Comscore Tracker

Pertumbuhan Ekonomi Masih Minus, Rupiah Melemah di Level Rp14.030 

Arus modal asing keluar dari pasar dalam negeri

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 15 poin di level Rp14.030 dari penutupan sebelumnya di level Rp14.015.

"Untuk perdagangan minggu depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka flukuatif, tetapi ditutup menguat di rentang tipis  Rp14.010-Rp.14.050," ujar Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis, Jumat (5/2/2021).

Baca Juga: [BREAKING] Pertumbuhan Minus Lagi, Ekonomi Indonesia Menuju Depresi

1. Pertumbuhan ekonomi masih minus

Pertumbuhan Ekonomi Masih Minus, Rupiah Melemah di Level Rp14.030 Ilustrasi Resesi (IDN Times/Arief Rahmat)

Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi yang masih minus menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah. Sepanjang triwulan IV-2020 Pertumbuhan Domestik BrutoI tercatat -2,07 persen (yoy).

"Namun sudah menunjukkan sinyal perbaikan, di mana perbaikan ekonomi didukung perbaikan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Begitu pula dengan kinerja sektor usaha mulai pulih," jelasnya.

2. Arus modal asing keluar dari pasar dalam negeri

Pertumbuhan Ekonomi Masih Minus, Rupiah Melemah di Level Rp14.030 ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Ada tiga strategi utama pemerintah mendorong pemulihan ekonomi, yaitu mempertahankan daya beli masyarakat menengah kebawah, percepatan vaksinasi untuk mendorong kepercayaan masyarakat dan pembatasan kegiatan skala mikro untuk mencegah penyebaran covid-19.

"Jeleknya data baik dari eksternal maupun internal membuat mata uang rupiah melemah tipis, dan ini bisa terlihat dari keluarnya arus modal asing dari pasar finansial dalam negeri," tambah Ibrahim.

Baca Juga: [BREAKING] Ekonomi Indonesia Tahun 2020 Minus 2,07 Persen

3. Kasus COVID-19 terus meningkat

Pertumbuhan Ekonomi Masih Minus, Rupiah Melemah di Level Rp14.030 Ilustrasi ekonomi terdampak pandemik COVID-19 (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain itu, rupiah juga melemah imbas meningkatnya kasus COVID-19, khususnya di DKI Jakarta.

"Pemerintah daerah kemungkinan akan menerapkan kembali PSBB Ketat, yang sebelumnya sudah pernah direncanakan oleh Gubernur DKI Jakarta walaupun akhirnya direvisi," ungkap Ibrahim.

Baca Juga: Tips Investasi Saham untuk Biaya Pendidikan Anak, Kamu Harus Coba!

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya