Comscore Tracker

[CERPEN] Beri Aku Akhir Pekanmu 

POV Betty: "She lost him, and, someday, that was everything"

Aku merasa seperti pakaian lama yang teronggok begitu saja di lemari. Entah, karena aku sudah tidak lagi cocok membalut tubuhmu atau memang takdir yang hendak menggambarkan bintang di sekitar lukaku kini. Sepertinya opsi kedua yang tepat menjadi alasannya. Seseorang telah berhasil menggantikan posisi orang yang telah membuatku terluka. Dia menggandeng tanganku dengan segala luka yang menyertainya. 

Kehilangan adalah saat menemukan dia masuk dalam hidupku hingga membuatku lupa sejenak dengan lukaku. Luka yang sudah menganga itu berhasil mengering berkat dirinya yang memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan denganku yang mana kutelah beberapa kali gagal menjalin kisah asmara. 

"Kamu lucu dan menggemaskan sekali." Aku masih ingat saat dia mengatakan bahwa aku lucu dan kupikir dia sangat aneh karena lelaki lain tidak pernah mengatakan hal itu. Tapi, dia berbeda. Aku perhatikan saat dia tertawa lepas hingga memundurkan kepalanya ke belakang seolah menganggapku anak kecil yang tengah melucu.

Itulah sensasi yang tidak pernah kurasakan dengan lelaki lain sebelumnya. Apalagi hal yang lebih menyenangkan di dunia ini dari melihat seseorang yang kita sayang bisa tertawa dan kitalah alasannya? Sebelumnya, kupikir tidak akan ada yang memahami candaanku, apalagi satu frekuensi denganku, tapi, hari Rabu itu, di Cafetaria, berdua dengan dia, aku sadar bahwa kisah cintaku akan kembali dimulai. 

Tapi, dia tidak pernah berniat menghabiskan akhir pekannya bersamaku. Sebenarnya, aku berusaha untuk tidak keberatan akan hal itu, karena, dia selalu bersamaku saat masa-masa sekolah dimulai dan berakhir. Dengan segala wujud perlakuan manisnya terhadapku sudah cukup mampu mengaburkan pertanyaan yang beberapa kali singgah di benakku. Apa yang dilakukannya di akhir pekan? Saat liburan sekolah? 

Aku putuskan untuk tidak pernah menanyakan hal itu padanya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau menjadi pasangan pengekang hingga membuatnya pergi sebagaimana penyebab seringkalinya kisah cintaku tidak bertahan lama alias kandas di tengah jalan. Akan kulakukan cara apa pun termasuk mengubah segala sifatku yang akan membuatnya pergi.

Tidak ada celah bagiku untuk berpikir negatif tentangnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada salahnya bukan, jika, ingin pertahankan seseorang yang telah membuatku nyaman? Termasuk menahan sifatku untuk berpikiran negatif tentangnya. Lagi pula, aku kenal dia sebagai sosok yang  pengertian, peduli, lemah lembut, dan, selalu bisa membuatku nyaman. Lantas apa lagi yang kuharapkan? Akhir pekan, rasanya tidak begitu penting untuk diharapkan, bukan? 

Menemukan dia seperti mencari jarum di tumpukkan jerami. Sulit, dia langka, dia satu-satunya yang bisa membuat teman-teman SMA-ku iri diperlakukan manis olehnya. Bahkan, aku sendiri selalu memerah ketika dia mulai menyampirkan rambutku yang menutupi wajahku sambil berkata "Aku bisa seharian memandangi wajahmu yang merah merona seperti ini ... ", mulutku sudah siap menginterupsi, tapi, terpotong oleh perkataannya lagi, "Ayo kita masuk kelas". Dia menautkan jemari kokohnya pada jemariku, kami menjauhi tempat parkir sekolah dan para siswa yang juga baru datang di sana. 

Diriku merasa spesial dan bahagia diperlakukan dengan berbagai hal-hal manis yang tidak pernah kusangka dilakukan olehnya. Tapi, yang pasti, aku selalu merasa sedih ketika libur sekolah di akhir pekan dimulai. Kesepian mulai membelengguku akhir pekan ini, hari liburku pasti terasa lambat tanpanya. 

