam karena pasar masih mengkhawatirkan potensi gagal bayar Evergrande dan sikap Bank Sentral AS yang akan menjalankan tapering akhir tahun ini," ujar Ariston.

Baca Juga: Sri Mulyani Waspadai Gagal Bayar Perusahaan China Evergrande 

Topic:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya