Comscore Tracker

Telkom Tetap Investasi ke Startup di Tengah Restrukturisasi Global 

Telkom berinvestasi secara selektif

Jakarta, IDN Times - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. akan tetap berinvestasi pada perusahaan rintisan atau startup di tengah gelombang restrukturisasi yang menimpa startup-startup secara global.

Ledakan gelembung (bubble burst) di dunia startup (perusahaan rintisan) sedang menjadi perbincangan, menyusul kabar terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah startup Tanah Air, sebut saja LinkAja, TaniHub, dan Zenius Education.

1. Telkom selektif untuk berinvestasi

Telkom Tetap Investasi ke Startup di Tengah Restrukturisasi Global Ilustrasi Startup (IDN Times/Aditya Pratama)

Tentunya, Telkom akan lebih berhati-hati atau selektif dalam melakukan investasi terhadap startup-startup.

"Kalau kita melihat dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi restrukturisasi terhadap startup-startup di seluruh dunia, dengan begitu kami akan tetap berinvestasi pada startup-startup," ujar Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah, dikutip dari ANTARA, Sabtu (28/5/2022).

Baca Juga: Chairul Tanjung Angkat Dirut Baru Allo Bank, Jebolan Telkom dan BRI

2. Telkom yakin berinvestasi di tengah naik turun saham

Telkom Tetap Investasi ke Startup di Tengah Restrukturisasi Global Ilustrasi Startup (IDN Times/Aditya Pratama)

Dengan demikian, lanjut Ririek, kalaupun terjadi naik turun harga saham, Telkom yakin masih bisa melakukan monetizing melalui sinergi yang ada.

"Strategi kami pada dasarnya adalah tidak hanya untuk mencari capital gain, namun kami juga mencari peluang sinergi yang dapat diperoleh antara startup tersebut dengan TelkomGroup yakni Telkom dan seluruh anak perusahaan Telkom," ujarnya.

3. Investasi Telkom melihat sisi valuasi dan sinergi

Dalam kesempatan sama, Direktur Strategic Portfolio Telkom Budi Setyawan Wijaya bahwa investasi Telkom pada startup-startup dilakukan secara selektif.

"Alhamdulillah investasi Telkom di startup seperti disampaikan bapak Direktur Utama Telkom, memang kita lakukan sangat selektif dengan koridor tidak hanya melihat dari sisi valuasinya tetapi juga sinerginya," ujar Budi.

Dari sisi value multiple-nya pada tahun 2021 investasi Telkom di startup 1,6 kali, sehingga cukup menguntungkan dengan realized gain sekitar Rp140 miliar.

"Di samping itu value synergy-nya juga cukup besar di mana pada kuartal I tahun value synergy-nya yang kita dapatkan dari startup Telkom di Telkomsel dan MDI Ventures lebih dari sekitar Rp500 miliar. Dengan demikian ini hasil yang kita lakukan pada startup-startup kita secara keseluruhan hasilnya bagus," ujar Budi.

Sebelumnya Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David E. Sumual mengatakan saat ini siklus bisnis perusahaan teknologi baik global, regional, maupun Indonesia memang lagi kurang menguntungkan.

Hal itu disebabkan sentimen kenaikan suku bunga oleh The Fed. Bahkan suku bunga The Fed diperkirakan akan terus dikatrol hingga 3,5 persen. Sebelumnya pada saat suku bunga The Fed nol persen, perusahaan startup dan teknologi mengalami kenaikan yang sangat signifikan.

David menilai, sebenarnya investor pasar modal tak perlu khawatir untuk berinvestasi di emiten teknologi. Selama perusahaan teknologi tersebut masih bisa meningkatkan arus kas, usahanya masih berjalan sangat bagus, dan emiten tersebut masih dapat membuat ekosistemnya tumbuh, tentu prospek saham emiten teknologi masih menjanjikan.

Baca Juga: Telkom Selenggarakan Program Telkom Smart Campus Awards 2021

Topic:

  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya