Comscore Tracker

[PUISI] Sebatas Canda 

Air mataku tumpah menangisi kisah yang kau anggap sampah

Sekian purnama aku menjadi rumah untukmu pulang

Kutunggu ragamu datang meski kamu sibuk berpetualang

Tidak pernah kutaruh keraguan bahkan perasaan bimbang

Kurelakan seluruh detik berhargaku hilang dan terbuang

Katakan padaku apa rasa sayangku masihlah terasa kurang

 

Bukan lagi perkara sabar

Hatiku sudah kebal meski kamu sukar bertukar kabar

Bagiku perihal tentangmu tak pernah berubah hambar

Hingga dusta-dustamu berubah wujud menjadi sebuah bencana besar

Seolah menyulut api panas liar berkobar

 

Kala itu badai datang bersama mentari yang bersinar cerah

Ragaku tegar hatiku pecah

Butir air mataku seperti memaksa-maksa meminta tumpah

Beserta hamparan kenangan dan janji manis serupa sampah

Terbuang bersama lembaran kisah rumpang yang membasah

 

Canda tawa berdua kini hanya candu dalam kepala

Berkeliaran bagai debu jalanan yang tidak tahu tujuannya harus kemana

Kemudian berakhir bagai ilalang yang sengaja dibakar habis

Menjelma layaknya asap pekat yang siap sisakan tangis

Bolehkah aku menanyakan satu hal sederhana,

Bagaimana lucunya saat cinta kamu jadikan bahan bercanda?

Baca Juga: [PUISI] Janji yang Tak Ingin Diingkari

Yulia Nor Annisa Photo Community Writer Yulia Nor Annisa

Menulislah dengan bijak dan tutuplah jalan perselisihan - Banjarmasin, South Borneo

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Erwanto

Just For You