Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Para Wajah yang Menakutkan

Aku tertusuk, tapi tidak merasakan sakit

Aku terkejut saat merasakan bahu kiriku bagian belakang tertusuk sesuatu. Refleks saja aku menjerit. Lalu setiap wajah mendadak mengarah kepadaku. Wajah-wajah yang kukenal tapi selalu berubah-ubah bentuk. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan.

*

Hari ini menjadi hari yang biasa. Aku sudah paham apa yang akan kuhadapi, dan apa yang mesti kulakukan. Jadi aku akan tetap membangun benteng yang kuat dan tinggi di dalam tubuhku. Semakin tebal dan tinggi benteng itu, semakin baik. Tidak masalah betapa sulitnya seseorang mencoba merangsek masuk. Aku yang berkuasa di sini, dan terserah aku.

Sebelum melangkah menuju sekolah, aku berdoa dalam hati. Gema suara dalam hatiku terasa bagai bunyi seruling yang pernah kudengar di masa silam. Dan kulangkahkan kaki kepada takdir hari ini.

*

Ada seorang perempuan berdiri di pintu, aku tahu apa yang mesti kuperbuat. “Maaf boleh saya masuk kelas?” kataku. Dan aku sudah hapal apa yang dikatakannya—atau dikatakan oleh perempuan-perempuan lain.

“Aku mau berdiri di sini, lewat pintu lain saja!” sergahnya.

Pernah aku mencoba mendorongnya, tetapi justru tas milikku direnggut paksa lantas habis dikeluarkan isinya. Beberapa tahun yang lalu aku pasti menangis. Namun, karena aku sudah mahir membangun benteng, tidak ada yang bisa mendengar jeritanku. Sekeras apa pun aku berteriak. Lama-lama aku tak bisa menangis. Aku benar-benar tidak bisa menangis.

Aku memohon-mohon—lebih tepatnya pura-pura memohon.

Barangkali karena sudah bosan, mereka membiarkanku masuk. Namun, tetap saja sumpah serapah itu keluar. Sayang sekali mereka membiarkan bibir indah mereka membuka dan menguarkan bau busuk.

*

Aku memeriksa benteng dalam tubuhku. Kadang-kadang aku menyalakan obor agar aku bisa memantau apa saja yang akan terjadi. Jika terdengar kertas disobek, aku siap-siap untuk menerima lemparan kertas. Seandainya aku diperbolehkan menjadi atlet, mungkin aku akan menjadi atlet dengan refleks paling bagus. Semua serangan fisik bisa aku hindari, kecuali serangan dari bibir-bibir tajam mereka.

Setiap mulai duduk di kursi kelas, aku selalu memikirkan tentang diriku. Aku mengetuk-ngetuk lembut meja dengan bolpoin. Harapanku agar bolpoin itu bertransformasi menjadi tongkat sihir masih kupertahankan hingga kini. Selain itu aku berharap masih ada yang suka kepada diriku. Siapa pun orangnya.

Aku merasa sedikit tenang ketika Ibu Fitri berjalan masuk kelas. Kubayangkan ia berpikir mengenai diriku, atau setidaknya melihatku. Aku berharap sorot matanya lebih banyak mengarah kepadaku. Harapan itu selalu kurawat sebab Ibu Fitri pernah berbicara kepadaku beberapa tahun yang lalu. Aku sudah lupa apa yang kami bicarakan. Kira-kira seputar program olimpiade kimia. Aku merindukan pembicaraan itu. Sebuah keakraban antarmanusia.

Aku bersyukur karena tidak pernah tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh para guru, termasuk oleh Ibu Fitri. Bagiku, nilai tidak penting. Mau berapa pun yang diberikan oleh guru, aku terima-terima saja. Toh, tak banyak yang memperhatikanku. Aku terbiasa sendiri dan tak dihargai.

Mata pelajaran kimia berjalan seperti biasa. Ibu Fitri menjelaskan sebagaimana biasa. Satu-dua serangan fisik dari wajah-wajah yang menakutkan itu, dari sekelilingku saat Ibu Fitri tidak memperhatikan murid, menjadi hal biasa. Tubuhku sudah terbiasa. Yang tidak biasa barangkali jika ada seseorang yang menyatakan cinta kepadaku saat itu, pasti akan membuatku terkena serangan jantung tiba-tiba.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Aku terus saja menulis apa yang diterangkan oleh Ibu Fitri. Benzena adalah salah satu komponen dalam minyak bumi, yaitu residu minyak mentah. Benzena ditemukan oleh Michael Faraday pada tahun 1825.

Ketika aku asyik menulis, sekonyong-konyong aku merasakan perih di bahu kiriku bagian belakang. Ada sesuatu yang menusuk. Bukan karena sakit, tapi karena terkejut dan takut kalau-kalau benteng dalam tubuhkan jadi rubuh, aku pun tak sadar menjerit.

Aku pikir reaksi otak dan pita suaraku tidak sinkron kala itu. Dan aku menjerit. Hanya sedetik. Jeritan itu membuat wajah-wajah menakutkan menatapiku. Aku mencari wajah teduh di antara mereka. Wajah Ibu Fitri. Tapi aku tak menemukannya.

Mereka berada di antara marah dan menahan tawa. Kemudian aku mendengar Ibu Fitri berkata, “Bagi murid yang ingin bercanda, silakan keluar!”

Di mana wajah Ibu Fitri? Aku tak bisa menemukannya di antara wajah-wajah monster.

Lantas kurasakan benteng dalam tubuhku mulai retak. Aku cepat-cepat memerintahkan para pekerja untuk memperbaikinya. Tentu saja akan menjadi berbahaya jika benteng itu hancur dan membuat musuh berhasil menguasaiku. Aku tak ingin kalap sehingga menghancurkan diriku sendiri.

*

Di perpustakaan aku menenangkan diri. Kucurahkan konsentrasi untuk membaca bukunya Sylvia Plath berjudul The Bell Jar. Pada kalimat pertama novel tersebut, aku bahkan tidak bisa memahami. "Hari pada musim panas itu begitu janggal dan pengap. Musim panas itu, pasangan Rosenberg akan dieksekusi dengan listrik..."

Sama halnya dengan aku tak memahami apa yang terjadi hari ini. Aku tak bermimpi. Aku pun tak pernah benar-benar bermimpi ketika tidur di malam-malam sunyi. Tapi kenapa mereka melakukan itu padaku ... Setiap hari.

Oleh sebab kurang bisa berkonsentrasi dalam membaca, aku membuka halaman terakhir novel tersebut. Dan kubaca dengan menggerakkan bibir, "Semua mata dan wajah itu menatap ke arahku. Dan dengan dibimbing oleh tatapan itu, seolah-olah benang magis, aku melangkah memasuki ruangan."

Tubuhku gemetar. 

*

Jam pelajaran kedua. Benteng dalam tubuhku kini bangunan paling raksasa di dunia. Aku menguasai diriku kembali. Sayup-sayup seruling itu kudengar dalam kepalaku. Aku melangkah masuk kelas seolah-olah kembali bangkit dari kematian.

Kuselipkan novel The Bell Jar ke dalam tasku. Dan aku tersenyum kepada diriku.***

 

Pangkalan Bun, 26 April 2019

Agung Setya Photo Community Writer Agung Setya

Reader and Writer.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You