Comscore Tracker

Imbas Corona, Sektor Penerbangan Tanah Air Merugi Hingga Rp207 Miliar

PT Angkasa Pura II tengah mempersiapkan 3 skema ini

Jakarta, IDN Times- Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, mengungkapkan kerugian sektor layanan udara akibat pandemik virus corona mencapai Rp107 miliar. Lebih lanjut, melalui konferensi pers APBN KITA pada Jumat (17/4) lalu, total penerbangan yang dibatalkan sepanjang Januari-Februari 2020 mencapai 12.703 penerbangan dari 15 bandara utama di Indonesia.

Hal ini patut disayangkan karena Director General Airport Council International (ACI) Angela Gittens, melalui publikasinya pada 3 April 2020 silam, memprediksi penumpang pesawat pada 2020 mencapai 9,5 miliar penumpang, naik 4,39 persen dibandingkan 2019 atau sekitar 9,1 miliar.

Berkaca dari realisasi penerbangan Kuartal I/2020 yang tidak mencapai target, sepertinya prediksi Gittens tidak akan tercapai pada tahun ini akibat pandemik global COVID-19.

1. Berikut realisasi penerbangan secara global

Imbas Corona, Sektor Penerbangan Tanah Air Merugi Hingga Rp207 MiliarIlustrasi sektor penerbangan (Dok. IDN Times/Istimewa)

Baca Juga: COVID-19 Picu Penurunan Penumpang Pesawat, Internasional Paling Terasa

Adapun lalu lintas penumpang di dunia pada Januari lebih rendah 6,9 persen dibandingkan dengan perkiraan awal. Kemudian, pada Februari lebih rendah 22,9 persen dan Maret lebih rendah hingga 53,1 persen.

Secara kumulatif, lalu lintas penumpang pesawat di dunia sepanjang Januari-Maret 2020 lebih rendah 28,3 persen atau setara dengan 620 juta penumpang dibandingkan dengan prediksi awal.

Melihat data-data di atas, ACI memperkirakan jumlah penumpang pesawat di dunia pada 2020 hanya sekitar 5,9 miliar penumpang atau 3,6 militer lebih dikit dari prediksi awal. Terjadi penurunan sekitar 38 persen.

2. Tren penurunan penerbangan juga terjadi di Indonesia

Imbas Corona, Sektor Penerbangan Tanah Air Merugi Hingga Rp207 MiliarIlustrasi sektor penerbangan (Dok. IDN Times/Istimewa)

Berkaca dari prediksi ACI yang terkoreksi, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mengungkapkan bahwa maskapai nasional telah mengurangi jumlah penerbangan hingga 50 persen. Tren penurunan lalu lintas penumpang dan pergerakan pesawat di tengah COVID-19 juga dirasakan di bandara-bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II.

President Director PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengatakan jumlah penumpang pesawat di 19 bandara perseroan pada tahun ini pada awalnya diperkirakan mencapai 93,92 juta penumpang.

“Namun kemudian terjadi pandemi global COVID-19, dan dengan melihat tren yang ada serta mempertimbangkan situasi, kondisi, perkembangan di industri serta kebijakan regulator, diperkirakan jumlah penumpang tidak akan mencapai 93,92 juta penumpang,” kata Awal melalui keterangan tertulis yang diterima IDN Times, Rabu (22/4).

3. Mempersiapkan tiga skenario di tengah pandemik COVID-19

Imbas Corona, Sektor Penerbangan Tanah Air Merugi Hingga Rp207 MiliarIlustrasi sektor penerbangan (Dok. IDN Times/Istimewa)

Lebih lanjut, Awaluddin menyampaikan bila PT Angkasa Pura II tengah mempersiapkan tiga skenario untuk menyiasati kerugian imbas pandemik COVID-19. Tiga skenario tersebut adalah best scenario, bad scenario, dan worst scenario.

Opsi best scenario diperkirakan bisa menggaet 68,22 juta penumpang di 19 bandara, atau lebih rendah 27 persen dibandingkan dengan prediksi awal. Kemudian, bad scenario dipekirakan hanya menggaet 63,39 juta penumpang atau lebih rendah 32 persen dari perkiraaan awal.

“Pada worst scenario jumlah penumpang kemungkinan 57,80 juta penumpang atau lebih rendah 38,45 persen dari perkiraan awal. Perkiraan jumlah penumpang berdasarkan 3 kriteria di atas didasarkan pada periode berakhirnya pandemi, kecepatan recovery industri aviasi dan periode normal yang ditandai dengan kondisi ekonomi yang sudah kembali stabil,” papar Awal.

Adapun dalam menghadapi tantangan COVID-19 ini, PT Angkasa Pura II telah menetapkan strategi mitigasi risiko yaitu Business Continuity Management yang terdiri dari 3 fase yaitu Business Survival, Business Recovery, dan Business Sustainability.

Saat ini perseroan tengah menjalankan fase Business Survival dengan obyektifnya antara lain perlindungan tenaga kerja, cost leadership, pemilihan prioritas investasi dan optimalisasi arus kas perseroan.

Baca Juga: Pemerintah Kaji Keringanan Pajak untuk Industri Penerbangan dan Media

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya