Isu Stagflasi, Rupiah Keok Seharian Lawan Dolar AS

Rupiah ditutup melemah 37,5 poin ke Rp14.491,5 per dolar AS

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah atas mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore ini, Rabu (8/6/2022).

Kurs rupiah ditutup melemah 37,5 poin atau 0,26 persen ke level Rp14.491,5 per dolar AS pada perdagangan sore ini. Pagi tadi, nilai tukar rupiah juga melemah 4 poin ke level Rp14.458 per dolar AS  pada pembukaan perdagangan.

Baca Juga: Isu Stagflasi Bikin Rupiah Keok dari Dolar AS Pagi Ini

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp14.477 per dolar AS.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kurs rupiah pada Selasa (7/6/2022) yang ada di level Rp14.464 per dolar AS.

2. Isu stagflasi bayangi pergerakan kurs rupiah

Kondisi itu pun membuat resesi sulit dihindari. Maka dari itu, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2022 dari 4,1 persen menjadi 2,9 persen.

"Peringatan dari World Bank ini bisa memberikan sentimen negatif ke nilai tukar emerging market terhadap dolar AS," ucap Ariston kepada IDN Times.

Baca Juga: Orang Miskin Terancam Semakin Banyak jika Indonesia Alami Stagflasi

3. Mengenal apa itu stagflasi

Dikutip dari Investopedia, stagflasi ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pengangguran yang relatif tinggi, atau stagnasi ekonomi, yang pada saat yang sama disertai dengan kenaikan harga (inflasi).

Mudahnya, stagflasi dapat didefinisikan sebagai periode inflasi yang dikombinasikan dengan penurunan produk domestik bruto (PDB).

Istilah “stagflasi” pertama kali digunakan pada 1960-an selama terjadi masa tekanan ekonomi di Inggris. Pada saat itu politisi Inggris Iain Macleod menggunakan istilah itu ketika dia berbicara di House of Commons.

Di sana, ia berbicara tentang isu inflasi dan stagnasi, yang kemudian ia sebut sebagai “situasi stagnasi”. Istilah itu kemudian digunakan lagi untuk menggambarkan periode resesi pada 1970-an setelah krisis minyak terjadi, ketika Amerika Serikat (AS) mengalami resesi di mana ekonominya mencatatkan pertumbuhan PDB negatif selama lima kuartal. Inflasi kemudian berlipat ganda pada 1973 dan mencapai dua digit pada 1974. Pengangguran mencapai 9 persen pada Mei 1975.

Stagflasi menyebabkan munculnya indeks kesengsaraan. Indeks ini, yang merupakan penjumlahan sederhana dari tingkat inflasi dan tingkat pengangguran, berfungsi sebagai alat untuk menunjukkan betapa buruknya perasaan orang ketika stagflasi menghantam perekonomian.

Topik:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya