Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Aku di Kepala Seekor Semut

Bagaimana aku di kepala seekor semut

Sesungguhnya ada banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu. Namun, setelah kepergianmu dua tahun lalu ke kota, kau tak lagi bisa dihubungi pun tak pernah menghubungiku sama sekali. Hampir saja aku percaya kepada orang-orang yang mengatakan kalau kau sama lelahnya seperti kedua orangtuaku yang pergi entah ke mana—saat aku berusia lima tahun. Mereka tak pernah kembali, atau mungkin tersesat selagi pergi dan lupa jalan pulang sehingga belum juga kembali. Dan kurasa kau juga begitu: tersesat di kota yang luas.

Malam ini, sambil memikirkanmu, aku menelungkup di lantai dan memperhatikan tumpahan cokelat panas—yang tumpah saat aku iseng menggoyang-goyangkan gelasnya—yang diminum sedikit demi sedikit oleh seekor semut. Semut itu tampak tenang, sama sekali tak takut meski mungkin saja dia tahu kalau aku sedang memperhatikannya. Saat aku mencolek tubuhnya, dia berjalan, berhenti sejenak yang bisa jadi mengamatiku, lalu memutar dan meneruskan minumnya. Kupikir semut itu sama sepertiku, tak punya keluarga atau siapa pun, sehingga saat mendapati tumpahan cokelat ini, dia meminumnya sendiri dan tak memanggil semut lain.

Melihat semut itu tak terusik akan keberadaanku yang terus memperhatikannya, terbesit keinginan untuk bertanya. Bagaimana aku di kepalanya. Apa jika aku di kepalanya, aku tidaklah seburuk saat aku berada di kepala orang-orang. Di mata orang-orang, aku buruk. Di pikiran orang-orang, aku lebih buruk. Entah bagaimana di hati orang-orang. Mungkin aku tidak pernah ada, atau jika pun ada, aku sangat-sangat lebih buruk.

Aku menghela napas, masih bertanya-tanya bagaimana aku di kepala seekor semut. Jika saja semut itu dapat berbicara dan menyuarakan apa yang dilihat dan dipikirkannya tentangku, dan jika itu sama dengan apa yang ada di kepalamu, maka aku akan memercayai semua ucapanmu—sebelum pergi meninggalkan desa ini—bahwa aku cantik. Karena sungguh, tak satu pun orang yang mengatakan demikian selain dirimu.

Orang-orang bahkan menatapku dengan tatapan jijik atau bermusuhan atau apalah yang tak dapat kujelaskan. Mereka juga bilang kalau orang tuaku pergi karena tak sanggup menahan malu memiliki anak sepertiku.

Anak sepertiku?

Entah apa yang salah dengan anak sepertiku. Aku selalu bersikap baik. Aku juga pintar dan menjadi langganan juara di kelas. Aku … aku tak tahu apa yang bagus dariku karena orang-orang terus menjejaliku dengan hal-hal buruk tentang diriku. Orang-orang dewasa bilang, lebih baik aku terus berada di rumah sehingga balita-balita di desa kita tak menangis sebab ketakutan melihatku.

Anak-anak kecil bilang, pergi jauh-jauh, dan itu sambil melempariku dengan batu atau benda apa pun yang ada di dekat mereka. Gadis-gadis sebayaku bilang, harusnya aku sadar diri untuk tidak menjadi parasit yang menempel dan membuatmu mati perlahan karena harus melihatku yang—mereka anggap—buruk rupa. Pria-pria sebayaku bilang ….

“Jangan pedulikan apa yang orang lain katakan tentangmu. Bagiku, kamu cantik,” ucapmu setiap kali aku bertanya kenapa orang-orang senang mengatakan hal-hal yang menyakitkan.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Aku selalu ingin percaya apa yang kau katakan, meski aku tahu kalau itu sebuah kebohongan. Namun, barangkali kebohongan adalah hal termanis untuk dipercayai karena diucapkan dengan tidak menyakiti, sama seperti kebohonganmu. Sayangnya, orang-orang kelewat keras menamparku dengan kenyataan. Sama seperti di siang yang terik di toilet sekolah, ketika beberapa gadis mengatakan kalau mereka penasaran tentang apakah yang ada di dalam pakaianku sama buruknya seperti bagian yang tak aku tutupi—tangan dan wajahku. Aku tak meladeni mereka, sama seperti saranmu: Jangan meladeni orang-orang yang mengajakmu bermain dengan permainan yang tidak menyenangkan atau bisa melukaimu.

Untuk menghindari celotehan mereka yang terus mengatakan—sesuatu yang memang benar—kalau seluruh tubuhku dipenuhi kutil, aku memilih keluar . Namun, belum apa-apa, salah satu dari mereka menarik tanganku dan mendorongku ke pojok.

“Ayolah, kami hanya ingin melihat,” ucap salah satunya sambil menarik-lepas kerudungku.

Aku memalingkan wajah. Bukan karena malu, sungguh. Dengan tanpa itu pun orang-orang sudah memandangku dengan tatapan jijik. Aku hanya … ada sesuatu yang sulit kujelaskan setiap kali mengingat siang yang terik di toilet sekolah. Aku bahkan tak bisa mengatakan kepadamu bagaimana aku merasa sakit, takut, benci, atau sesuatu yang bercampur aduk menjadi satu saat mereka mempreteliku hanya untuk memuaskan rasa penasaran mereka. Tak segan, mereka mengambil gambarku, yang katanya untuk menunjukkan kepada teman-teman lain yang juga sama penasarannya.

Di hadapanmu, aku ingin mengungkapkan semua itu. Bahwa hidup teramat tidak adil untukku. Bahkan setelah siang yang terik di toilet sekolah, semuanya tak jadi lebih baik, malah sebaliknya. Segalanya terasa seperti menyeretku ke dalam neraka.

Aku menatap semut itu setelah menghapus sisa air mata yang menggenang. Bertanya apa yang terjadi seandainya kau mendengar kisah itu dariku, sebelum orang tuamu yang mengatakannya dan menyuruhmu melanjutkan pendidikan ke kota. Namun, kurasa sama saja. Karena setelah kau pergi meninggalkan desa ini dua tahun lalu, tak sekali pun kau menghubungiku atau bisa dihubungi. Barangkali kepergianmu bukan karena perintah orang tuamu. Kau hanya lelah, sama seperti kedua orang tuaku. Lantas kau pergi ke kota, berharap di sana lelahmu hilang lalu kau berencana pulang. Sayangnya, dalam perjalanan pulang, kau tersesat hingga tak kunjung tiba sampai sekarang.

Aku juga bertanya bagaimana aku di kepala seekor semut. Bagaimana jika semut itu menatapku sama seperti tatapan orang-orang. Barangkali, kematian memang lebih baik dibanding hidup ini sendiri.***

 

Jakarta, 29 Mei 2019

Lily Rosella Photo Community Writer Lily Rosella

Amateur writer

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You