Comscore Tracker

[CERPEN] Nasihat untuk Peminjam Buku

Jangan coba-coba

Galih sudah aku kenal lama. Dia anak lelaki berkacamata dengan tubuh jangkung, bendahara di kelas. Soal menagih tak cukup neko-neko, sabar bila ada yang menunggak meski wajah merah padam. Si kutu buku, koleksinya cukup banyak sehingga anak-anak di kelas sering meminjam miliknya.

Sejujurnya aku tak terlalu suka membaca buku. Kalau pun membaca novel, lebih sering di aplikasi. Malas berada di depan buku selama berjam-jam, membolak-balik lembarannya. Jenuh.

Hari ini aku pergi ke sekolah seperti biasa. Lorong masih sepi, menyisakan keras suara bunyi derapku di lantai pualam. Sekolahku terdiri atas dua gedung, satu gedung kelas. Sedangkan satu gedung lainnya berisi seperti ruang guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan, dan lain-lain. Setiap sudut ruangan tersedia CCTV, sehingga meskipun jauh dari kawasan guru kami tetap dalam pengawasan.

Drap drap drap ...

Tak lama untuk tiba di kelas, karena kelasku berada di lantai pertama penghujung gedung.

Aku melihat Galih dan Ega sedang bercakap-cakap. Tanpa niatan untuk menguping, tapi aku mendengar dialog mereka.

“Jadi ke mana bukuku yang kau pinjam itu?” Galih bertanya dengan suaranya yang datar, serta ekspresi yang datar. Tangan kirinya memainkan pena.

“Sebentar lagi, elah. Aku juga baru pinjam kemarin. Enggak usah pelit begitu sama teman sendiri,” ujar Ega.

“Rasanya kemarin juga kau bilang kemarin.”

“Yaudah sih!” Ega meninggalkan Galih dengan wajah kesal. Anak lelaki berkepala botak itu mendengus.

Sudah sering aku mendengar percakapan seperti itu, karena kutahu Galih sensitif masalah bukunya. Kabar burung yang kudengar, orang tuanya sensitif soal pinjam-meminjam. Apabila temannya ada yang telat mengembalikan buku, orang tuanya akan menanyai terus, bahkan sampai memarahi habis-habisan.  Hal itu sendiri tak kuketahui kebenarannya, tetapi bukankah mengesalkan kalau ada orang yang meminjam buku kita terlalu lama?

Aku mendengar suara derap lain ketika meninggalkan kelas. Aku menoleh, melihat Galih turut diam acuh tak acuh.

“Kamu mengikutiku?” tanyaku seraya mengerutkan kening.

“Ah, tidak,” ia menggaruk tengkuk. “Aku hanya ingin ke kantin.”

Dahiku semakin mengerut. Gelagatnya agak aneh, tetapi mungkin memang hanya aku yang terlalu GR diikuti olehnya. Bukan masalah perasaan, lho.

Saat aku pergi ke kantin, aku memesan semangkuk mi ayam. Mi ayam di kantin sekolahku itu sudah juaranya, bahkan masyarakat sekitar sekolah pun banyak yang suka beli disini. Meskipun kantin, tetapi jualannya diperuntukkan untuk siapa saja. Pun bila ada orang yang sekadar lewat, bukan siapa-siapa. Yang penting kan embayar.

Aku melihat dari ujung kantin, Galih kembali bercakap dengan murid lain. Sepertinya mereka berdebat, meskipun Galih lebih terlihat memohon-mohon pada orang tersebut. Orang yang tak kuketahui namanya itu pergi, sedangkan Galih diam di kursi kantin dengan tangan mengepal.

Tak terasa, tiba waktunya pulang.

“Di mana bukuku?”

“Ah, nanti. Aku cari dulu. Buku kamu yang kupinjam, memang yang mana ya ...?” Dania yang sedang membereskan alat make up – biasalah anak perempuan – di meja, dihampiri oleh Galih,

“Buku Berjuta Rasanya dan Sepotong Hati yang Baru. Aku ingat sekali, jangan pura-pura. Sudah dua bulan belum kamu kembalikan, tapi aku masih sabar menunggunya,” tutur Galih dengan mata mengilat.

“Ya sorry Bro, ntar. Aku cari dulu,” ucap Dania enteng. “Lagian itu kan buku murah. Tidak sampai seratus ribu. Aku bisa beli kalau mau!” wajahnya terlihat sangat merendahkan. Dania memang anak orang kaya dan terpandang, tetapi itu tentu bukan perkataan yang tepat untuk orang yang meminjamkan buku kepadanya.  

“Benar ya, kamu cari.” seru Galih bernada datar. Wajahnya serius. Ia berjalan cepat keluar dari kelas. Aku lagi-lagi hanya menjadi penonton bisu, melihatnya menagih peminjaman buku pada teman-teman. Kalau dilihat-lihat ia seperti perpustakaan berjalan, namun tidak sukses karena stok perpustakaan itu semakin berkurang dan berkurang, bukan berkurang lalu bertambah – dalam konteks habis pinjam dipulangkan.

“Kamu kok minjamnya lama amat Dan, sampai dua bulan?” tanyaku. Meskipun, aku tidak terlalu akrab dengan Dania. Tetapi jujur saja, aku penasaran. Meminjam barang orang lain itu membuat perasaan tidak enak dalam hati, selalu ingin cepat-cepat dipulangkan.

“Sebenarnya buku itu sudah rusak, dirobek-robek adik aku. Paling besok-besok Galih sudah lupa,” ucapnya dengan tawa kecil. Aku tercengang. Begitu entengnya kah ia berkata-kata? Seolah tiada beban, justru malah tertawa.

Hari ini aku bertugas piket menyapu kelas. Saat aku menyapu bawah kursi Galih, kutemukan secarik kertas. Sepertinya memang sengaja disobek, terlihat dari bentuk ujung kertas yang tidak teratur.

Di dalam kertas tersebut tertulis:

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Mereka bodoh, hanya bisa berkata tanpa tahu apa maknanya.

Meminjam buku, apakah itu hal yang remeh?

Sedangkan hal remeh selalu mereka anggap prioritas.

Tanpa berpikir panjang, aku menyapu kertas itu ke dalam serokan, bersama sampah dan debu-debu lainnya berasal dari lantai kelas. Beberapa puluh menit berlalu, hingga akhirnya aku meletakkan peralatan membersih itu di sudut kelas. Sedangkan petugas piket lain, biasa. Kabur dari tanggung jawab.

Aku kembali menelusuri koridor seraya bersiul-siul.

***

Sekolah masih agak ramai, meskipun jalan raya di depan gerbang terlihat lengang. Aku menelusuri jalanan aspal. Rumahku tak terlalu jauh, sehingga aku terbiasa berjalan kaki. Itu juga agar lebih sehat, dan tentu saja hemat biaya.

Langit mendung, meski belum ada pertanda ricuh air akan muncul. Hanya semakin kelabu, kelabu, dan kelabu.

Di jalan, aku memikirkan kata-kata Galih di dalam kertasnya tadi. Secuil jiwa? Apa maksudnya? Tungkaiku terus melangkah meski pikiran masih bertanya-tanya. Hingga di pertigaan jalan, aku melewati gang. Meskipun gang tersebut panjang dan gelap, aku sudah terbiasa melewatinya.

Tes ...

Tunggu? Suara apa itu? Aku menajamkan pendengaran. Aku baru tiga langkah menapaki gang, belum tahu apa yang berada di ujung. Dan apalagi, gang ini juga memiliki belokan.

Suara tetesan itu semakin jelas, dan ada suara napas yang terengah-engah. Bukannya menjauh, aku mempercepat langkah dan mendekati arah suara. Aku bukan orang yang penakut, dan selagi tak ada alasan kuat untuk ditakuti, mengapa tidak?

Aku tiba di pertengahan gang, ketika tiba-tiba petir berdentum keras memendarkan gelapnya gang. Memperjelas siluet di dinding gang yang hijau berlumut disertai grafiti remaja. Aku melihat sosok familier.

Namun, ia berbeda. Ia bukan anak berkacamata jangkung si kutubuku yang kutahu, atau kukenal. Yang selama ini selalu tak kusengaja dengar percakapannya, yang akhir-akhir ini mulai aneh gelagatnya. Ia bukan anak tadi sore yang dilabrak oleh peminjam bukunya.

Tidak salah lagi, itu Galih.

Wajah dengan kulit sawo matang dan jerawat yang mencuat itu kini dipolesi oleh bercak darah, juga seragam kemeja putih yang biasanya selalu bersih tak bercela. Aku bisa melihat jelas pulpen dan pisau di tangannya, terfokus oleh cahaya langit.

“Galih ....” aku tercekat.

Ia menoleh cepat. Pandangannya tajam semula, lalu seperti biasanya. Galih menyeringai.

“Galih, a-apa yang kau la-kukan?” tanyaku gemetar. Badanku bergeming, tak mampu bergerak barang sejengkal.

Dania terkapar dengan keadaan yang terlalu menakutkan untuk aku deskripsikan. Aku pikir dia sudah … mati.  Ugh.  

“Hargai buku. Hargai pemilik buku. Itu saja sepertinya sulit sekali ya?” Galih bergumam sedih.   

“Aku kesal sekali dengan manusia yang seperti itu. Tak punya tanggung jawab. Bagaimana ingin memajukan literasi bila meminjam saja tak punya hati? Masih ada banyak manusia seperti orang ini di sekolah. Mungkin kalau bosan nanti kuhabiskan saja,” tutur Galih seraya mengangkat bahu. Ia mendekat ke arahku.           

“Jadi, kau. Atau siapa pun. Jangan coba-coba.”

Glek.***

2017.

           

 

Baca Juga: [CERPEN] Sekeras Batu

Alanis Kavi Photo Verified Writer Alanis Kavi

move

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Budi A.

Berita Terkini Lainnya