Comscore Tracker

Ini 4 Perbedaan Saham dan Obligasi yang Penting Diketahui

Jangan asal investasi, cek mana yang paling cocok buat kamu

Jakarta, IDN Times - Ketika kamu ingin berinvestasi, tentu kamu harus tahu dulu instrumen mana yang tepat buat kamu. Beberapa instrumen investasi seperti saham dan obligasi. Meski instrumen investasi ini populer, masih banyak yang loh yang belum tahu perbedaannya.

Dilansir dari laman CIMB Niaga, secara umum saham dan obligasi memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menanamkan modal atau dana untuk mendapatkan pundi-pundi keuntungan dari perusahaan.

Selain itu, keduanya sama-sama memiliki klaim atas laba dan aktiva yang menjanjikan para pemiliknya pendapatan yang berupa aset yaitu uang dan aset-aset lainnya. Kedua, kedua instrumen ini punya hak tebus yaitu pilihan untuk menukar saham dan obligasi mereka dengan uang.

Ketiga, para pemilik saham maupun obligasi memiliki surat berharga yang merupakan bentuk perjanjian hitam diatas putih yang berupa perjanjian dan telah disetujui oleh kedua belah pihak. Nantinya surat berharga tersebut sama-sama dapat diperjualbelikan di bursa efek maupun pasar modal.

Nah setelah tahu apa kesamaannya, berikut ini adalah 4 perbedaan saham dan obligasi.

1. Batas masa berlaku

Ini 4 Perbedaan Saham dan Obligasi yang Penting DiketahuiIlustrasi Investasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Perbedaan saham dan obligasi yang pertama adalah batas masa berlakunya. Antara saham dan obligasi memiliki batas waktu yang berbeda.

Pemilik saham, masih memiliki hak atas keuntungan dan suara selama perusahaan itu berdiri dan pemilik saham masih memiliki surat bukti kepemilikan sahamnya. Sedangkan perbedaan saham dan obligasi adalah, obligasi memiliki masa berlaku yang jelas yang tertera di dalam surat.

Sehingga saham merupakan pilihan yang tepat jika kamu ingin berinvestasi jangka panjang. Namun, yang harus kamu ingat bahwa saham juga termasuk high risk high return investment yaitu, saham bisa mendatangkan keuntungan banyak namun juga memiliki risiko yang tinggi.

Meski begitu, obligasi memiliki keuntungannya sendiri karena jangka waktu yang sudah ditentukan. Karena kamu bisa berpindah ke investasi lainnya apabila jangka waktu perjanjian telah habis. Sehingga, jika perusahaan mengalami kerugian tetapi jangka waktu perjanjian telah berakhir, kamu tidak terlibat apa-apa lagi.

Baca Juga: Guys, Ini Lho 5 Perbedaan Reksadana dan Obligasi

2. Tingkat keuntungan

Ini 4 Perbedaan Saham dan Obligasi yang Penting DiketahuiIlustrasi untung (IDN Times/Arief Rahmat)

Perbedaan saham dan obligasi lainnya adalah tingkat keuntungan yang didapat. Keuntungan dari investasi saham bersifat fluktuatif, artinya tidak bisa diperkirakan dan bisa berubah sewaktu-waktu tergantung keuntungan perusahaan.

Sementara untuk obligasi biasanya kamu bisa mendapatkan hasil setiap bulan dengan jumlah yang tetap stabil sampai masa berlaku surat perjanjian berakhir.

Jika kamu suka dan berani dalam mengambil risiko, mungkin saham menjadi pilihan yang tepat. Tetapi, jika kamu ingin mendapatkan hasil yang stabil, obligasi menjadi pilihan yang aman.

3. Pajak yang dikenakan

Ini 4 Perbedaan Saham dan Obligasi yang Penting DiketahuiIlustrasi Penerimaan Pajak. (IDN Times/Arief Rahmat)

Perbedaan saham dan obligasi yang ketiga adalah pajak yang dikenakan. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa hasil yang diterima dari saham adalah dividen atau keuntungan dari saham yang kamu miliki adalah jumlah total setelah dipotong pajak.

Sementara, bunga obligasi lebih dulu dikeluarkan sebagai biaya, jadi bisa dianggap tidak kena pajak.

4. Perbedaan risiko saham dan obligasi

Ini 4 Perbedaan Saham dan Obligasi yang Penting DiketahuiIlustrasi untung rugi (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain itu saham dan obligasi punya risiko masing-masing loh.

Risiko obligasi yakni:

  • Resiko Gagal Bayar: Perputaran uang yang tidak bagus dapat mengakibatkan sebuah perusahaan gagal bayar surat obligasi yang sudah jatuh tempo. Resiko ini besar terjadi pada perusahaan swasta. Karena membeli surat obligasi negara dijamin oleh negara bahwa akan selalu dikembalikan menggunakan dana APBN.
  • Risiko Capital Loss: Capital loss adalah momen dimana investor merugi karena harga obligasi di bandrol lebih rendah dari harga saat membeli. Perubahan suku bunga, persoalan politik ekonomi, permasalah global dan kerusuhan dalam negeri menyebabkan peristiwa capital loss.
  • Risiko Likuiditas: Surat obligasi cukup sulit dijual kembali dalam tempo singkat. Investasi obligasi dinilai tidak cukup likuid. Jika terpaksa menjual kembali surat obligasi sebelum jatuh tempo. Maka investor akan mengalami kerugian.

Sedangkan risiko dari investasi saham adalah:

  • Tidak Menerima Deviden: Deviden merupakan bagi hasil perusahaan kepada investor. Namun bila perusahaan mengalami kerugian, maka investor tidak akan menerima dividen.
  • Suspend: Perusahaan diberhentikan baik untuk sementara maupun permanen oleh BEI dan OJK karena bermain curang seperti menaikan harga saham dengan cara yang fiktif. Hal tersebut dinilai tidak sportif dan menyalahi peraturan dalam pasar modal.
  • Delisting: Mirip dengan suspend, namun resiko perusahaan yang delisting adalah tidak lagi diperbolehkan bermain dalam pasar modal. Alias BEI tidak mau menjual saham perusahaan tersebut, karena selalu merugi dan memiliki banyak skandal negatif seputar perusahaan.
  • Perusahaan pailit: Jika perusahaan tempat kamu berinvestasi mendadak bangkrut akan berimbas pada gagal bayar. Apabila terjadi gagal bayar maka bisa dipastikan dana investasi kamu akan turut melayang.
  • Fluktuasi Pasar: Harga saham sangat bergantung pada sentimen pasar. Sehingga harga saham terus berubah mengikuti situasi yang terjadi. Fakta ini bisa menjadi resiko namun dapat pula disebut sebagai peluang. Masih ingat penjelasan mengenai membeli saham saat kondisinya lemah.

Nah, sudah tahu kan bedanya apa, sudah memutuskan akan berinvestasi di saham atau obligasi?

Baca Juga: Mengenal 4 Perbedaan Saham Biasa dan Saham Preferen, Apa Saja? 

Topic:

  • Dwifantya Aquina
  • Wendy Novianto

Berita Terkini Lainnya