Sendiri aku habiskan waktu tanpa perlakuan manisnya yang sudah menjadi canduku hingga kini. Aku memutar lagu-lagu yang kusuka saat tidak ada dia di sini, di rumahku. Beberapa hal yang aku kenal tentangnya adalah dia tidak suka keramaian. Mungkin itu salah satu alasan mengapa dia tidak suka menghabiskan akhir pekan seperti remaja pacaran lainnya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Aku berusaha untuk memahaminya sebaik dia memahamiku. Biasanya, sepulang sekolah dia mampir sebentar ke rumahku, tidak banyak yang kita lakukan, hanya berbaring di sofa sambil menonton film favorit kami. Sesekali dia juga memotret dan menyimpan foto polaroid kami berdua, setiap kutanya alasannya, dia selalu jawab, "Kamu tahu, wajahmu lebih cantik di lihat langsung daripada di foto ini. Tapi, setidaknya foto ini bisa terus kupandangi, saat dirimu tidak bersamaku". 

Suatu ketika, ketukan pintu menyadarkan aku dari kenangan manis yang sekilas memintas di benakku tadi. Kubuka pintu hanya untuk melihat ternyata temanku, Inez yang datang. Sebagaimana teman dekat kebanyakan yang datang berkunjung ke rumah temannya, Inez langsung masuk ke rumah sebelum aku persilakan. Baru kali ini aku kesal padanya. Bukan, bukan karena sikapnya yang asal masuk tanpa izin, tapi, karena kata-kata yang diucapkan setelahnya. Inez memberikan rumor yang tidak serta merta aku percayai tentang James, pacarku. Inez bilang kalau pacarku selingkuh. 

Hari beranjak pekan setelah kejadian Inez di rumahku akhir pekan itu. Berpekan-pekan, James juga tidak masuk sekolah, tidak ada kabar sama sekali. Apa telah terjadi sesuatu padanya? Tapi, kenapa dia tidak mengabariku? Apa dia pindah sekolah? Semua pertanyaan itu kutelan sendiri, tidak ada yang bisa aku tanyai dan kudatangi untuk tahu keberadaannya. Dan, kenapa aku tidak pernah tahu rumahnya? 

Nanti, aku yakin dia pasti akan kembali padaku, menemuiku. Aku tahu pasti dia akan kembali. Nanti. Aku berusaha sejenak melupakannya untuk sesaat fokus pada pesta ulang tahunku yang ke-17 akhir pekan ini. Kuabaikan setiap pertanyaan teman-teman yang menanyakan sosok James, karena aku memang tidak tahu harus menjawab apa. Satu yang kutahu pasti, jika, benar dia telah memiliki perempuan lain, artinya, dia tidak bisa memilikiku, lagi. 

***

Semua sudah hadir di pestaku malam ini, musik favoritku berputar di tengah keramaian. Seseorang mengajakku untuk menari bersamanya, lelaki itu bernama Dean, aku mengenalnya dan kuputuskan menerima ajakannya. 

Itu adalah saat aku melihat mata James sedang menelan kecemburuan. Aku senang dan bingung di waktu yang bersamaan. Kenapa James datang ke pestaku? Pesta ini tidak cocok untuknya yang membenci keramaian, ditambah alunan musik yang sudah pasti dia tidak sukai. Kenapa dia menemuiku di akhir pekan? Setelah dia menghilang tanpa kabar dan sekarang menampakkan kecemburuannya tanpa rasa bersalah. Hari dan malam ini, dia memberikan akhir pekannya padaku saat diriku sendiri tidak yakin bahwa aku masih menginginkannya atau tidak. 

Adalah aku yang sudah mengetahui pasti bahwa dia akan kembali nanti, yang akhirnya terjadi saat ini. Masih tidak kusangka dia akan muncul di pestaku malam ini, di tengah keramaian teman-teman, tanpa undangan, di akhir pekan! Matanya seolah berbicara, memohon maaf atas kecerobohannya meninggalkanku—membuat lukaku yang telah mengering lantas kembali menganga olehnya. 

Segalanya berakhir ketika aku berada di mobilnya, dengan outfit putihku yang membalut. "Akankah kamu percaya padaku bahwa perempuan itu bukan siapa-siapa bagiku? Dia hanya sebuah kesalahan. Aku tidak tahu apa-apa saat itu terjadi, tapi, yang kutahu, aku merindukanmu, Betty". Dia memelukku erat. "Aku tahu kamu akan merindukanku, ketika semuanya sudah kadaluwarsa," dia terpaku oleh gumamanku. 

Baca Juga: [CERPEN] Gubuk di Perkemahan

Alya Rekha Anjani Photo Verified Writer Alya Rekha Anjani

Born into nothing and grow into something. Akun IG: antologikata_id

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya