Comscore Tracker

Adalah Kebodohanku yang Tak Pernah Mengerti. Aku Menunggumu atau Mengejarmu?

Akulah yang menjadi terdakwah atas kebocoran pipa-pipa dimatanya.

Menunggunya itu ritual yang tidak tahu bagaimana caranya istirahat. Sedangkan mengejarnya itu semacam ibadah yang tidak ada arah kiblat. Dan keduanya semacam bid’ah yang aku ciptakan sendiri. Menjadi hal yang begitu fardhu kujalani. Dan yang paling tidak bisa kujelaskan kepada orang lain adalah, aku tidak tahu, aku mengejarnya atau menunggunya. Dan kali ini pun kegiatan yang aku tidak bisa menyebutkan namanya.

Duduk di pantai memunggungi laut. Ombak berada di belakangku, mungkin saja saling berkejaran. Karena memang demikian selalu adanya yang kita sebut ombak. Dan aku tahu itu dari suaranya, bersahutan bagai burung di pagi hari. Di depanku berjajar warung yang sampai sekarang aku selalu menyebutnya warung kopi. Meski dengan sadar aku tahu, menu utama yang dijualnya adalah minuman dingin, terlebih kelapa muda. Khas minuman pantai. Di samping kanan dan kiri berlarian anak-anak. Turis domestik yang memakai baju tertutup dan turis asing yang hanya berbikini. Kontras sekali.

Tapi aku menjadi satu satunya kekontrasan di pantai ini. Menikmati pantai tanpa memandang pantai. Entah kebiasaanku seperti ini sudah berapa lama kujalani. Setiap minggu pagi aku datang ke pantai ini. Jarak yang begitu jauh kutempuh. Tiga jam duduk di bangku motor maticku. Sesuatu yang entah kenapa jadi selalu ringan setiap minggu. Setiap aku ingin datang ke pantai ini. Tetapi sebenarnya hari ini berbeda dari sebelumnya.

Hari ini aku datang ke tempat favoritku atas undangannya. Atas permintaan Siska, sahabat yang begitu lama menemaniku. Sembilan tahun yang pendek untuk kurasakan. Dan sembilan tahun yang panjang jika ingin kukisahkan. Aku dan dia memulai kisah tanpa kasih, dengan masing-masing memiliki ceritanya sendiri. Dia dengan kasihnya, aku dengan kisahku. Sembilan tahun aku tak pernah bosan mendengarnya bercerita, dan aku pikir dia pun tak pernah bosan memberikan kepadaku kisah yang sama.

Selalu sama. Meski selalu berbeda tokoh prianya. Mulai dari anak orang paling kaya di sekolah. Hingga bos muda pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Pagi ini mungkin seperti biasanya, dia akan menceritakan kisahnya dengan salah satu makhluk berjenis adam lain. Entah siapa di luar sana. Setelah dua tahun terakhir ini aku tidak pernah mendengarnya menceritakan asmaranya. Lalu aku juga sudah mempersiapkan apa sekiranya yang akan aku tanggapi dan tidak.

Aku tahu betul bagaimana dia akan bercerita, detil sekali. Dan aku hanya perlu sedikit kejelian untuk menanyakan sesuatu yang belum dia sampaikan. Aku tidak perlu menanggapi benar atau salah keputusannya. Dia sudah tahu. Dia perlu aku hanya sebagai pendengar dengan antusias. Ya, hanya itu yang di perlukan dariku. Bukan saran, atau celaan.

Angin laut yang berhembus meniup punggungku, membuat kepalaku menengadah mentap depan lurus. Kehadirannya bersamaan pandanganku. Berkaos lengan panjang warna kuning. rambut hitam panjang tanpa kerudung. Rok panjang yang menjulur kepasir pantai menari-nari membuat anggunnya jadi bidadarinya pantai ini. Setidaknya di kedua bola mataku, hanya dia bidadarinya. Dan aku cukup senang karena entah hari ini, kenapa pakaianku cukup serasi dengannya. Dengan celana pantai pendek dan baju safari pantay biru terang. Sedikit malu hatiku mengingat.

“Hay, dah lama?”

Sapa yang tidak basa-basi. Ah, inilah basa-basinya.

“Cukup waktu untuk menghabiskan sebungkus rokok seandainya aku merokok.” Jawabku asal.

“Iya, karena sebungkus rokok itu kamu jual ke anak-anak yang tidak bisa beli rokok dengan harga normal. Kamu jual lebih murah agar lebih cepat habisnya.”

“Untuk apa aku jual rokok? Dan untuk apa kita berdebat mengenai rokok?” Tutupku membahas rokok.

Angin pantai lagi-lagi meniup penggungku. Siska sudah duduk di sebelah kananku dan dia memandang ke Pantai. Ya. Kami menikmati apa yang bisa kami nikmati bersama. Meski keduanya berbeda.

“Di pantai ini tidak ada gunung yang kau lihat. untuk apa memunggungi pantai?” Pertanyaan Siska bukanlah sesuatu yang rumit untuk di jawab. Siska sudah tahu betul aku menyukai gunung. Menikmati pemandangan pegunungan. Dan dia selalu menemaniku jika aku mengajaknya naik gunung. Dan pertanyaannya bukanlah kalimat tanya yang perlu di jawab dengan kebenaran. Dia hanya perlu memastikan bahwa apakah aku sudah melihat pantainya atau tidak.

“Pantainya sudah kunikmati sebelum kau datang. Dan sesungguhnya aku sudah menikmati pantai di sini berbulan-bulan."

Aku diam sebentar.

”Jadi, gerangan apakah yang membisikkan ilham untuk mengundangku menjadi tamu dirumahku sendiri?”

Aku sudah menganggap pantai ini seperti rumah sendiri karena sudah sangat terbiasa datang kesini. Dan sesungguhnya, Siska pun tahu itu.

“Don, Aku sedang dekat dengan seorang Pria.” Permulaan yang to the point. Dan aku sudah siap dengan ini.

“Dia cukup dekat denganku dan keluargaku. Bahkan menurutku bukan cukup dekat, tapi sangat dekat. Dia begitu perhatian aku rasa. Dan aku tidak mungkin salah menilai perhatiannya kepadaku.”

“Langsung saja. Kamu diputusin atau kamu menyesal telah mutusin?” Potongku.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Entah tiba-tiba aku ingin memotong. Sejarah selama sembilan tahun aku baru ini memotong dia bercerita mengenai asmaranya. Mungkin aku merasa ini permulaan yang terlalu basa basi.

“Bukan keduanya. Aku justru belum jadian dengan dia.” Dia menjawab lirih. Aku menolehkan wajahku kekanan sebentar. Melihat dia memulai meneruskan ceritnya sembari matanya tetap menatap jauh lautan tanpa ujung. Dia melanjutkan,

“Justru aku akhir-akhir ini memikirkannya. Apakah seharusnya aku jadian, atau tidak. Dan jikalaupun seandainya aku jadian, apakah aku menunggu dia menyampaikan perasaannya kepadaku. Atau akukah yang harus mengutarakan lebih dulu?”

Angin pantai meniup daun pohon kelapa di samping kiri tubuh Siska. Soundtrack alam yang cukup dramatis untuk mendengarkan drama kehidupan Siska.

“Dan jika engkau menunggu, apakah ada kemungkinan dia akan mengutarakan kepadamu?” Aku bertanya sekadar mengingatkan apa yang akan disampaikannya.

“Sejujurnya awalnya aku tidak yakin. Dia benar-benar pandai menyembunyikan itu. Dan entah aku merasa, dia sangat menutupi kemungkinan itu.”

“Maksudmu dengan menutupi?”

“Dia sama sekali tidak memberikan tanda bahwa dia akan mengatakan. Tapi aku tahu, sedari awal sebenarnya dia sudah menyampaikan. Hanya tanpa satupun kata. Bahkan, aku sudah mencoba beberapa kali menunjukan sedikit kemesraanku dengan pria lain pun, dia seperti tidak ada respon apapun.”

“Dan jika seandainya kamu salah? Maksudku, ternyata dia memang tidak ada perasaan kepadamu. Apakah ada kemungkinan demikian?” Semoga pertanyaan terakhir tidak menunjukan aku meragukannya.

“Aku yakin aku tidak salah. Dia pasti sesungguhnya mencintaiku. Walau aku tidak yakin, kenapa dia sediam itu.”

“Oke, silahkan lanjutkan apa yang kamu tahu tentang dia.”

“Itu masalah utamanya. Aku bahkan tidak benar-benar tahu bagaimana dia. Kesalahan terbesarku ternyata selama ini aku tidak pernah mencari tahu tentang dia. Aku tidak pernah tahu apakah dia sebenarnya punya kekasih atau tidak. Atau apakah dia pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain atau tidak. Aku sama sekali tidak tahu. Doni, apa kau tahu? Bahkan dia yang begitu dekat dengan keluargaku ternyata tidak membuatku ingin tahu tentang dia. Sampai beberapa lama. dan aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. Dan sedikit terlambat untuk mencari tahu.”

“Apa maksudmu sedikit terlambat?”

“Aku sudah tahu sekarang. Sejujurnya aku ingin tidak mempercayainya. Tapi terpaksa aku harus percaya.” dia berusaha mengatur kalimatnya.

“Kemarin aku kerumahnya. Aku bertemu ibunya dengan seorang perempuan. Dia tidak ada dirumahnya. Kata ibunya sedang ke pasar untuk membeli sesuatu. Kemudian ibunya memperkenalkan kepadaku perempuan yang bersamanya. Ternyata perempuan itu dijodohkan dengan dia. Aku tidak mengerti kenapa demikian, tetapi ibunya bilang ‘Siska, temanmu itu kalau ditanya pacarnya dimana? Ndak pernah jawab. Kalau ditanya ada ndak perempuan yang kamu suka? Dia jawab ada. Tapi ndak pernah mau ngenalin. Katanya gengsi. Katanya gadisnya itu anak orang kaya. Dan pilihan pria yang diidamkannya bukan seperti anak ibu. Jadi minder. Lalu ibu bilang, nak, kalau suka ya bilang saja. Gak apa apa ditolak.’ Kau tahu Don, apa yang di jawab ke Ibunya? Dia jawab ‘Kami bersahabat. saya takut saya kehilangan satu-satunya sahabat saya kalau saya sampaikan dan ternyata saya ditolak.’ Saat itulah ibunya menawari perjodohan itu”.

Siska menarik nafasnya dalam-dalam. Seirama dengan angin pantai yang lagi-lagi menerpa punggungku. Seolah nafasnya sengaja berusaha menerima angin segar dari laut lepas.

“Dan ternyata dia menerima tawaran ibunya itu.” Lanjutnya singkat.

Seiring angin laut yang belum berhenti meniup. Aku merasakan sesak di dadaku bersama dengan ceritanya. Dan sesak itu seolah menekan syaraf kemataku dan tenggorokanku. Hingga mataku seidikit berair, dan tenggorkanku tercekat, ingin mengatakan sesuatu tetapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa menolehnya. Menatap lekat-lekat pipi kanannya.

“Aku tahu Don, kamu pasti tahu siapa dia. Dia lelaki dengan badan tegap berkulit cerah. Sangat cerah untuk ukuran pria lingkungan kita. Pria yang selama sembilan tahun ini menemaniku. Mendengarkan apapun yang aku katakan. Dan sesungguhnya dia yang hari kemarin aku undang untuk datang kepantai bersama. Menatap pantai bersama. Menikmatinya bersama.”

Bibir merah mudanya di mataku hanya menari tanpa bersuara. Sepertinya sesak di dadaku sudah mengganggu telingaku. Dan dari bibir itu terbaca,“Walau aku sudah tau dari awal, bahwa aku dan dia akan tetap seperti biasanya. Saling memunggungi”.

Dan aku masih menolehkan kepalaku kearahnya. Pipinya memutar menjadikan kedua bola matanya nampak di mataku. Dan di pantai itu, ada empat bola mata yang basah, membasah, dan semakin basah. Aku bisa menjadikan angin dan pasir sebagai tersangka atas bocornya pipa-pipa di mataku. Tapi aku tidak bisa melarikan diri dari dakwaan bahwa akulah yang menjadi terdakwah atas kebocoran pipa-pipa dimatanya. Kekecewaanku yang terbesar setelah menemaninya selama sembilan tahun ini. Adalah kebodohanku yang tak pernah mengerti. Aku menunggunya atau mengejarnya.

Abdillahwahab Photo Writer Abdillahwahab

Blogger at www.abdillahwahab.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya