Comscore Tracker

Mahfud MD: Bulan Depan 99,99 Persen akan Terjadi Resesi Ekonomi

Resesi bukan akhir segala, dan beda dengan krisis

Yogyakarta, IDN Times - Isyarat ekonomi Indonesia terancam resesi yang sempat disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani diperkuat oleh pernyataan  Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD. Mahfudmenyebut Indonesia hampir bisa dipastikan bakal mengalami resesi ekonomi.

Meski demikian, dia menegaskan itu bukan berarti Indonesia tenggelam dalam krisis ekonomi.

Menkeu sebelumnya menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal III bisa minus 2 persen. Seementara di kuartal II pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah minus 5,32 persen.

Baca Juga: Serahkan Banpres Rp2,4 Juta ke Pelaku Usaha Mikro, Jokowi: Untuk Modal

1. Pandemik COVID-19 memukul perekonomian dunia, termasuk Indonesia

Mahfud MD: Bulan Depan 99,99 Persen akan Terjadi Resesi EkonomiIlustrasi Resesi (IDN Times/Arief Rahmat)

Dikatakan Mahfud, pandemik COVID-19 telah memukul laju pertumbuhan ekonomi nasional. Belum ada tanda-tanda kemajuan dan buntutnya, Indonesia bakal mengalami resesi pada bulan depan.

"Bulan depan hampir dapat dipastikan, 99,99 persen akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia," kata Mahfud pada acara silaturahmi bareng para seniman di Warung Bu Ageng, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (29/8/2020) malam.

Mahfud melanjutkan, sinyal resesi terlihat kala pertumbuhan ekonomi Indonesia minus pada kuartal II 2020. Dan diprediksi terulang di kuartal berikutnya.

"Resesi itu artinya pertumbuhan ekonomi itu minus. Atau di bawah 1 selama 2 kuartal berturut-turut," ujarnya.

Perekonomian Indonesia kuartal I kemarin tumbuh di level 2,97 persen, sementara di kuartal II minus 5,32 persen. Kuartal III, perkiraan minus 2,2 persen.

"Kita ini diperkirakan akan minus 2,2 sampai paling tinggi 0,5 persen. Berarti resesi," ucap Mahfud.

2. Bukan berarti krisis

Mahfud MD: Bulan Depan 99,99 Persen akan Terjadi Resesi EkonomiIlustrasi Rupiah (ANTARA FOTO/Rahmad)

Namun, dia menegaskan kondisi ini tak dapat diartikan Indonesia otomatis terperosok ke lembah krisis ekonomi. Ia menegaskan, resesi bukan berarti krisis. "Jangan dicampur aduk, resesi lalu terjadi krisis, beda," katanya.

Indonesia masih bisa selamat dari krisis melalui pengoptimalan ekonomi rakyat yang memiliki peran integral dalam perekonomian nasional.

"Kita di Indonesia punya bahan-bahan lokal, ekonomi masyarakat, ekonomi rakyat, nah itu kalau kita bisa gunakan, dinormalkan kembali kehidupan ekonomi rakyat itu, maka resesi yang pasti terjadi itu tidak akan menimbulkan krisis," tuturnya.

"Singapura itu krisis, tapi tidak apa-apa, karena dia kaya, pertumbuhan kekayaannya besar sekali. Lalu pertumbuhannya minus 15 persen, enggak apa bagi dia, 15 persen bisa hidup. Kita memang kecil (resesi), tetapi ekonomi (rakyat) kita lebih banyak," beber Mantan Ketua MK ini.

3. Andalkan Komite PC-PEN

Mahfud MD: Bulan Depan 99,99 Persen akan Terjadi Resesi EkonomiMenkopolhukam Mahfud MD pada acara silaturahmi bareng para seniman di Warung Bu Ageng, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (29/8/2020). IDN Times/Tunggul Damarjati

Menyadari potensi bangkit dari keterpurukan, maka terbitlah Peraturan Presiden (Perpres) No. 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN).

Tujuannya, adalah sebagai upaya mengendalikan segala hal yang berkaitan dengan penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Komite ini bekerja mencari dan melaksanakan jalan terbaik penanganan COVID-19 sembari memulihkan ekonomi.

"Ekonomi nasional dan corona itu sebagai sesuatu fakta yang tidak bisa dihindari. Dengan cara saling menghargai keberadaannya lalu ekonomi ditumbuhkan, itu namanya PC-PEN," tandasnya.

Baca Juga: Jokowi Bagi-bagi Ribuan Paket Sembako, Antrean Warga Mengular

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya