Comscore Tracker

CEO TikTok Resmi Mengundurkan Diri

TikTok jadi sasaran politik antara Washington dan Beijing

Jakarta, IDN Times - CEO TikTok Kevin Mayer resmi mengundurkan diri pada Rabu tengah malam waktu Amerika Serikat (27/8/2020). Pengunduran diri Mayer sudah sempat terdengar sejak beberapa jam sebelumnya ketika platform video pendek tersebut berjuang melawan perintah eksekutif Presiden Donald Trump.

Melansir Financial Times, Mayer telah mengirimkan memo internal kepada para karyawan TikTok bahwa dirinya memilih mundur dari posisinya. Untuk sementara, General Manager Vanessa Pappas akan menggantikan Mayer memimpin TikTok di tengah periode yang membuat perusahaan asal Tiongkok itu jadi sorotan publik selama beberapa bulan terakhir.

1. Mayer mengakui situasi politik telah memengaruhi keputusannya untuk mundur

CEO TikTok Resmi Mengundurkan DiriIlustrasi TikTok. IDN Times/Arief Rahmat

Baca Juga: Zhang Yiming, Bos Tik Tok Tempati Urutan ke-70 Orang Terkaya di Dunia

Perusahaan induk TikTok, ByteDance, menjadikan Mayer sebagai CEO pada pertengahan Mei lalu. Sebelumnya, ia merupakan chairman untuk layanan streaming seperti Disney+ dan Hulu. Pengalamannya dalam membuat dua platform itu melejit membuat ByteDance percaya ia bisa menakhkodai TikTok di Amerika Serikat.

Mayer juga diberi tanggung jawab untuk menjadi COO ByteDance yang bertugas mendorong pengembangan secara global, termasuk di bidang musik dan game. Ia resmi menjabat pada 1 Juni. Namun, belum genap tiga bulan, Mayer memutuskan untuk mengakhiri masa jabatannya.

"Dalam beberapa minggu terakhir, kondisi politik berubah drastis, saya telah melakukan perenungan yang signifikan tentang perubahan struktural korporat apa yang akan diperlukan, dan apa artinya bagi peran global yang saya emban," kata Mayer dalam suratnya kepada para karyawan.

"Dengan latar belakang ini, dan sebagaimana kita harapkan untuk mencapai suatu penyelesaian masalah secepatnya, dengan berat hati saya ingin Anda tahu bahwa saya telah memutuskan untuk meninggalkan perusahaan,"  dia menambahkan.

2. Perusahaan menghargai keputusan Mayer

CEO TikTok Resmi Mengundurkan DiriIlustrasi. unsplash.com/Kon Karampelas

Juru bicara TikTok mengatakan kepada Engadget bahwa perusahaan mengapresiasi keputusan Mayer dan apa yang telah dilakukannya selama menjadi CEO.

"Kami mengapresiasi bahwa dinamika politik dalam beberapa bulan terakhir telah secara signifikan mengubah ranah peran Kevin ke depan, dan sangat menghormati keputusannya. Kami berterima kasih atas waktunya selama berada di perusahaan dan mendoakan yang terbaik untuknya," kata juru bicara tersebut.

Mayer mengaku CEO ByteDance Zhang Yiming mengerti mengapa ia tak lagi memimpin TikTok.

"Saya ingin ini jelas bahwa keputusan saya tak ada hubungannya dengan perusahaan, apa yang saya lihat tentang masa depan kami, atau kepercayaan yang saya punya terhadap apa yang kami bangun. Yiming mengerti keputusan saya dan saya berterima kasih atas dukungannya," kata Mayer.

3. TikTok menggugat pemerintah Amerika Serikat

CEO TikTok Resmi Mengundurkan DiriIlustrasi. unsplash.com/Kon Karampelas

TikTok sendiri sedang menjadi sasaran politik antara Washington dan Beijing, terutama setelah Trump mengeluarkan perintah eksekutif. Di dalamnya, Trump mengatakan TikTok tidak bisa lagi beroperasi di Amerika Serikat, kecuali menjualnya kepada perusahaan lokal.

Microsoft sebagai salah satu raksasa teknologi dunia sudah mengungkapkan ketertarikan untuk membeli bisnis TikTok di negara tersebut. Sementara, ByteDance merasa sikap pemerintah Amerika Serikat tidak adil. Bahkan, Beijing sampai urun bicara dengan menuding Washington melakukan perampokan di siang bolong.

Oleh karena itu, pada Senin (24/8/2020), TikTok resmi menggugat pemerintah Amerika Serikat. Lewat rilis pers di situs resmi, TikTok menjelaskan alasan mengapa perintah eksekutif itu tidak serta-merta dipatuhi.

"Hari ini, 100 juta orang Amerika memakai TikTok untuk hiburan, inspirasi, dan menjalin koneksi; tak terhitung berapa kreator bergantung kepada platform kami untuk mengekspresikan kreativitas mereka, menjangkau audiens lebih luas, dan mendapatkan penghasilan," kata TikTok.

"Lebih dari 1.500 karyawan kami di Amerika Serikat mencurahkan hati mereka untuk membangun platform ini setiap hari, dengan lebih dari 10.000 orang yang rencananya akan bekerja di California, Texas, New York, Tennessee, Florida, Michigan, Illinois, dan Washington."

"Perintah Eksekutif yang dikeluarkan oleh pemerintah pada 6 Agustus 2020 berpotensi menelanjangi hak-hak komunitas itu tanpa bukti untuk menjustifikasi aksi ekstrem tersebut, dan tanpa ada proses penyelidikan."

Baca Juga: Trump Resmi Larang Operasional TikTok dan WeChat di Amerika Serikat

Topic:

  • Umi Kalsum
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya