Comscore Tracker

Neraca Perdagangan Surplus US$5,76 Miliar di Agustus

RI surplus 28 bulan berturut-turut

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2022 secara bulanan (month-to-month/mtm) mengalami surplus sebesar 5,76 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 28 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Pada Agustus 2022 ini neraca perdagangan barang mencatat surplus 5,76 miliar dolar AS. Jadi neraca perdagangan sampai dengan Agustus 2022 ini membukukan surplus selama 28 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto dalam konferensi pers virtual, Kamis (15/9/2022).

1. Ekspor naik 9,17 persen di bulan Agustus

Neraca Perdagangan Surplus US$5,76 Miliar di AgustusIlustrasi ekspor impor (IDN Times/Arief Rahmat)

BPS mencatat bahwa ekspor pada Agustus sebesar 27,91 miliar dolar Amerika Serikat, naik 9,17 persen dibandingkan dengan Mei 2022. Berdasarkan komposisinya, ekspor nonmigas meningkat 8,24 persen, sedangkan migas meningkat 25,59 persen.

"Nilai ekspor kita adalah 27,91 miliar dolar AS," tutur Setianto .

Baca Juga: Rekor 27 Bulan Berturut, Neraca Perdagangan RI Surplus US$4,23 Miliar 

2. Impor juga meningkat 3,77 persen

Neraca Perdagangan Surplus US$5,76 Miliar di Agustusilustrasi impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Nilai impor pada Agustus secara month-to-month adalah sebesar 22,15 miliar dolar AS atau naik 3,77 persen dibandingkan Juli 2022.

"Kalau kita bedakan antara migas dan nonmigas terlihat bahwa untuk nonmigas meningkat 9,23 persen, sementara migas mengalami penurunan 16,92 persen.

Baca Juga: Cetak Rekor! Neraca Perdagangan RI April 2022 Surplus US$7,56 Miliar 

3. Neraca perdagangan migas masih alami defisit US$1,98 miliar

Neraca Perdagangan Surplus US$5,76 Miliar di AgustusIlustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Neraca perdagangan nonmigas Indonesia mengalami surplus 7,74 miliar dolar AS dengan komoditas penyumbang surplus utama, yaitu bahan bakar mineral (HS 27), besi dan baja (HS 72), lemak dan minyak hewan nabati (HS 15).

"Sedangkan neraca perdagangan komoditas migas tercatat mengalami defisit 1,98 miliar dolar AS. Komoditas utama penyumbang defisit yaitu minyak mentah, hasil minyak serta gas," tambahnya.

Topic:

  • Rendra Saputra

Berita Terkini Lainnya