BI Jakarta Bidik Volume Transaksi Tembus Rp1 Miliar pada Akhir Tahun

Mayoritas generasi milenial gunakan metode pembayaran QRIS

Intinya Sih...

  • Bank Indonesia DKI Jakarta bidik volume transaksi QRIS hingga Rp1 miliar, dengan 274,778 juta pengguna baru.
  • Generasi milenial dominan menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran paling diminati di DKI Jakarta.
  • Pelaku usaha di DKI Jakarta menjadi penyumbang pengguna QRIS dengan persentase 12% dari total nasional.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta membidik volume transaksi QRIS bisa mencapai Rp1 miliar hingga akhir tahun, dengan tambahan pengguna baru mencapai 274,778 juta. 

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Hardi K Atmaja mengatakan, optimitistis target tersebut bisa tercapai, mengingat sebagian besar generasi milenial memilih QRIS sebagai metode pembayaran yang paling diminati. 

Berdasarkan data, pengguna QRIS di DKI Jakarta telah mencapai 118.328 juta dengan volume mencapai 462,55 juta. Volume transaksi pengguna QRIS tersebut bahkan mencapai pertumbuhan 263 persen secara tahunan.

“Kita optimis, karena April 2024 ini pengguna QRIS di DKI Jakarta mencapai 118.328 juta, belum setengah tahun, sudah hampir 50 persen,” ujar Hardi yang dikutip, Sabtu (1/6/2024). 

1. Pertumbuhan ekonomi Jakarta tetap kuat

BI Jakarta Bidik Volume Transaksi Tembus Rp1 Miliar pada Akhir TahunIlustrasi scan QR code saat bertransaksi (Freepik.com/rawpixel.com)

Di sisi lain, dia menyebut pertumbuhan ekonomi Jakarta tetap kuat di tengah berbagai tantangan dari sisi global dan domestik. Kemudian faktor pendorong ekonomi masih ditopang oleh konsumsi dan lapangan pekerjaan. 

“Dari lapangan pekerjaan, sektor perdagangan, akomodasi dan makanan minuman ini masih banyak dilakukan UMKM kita,” ucap Hardi dalam paparan.

Ia menambahkan, pelaku usaha di DKI Jakarta menjadi penyumbang pengguna QRIS dengan persentase sebanyak 12 persen dari total nasional. Pengguna QRIS didominasi sektor usaha perdagangan, akomodasi, makan dan minum. "

"Kini bertambah ke sektor-sektor administrasi, pemerintahan, informasi dan komunikasi, jasa kesehatan, kegiatan sosial, jasa pendidikan, serta transportasi," lanjutnya.

Baca Juga: QRIS Semakin Diminati, Bagaimana Nasib Kartu Debit dan Kredit?

2. Pertumbuhan transaksi QRIS kalahkan transaksi pembayaran lainnya

BI Jakarta Bidik Volume Transaksi Tembus Rp1 Miliar pada Akhir Tahunilustrasi scan QR code sesama pengguna (Freepik.com/Freepik)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan nominal transaksi QRIS tumbuh 194,06 persen (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 48,90 juta dan jumlah merchant 31,86 juta.

Sementara itu, nominal transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM/D turun sebesar 12,49 persen (yoy) mencapai Rp619,19 triliun. Nominal kartu kredit masih meningkat 11,67 persen (yoy) mencapai Rp34,39 triliun. Dari sisi pengelolaan uang rupiah, jumlah Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) meningkat 2,64 persen  (yoy) sehingga menjadi Rp1.058,23 triliun.

"Penguatan sinergi perluasan akseptasi digital bersama pelaku industri sistem pembayaran dalam rangka peningkatan akuisisi merchant QRIS di seluruh kategori UMKM melalui peningkatan kualitas layanan, penguatan berbagai program promosi, dan kampanye penggunaan QRIS, antara lain QRIS Jelajah Indonesia," tegasnya. 

Baca Juga: Pengguna QRIS di Jakarta Tembus 5,6 Juta, Mayoritas Gen Z dan Y

3. QRIS tidak akan menggantikan kartu kredit dan debit

BI Jakarta Bidik Volume Transaksi Tembus Rp1 Miliar pada Akhir Tahunilustrasi penggunaan kartu kredit (pexels.com/Pixabay)

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Elyana K Widyasari, mengatakan kemunculan QRIS merupakan hasil inisiasi BI bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) untuk menjawab kebutuhan masyarakat agar sistem pembayaran lebih efisien. Dengan begitu, penerbitan QRIS bukan untuk menggantikan transaksi pembayaran jenis kartu kredit maupun kartu debit.

"(QRIS) ini bukan untuk menyandingkan, bukan untuk membandingkan. Artinya bukan saling menggantikan, tidak," ujar Elyana Widyasari, dikutip, Kamis.

Menurut Elyana, masyarakat membutuhkan layanan pembayaran yang efisien dengan biaya lebih murah. Apalagi, satu QRIS bisa digunakan untuk semua aplikasi pembayaran.

"Sekitar 5 sampai 6 tahun lalu, kalau kita mau bayar itu sebelum ada QRIS kita datang ke merchant (pedagang) selalu ditanya pakai QR yang mana, kemudian akan tersedia banyak sekali, ini yang akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi bagi masyarakat," kata dia.

Elyana menilai, transaksi pembayaran melalui kartu kredit atau debit masih diminati masyarakat. Bank Indonesia akan terus memantau dan mengawasi layanan transaksi ini. 

"Karena masih ada model-model pembayaran seperti itu dan untuk pembayaran seperti itu masih diatur dan diawasi oleh Bank Indonesia," ujar dia.

Baca Juga: Syarat dan Cara Membuat QRIS untuk Perorangan hingga Badan Usaha

Topik:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya