Comscore Tracker

[CERPEN] Kisah Penjaga Makam

Bukan pemakaman biasa

Hidup terkatung-katung sebagai penganggur enam tahun lebih. Disebut menyedihkan oleh tetangga kanan kiri. Aku tahu, aku tahu!

Aku sudah mengirim surat lamaran ke berbagai perusahaan, semuanya menggantung tanpa jawaban. Utang-utangku menumpuk. Setiap pulang ke rumah yang kutemui hanyalah omelan ibu karena tak kunjung mendapat pekerjaan dan lelah dengan cibiran.

Hingga akhirnya suatu hari; aku berjalan kaki dengan santai pulang dari minimarket. Sudut mataku menemukan sebuah brosur lowongan kerja di tiang listrik. Sebagai seorang penganggur yang pantang menyerah, aku langsung membaca isinya.

Penjaga makam. Kenapa memakai brosur, ya? Ah, mungkin pengaruh perkembangan teknologi. Hei, lihat upah hariannya! Kalau dihitung-hitung dalam sebulan, melebihi gaji posisi-posisi yang aku lamar di perusahaan terkemuka.

Selama ini aku sangat pemilih dalam mencari pekerjaan. Namun, entah mengapa, tanpa lama berpikir aku merobek brosur tersebut dari tiang listrik dan membawanya pulang ke rumah. Tak sabar menghubungi nomor yang tertera di lembar brosur.

Sampai di rumah, aku langsung mengambil ponsel dan mengetik dua belas angka. 08910 ….

“Ya, halo. Dengan siapa?”

“Nama saya Eren. Saya ingin menanyakan apa pekerjaan sebagai penjaga makam masih tersedia?”

“Ah,  benar. Saya Pak Rod. Besok hari pertama kerja, ya! Pemakamannya di ...”

Aku tertegun. Semudah itu? Namun, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Utang-utangku harus segera dilunasi.

***

Saat itu aku belum sadar bahwa posisiku bukan penjaga makam biasa. Biasa dalam arti … mengerti maksudku kan? Pekuburan untuk jenazah. Tapi, bukan. Mungkin terdengar konyol (atau bahkan gila); aku menjaga makam-makam harapan.  

Sejak dulu orang gemar mengubur harapan. Aku baru tahu ada pemakaman sejenis ini. Namun sejauh mataku memandang, gundukan tanah itu ribuan jumlahnya. Beberapa tak dirawat karena tak membayar sewa. Semakin besar harapan yang ia kubur, semakin tinggi dan besar liangnya. Kadang-kadang mereka menggali sendiri makamnya. Kadang-kadang aku menggali lubang karena memang tugasku; tipnya lumayan. Belum ditambah upah harian dari pemilik lahan dan peziarah-peziarah yang datang.

Sore ini aku bersantai di posko sembari menghirup teh hangat. Hidupku sudah mapan sekarang. Pekerjaan santai, tidak ada yang aneh selain keanehan itu sendiri. Pemakaman harapan. Orang-orang putus cinta, menyerah dengan cita-cita, dan perpisahan-perpisahan lain yang berujung melupakan.

Sudut mataku melihat seorang gadis kecil – mungkin usianya tujuh tahun – dengan keresek digenggam tangan kanannya. Rambutnya bergelombang sebahu berwarna cokelat.

Aku keheranan. Jarang sekali datang kerucil ke pemakaman. Apa yang sedang ia lakukan? Batinku penasaran.

“Dik, ngapain di sini?” tegurku.

“Mau mengubur harapan,” jawab gadis itu datar.

“Sudah bayar uang sewanya?”

“Tapi harapanku adalah menjadi kaya. Aku tidak punya uang.”

Aku menggeleng. Peraturan kami ketat sekali. Tidak ada toleransi. “Silakan mengubur harapan di tempat lain.”

“Apa tempat lain tidak perlu membayar uang sewa?”

“Perlu.”

“Memang kenapa harus membayar uang sewa?” Tampaknya dia tak puas.

“Pertama, membayar lahan untuk mengubur harapan. Kedua, agar kuburanmu dirawat dengan  baik.”

“Aku hanya butuh yang pertama. Untuk apa merawat harapan yang sudah dikubur?” gadis kecil itu meremas keresek yang ia bawa.

Aku menghela napas panjang. “Ada orang yang meski harapannya dikubur, berziarah untuk mengenang kembali. Ada pula yang menitipkan harapannya di sini, kelak kuburannya dibongkar agar bisa ia perjuangkan lagi.”

“Aku tidak mau mengenang ataupun memperjuangkannya. Sampai kapan pun keluargaku akan terjerat dalam kemiskinan,” lirih gadis kecil itu.

Aku kasihan. Dulu aku juga miskin. Aku menganggur dan setiap pulang ibuku mengomel karena tak membawa uang. Hari ini perasaanku sedang baik, keluar uang sedikit mungkin tidak apa-apa. Bersedekah.

“Baiklah, kuburlah sana harapanmu. Cari lahan di pinggiran saja. Nanti aku bayarkan,” ucapku akhirnya.

Gadis kecil yang sedari tadi wajahnya datar itu langsung berbinar. Tidak butuh waktu lama -  mungkin takut aku berubah pikiran – ia berlari-lari di atas gundukan batu nisan mencari makam untuk harapannya sendiri.

Sepuluh menit berlalu. Gadis kecil itu kembali dengan baju lusuhnya yang sudah kotor dengan tanah.

“Siapa namamu?” tanyaku selintas.

“Historia,” ujarnya. Ia bertanya hati-hati. “Hm … kalau aku yang merawat sendiri harapan yang aku kubur, apa boleh?”

 Hm, sudah kuduga.

“Boleh,” jawabku pendek. “Pulanglah! Nanti orangtuamu mencari.”

Historia berlarian seperti tadi hingga hilang di ujung gang. Aku kembali menyeruput teh. Desau angin membuatku mengantuk. Tidak apa-apalah, tidur hanya lima menit. Sepertinya belum ada peziarah yang akan datang juga. Hoahm.

Aku tertidur entah berapa lama ketika dering ponsel menyentak tiba-tiba. Aku buru-buru mengangkat telepon. Pak Rod!

“Ya, ada apa, Pak?”

“Kamu bagaimana sih?!” aku terperanjat. Baru kali ini aku mendengar ia marah. Apa aku berbuat kesalahan? Belum sempat aku tergagu ingin menjawab, Pak Rod sudah melanjutkan perkataannya.

“Tadi peziarah ada yang lapor harapan milik saudaranya hilang. Padahal mereka ingin membongkarnya hari ini untuk diperjuangkan. Tidak hanya satu, tapi ada tiga makam, hilang semua harapan di liang kubur!”

“Hi … hilang?”

Alamak. Aku teringat Historia. Tadi aku lalai membiarkannya sendiri tanpa pengawasan. Tak kusangka ia seorang pencuri harapan. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Apa ia sudah sering mencuri harapan di tempat lain? Aku menelan ludah. Pekerjaan ini tidak semudah yang aku bayangkan.***

2020

Baca Juga: [CERPEN] Sepotong Senja di Atas Beranda

Alanis Kavi Photo Verified Writer Alanis Kavi

Seorang pemelajar yang (mulai) gemar belajar.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya