Comscore Tracker

[CERPEN] Lelaki dengan Nyala Api di Dadanya

Tanpa teman berbagi, rasanya menyakitkan

“Azka, cepat kamu setel televisi! Papamu ...!”

Sedikit enggan aku meraih remote control di samping ranjangku. Satu demi satu channel yang ada kutekan sampai akhirnya tubuhku terpaku menatap sebuah tayangan laporan khusus. Sesuatu yang memang kuinginkan, namun tak urung membuat perasaanku miris dan terluka.

Ada banyak wartawan yang berdesakan berusaha mendekati pria setengah baya, yang digiring dan dikawal beberapa petugas kejaksaan dan juga polisi. Mereka berusaha melewati kerumunan wartawan yang begitu gigih melontarkan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Sementara pria tersebut terus berjalan dengan kepala tertunduk, lalu memasuki sebuah mobil tahanan yang parkir di halaman rumah mewah tersebut. Sesaat kemudian, aku hanya diam terpaku, bersandar pada dinding kamar. Sibuk meredam debar di dada.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Kian.

“Azka, kamu baik-baik saja?”

Belum sempat bersuara, Kian telah memberondongku dengan suara cemas. Aku mendesah. Cewek yang telah menjadi pacarku setengah tahun ini, adalah orang pertama yang tidak kuharapkan menghubungiku.

“Ya,” jawabku enggan.

“Kamu sudah lihat televisi?” suaranya terdengar ragu.

Aku mengangguk, namun segera sadar, Kian tidak bisa melihat anggukanku.

“Papamu pasti dijebak.”

Aku terlalu malas untuk bersuara.

“Azka, kamu harus kuat. Aku  selalu ada untukmu.”

“Terima kasih,” desisku,  hampa. Saat ini aku hanya ingin sendiri. Bahkan, suara Kian yang selalu kurindukan pun tidak membantu perasaanku menjadi lebih baik.

***

Seperti yang aku bayangkan, ketika pagi itu aku tiba di sekolah, teman-teman yang sudah mengenal dan tahu siapa Ayahku memberi respons positif. Tidak mencibir atau membuang muka begitu melihatku. Mereka hanya menepuk bahuku dan mengatakan agar aku tetap tenang dan kuat.

“Pasti ada yang enggak suka Papamu, makanya Papamu difitnah,” komentar Yunus.

“Mana mungkin Papamu yang terkenal santun dan dermawan itu terima uang suap,” timpal Mikha.

Berbagai komentar dari teman-temanku–lebih banyak ungkapan simpati dan prihatin–aku tanggapi dengan senyum patah. Aku sudah tidak peduli bila mereka membicarakanku. Begitu pula dengan kepsek dan guru-guruku. Mereka bergantian menemuiku dan mengucapkan sepatah dua patah kata penghiburan. Di mata kepsek dan para guru, Ayahku adalah donatur yang murah hati dan santun. Siapa yang tidak respek?

“Gimana Mama kamu? Mama kamu pasti syok dengan penangkapan Papamu dan berita yang beredar,” Kian meletakkan tangannya di punggung tanganku.

Aku tertegun. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri sampai tidak sempat memikirkan perasaan Ibu tiriku. Perasaan adikku juga.

“Pikiranku enggak sampai ke sana.”

“Aku harap semuanya baik-baik saja,” Kian menatapku lama.

Saat ini aku tidak ingin memikirkan apa pun. Kepalaku rasanya terlalu penuh. Di pikiranku saat ini hanya almarhum Ibuku. Aku ingat masa kecil kami yang manis. Keluarga yang hangat dan harmonis.  Ayah yang hangat dan selalu punya waktu untuk kami, anak-anaknya. Lalu karier Ayah meningkat dan terus menuju ke atas dengan jabatan yang Ayah pegang. Hidup kami semakin makmur setelah Ayah terlibat dalam berbagai proyek yang dipercayakan padanya, seiring dengan  semakin jarangnya Ayah berinteraksi dengan aku dan Alma. Ayah lebih sering di luar rumah dan pulang larut malam. Aku tahu Ibu kesepian. Ibu sering menangis diam-diam. Mungkin Ibu rindu Ayah yang dulu. Seperti yang aku rasakan.

Aku tidak tahu bahwa Ibu menyimpan luka. Ibu bertahan di samping Ayah karena aku dan Alma. Aku tidak pernah melihat Ibu mengomel atau marah-marah pada Ayah di depan kami. Apalagi sampai bertengkar. Walau Ayah sering pulang larut malam, kadang tidak pulang beberapa hari.

“Papamu ada tugas di luar kota,” sahut Ibu bila kutanya keberadaan Ayah.

Meski aku ingin terus bertanya, tapi keingintahuanku selalu kubunuh saat kulihat kabut di mata Ibu; bayang bening di selaput mata; butiran bening di sudut mata yang siap pecah dalam satu kerjapan saja, yang selalu ibu sembunyikan dengan memalingkan wajahnya dariku.

Ketika itu, aku terlalu kecil untuk memahami. Banyak yang Ibu simpan dan pendam di hatinya. Aku baru mulai mengerti saat SMP. Sama seperti Ibu, aku pun hanya menyimpan perasaanku dalam hati. Tanpa teman berbagi. Rasanya menyakitkan.

Mungkin juga karena Ibu tidak ingin membaginya dengan siapa pun. Ibu selalu bersikap tegar di depan aku dan Alma. Aku tidak menyalahkan Ibu, saat Ibu tidak kuat lagi, saat Alma meninggalkan kami karena sakit, tanpa Ayah berada di sampingnya.

Tiga bulan kemudian, Ibu menyusul adikku. Perasaan kehilangan, sakit, dan terluka itu terulang lagi. Aku benci Ayah! Sangat membencinya! Kebencianku pada Ayah seperti bola salju. Apalagi saat Ayah memboyong istri mudanya ke rumah sehingga aku harus berbagi ruang dan udara yang sama dengan Kenzo, anak Ayahku.

Seharusnya Ayah tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saat aku mulai menerima keberadaan Ibu tiriku, saat aku berusaha melupakan dan mencoba memaafkan kesalahan Ayah di masa lalu. Seharusnya Ayah hanya perlu fokus  pada keluarganya saja. Ayah terlalu tamak, terlalu serakah. Satu perempuan tidak pernah cukup dalam hidup Ayah. Ayah mengulangi kesalahan yang sama.

Ayah tidak menyadari, aku bukan bocah lagi. Aku tumbuh dengan luka batin. Aku tumbuh bersama kesepian, luka hati dan kabut di mata Ibuku. Aku hidup dengan menyimpan nyala api di dadaku, yang sewaktu-waktu bisa membakar siapa saja.

Tidak sulit bagiku melacak ke mana Ayah pergi. Aku bisa menguntit Ayah, menyogok, bila perlu mengancam sopir Ayah agar memberitahuku ke mana saja Ayah pergi. Apa yang Ayah lakukan di luar rumah. Sampai aku tahu, ada perempuan lain dalam hidup Ayah.

Aku berusaha tidak peduli saat Ayah bermain kotor dengan proyek-proyek yang Ayah pegang. Aku bisa menutup mataku saat Ayah menerima suap atau apa pun itu. Aku hanya tidak rela melihat perempuan yang kupanggil “Mama” sekarang, mengalami yang Ibuku alami.

Mungkin, Ayahku memang bajingan. Tipikal kepala keluarga yang berengsek. Senang memanjakan diri dengan jabatan dan uangnya. Ayah terlalu mudah membagi perasaan, hati, tubuh, dan hidupnya pada orang lain. Semudah Ayah membagi uang dan kemewahan yang Ayah dapat dengan mudah.

“Azka, mukamu pucat sekali,” Kian menatapku cemas, mengembalikan aku pada realita.

“Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Mamamu pasti akan mengupayakan segala cara agar Papamu bebas. Rumor yang beredar, kepolisian dan kejaksaan menerima surat kaleng, sms, dan telepon gelap tentang Papamu.”

Kehampaan menyesaki perasaanku. Benar, Ayahku ditangkap karena ada yang melaporkannya. Seperti yang orang-orang  katakan. Seperti rumor yang beredar bahwa ada yang tidak suka pada Ayahku dan sengaja mempermalukannya.  Digerebek di rumah seorang perempuan dengan sekoper barang bukti uang suap. Mereka cuma tidak tahu, akulah si pelapor gelap itu, akulah si penulis kaleng itu, akulah si pengirim sms itu. Aku puas bisa membuat Ayahku digerebek polisi dan kejaksaan. Aku puas bisa mempermalukan Ayahku. Entah mengapa, api di dadaku terasa berkobar.

Bayang wajah Ibu dengan segala penderitaannya dan sunyi yang berkabut di matanya, membuat tubuhku bergetar. Tiba-tiba, aku merasa takut pada diriku sendiri. Bukan hal yang tidak mungkin aku pun seperti Ayahku. Bukankah aku ada dari darah yang sama yang mengalir di tubuhku?

Sesaat, kuhela napas panjang, seakan melepas semua yang menyesakkan dada. Untuk terakhir kali kubiarkan mataku menatap wajah Kian cukup lama. Dalam hitungan detik, aku yakin, aku harus melepasnya pergi.*

 

Baca Juga: [CERPEN] Kita, Pantai, dan Cinta

Ana Lydia Photo Community Writer Ana Lydia

God's plan is always more beautiful than our desire

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You