Comscore Tracker

[CERPEN] Lelaki Senin

Ia sungguh misterius...

 

Senin. Hujan beberapa kali turun di sore hari.

Mereka bertemu—untuk yang pertama kali—di sisian super market duapuluh empat jam.

Mira yang pertama keluar, melewati pintu kaca yang terasa amat berat didorong bahu. Tangannya sudah terlalu repot oleh camilan yang sengaja ia beli tanpa kantung (karena akan segera ia makan di sisi super market ini). Mulai dari kripik jagung, biskuit keju, minuman dingin (padahal cuacanya hujan), sampai kripik kentang yang ternyata lebih banyak udara ketimbang isinya. Begitulah Mira melampiaskan lelah kuliah hari ini. Otaknya diperas untuk memecahkan bahasa komputer yang sedikit saja salah, aplikasinya tak bisa jalan.

Anggi menyusul di belakang dengan santai. Ia keluar seraya menenggak air mineral, mengekor Mira yang sudah terlebih dulu duduk. Meja mereka penuh camilan. Sementara meja di samping mereka tidak. Hanya ada seorang lelaki menunduk memandangi ponsel. Mungkin bermain candy crush, atau menghubungi pacar, entahlah. Di mejanya hanya ada segelas americano yang sesekali ia teguk.

Sejak saat itu, Senin bukan lagi tentang perkuliahan penat, tapi tentang bertemu lelaki pucat. Begitulah sepasang sahabat ini bertemu dengan lelaki tanpa nama, pada Senin sore menjelang malam, udaranya dingin dan titik-titik air berjatuhan dari langit.

Mira mengunyah keripik yang tadi ia beli, sementara matanya tetap mengawasi. Ia susuri rambut hitam si pria yang jatuh halus menutupi dahi, mata berbinar memantulkan cahaya layar, lalu turun perlahan ke bibir yang kini melengkungkan senyum. Barisan geligi tampak dari si pucat yang tengah tertawa karena sesuatu di ponsel. Mira mencoba mencari mana gigi taring, namun tak juga ia temukan. Semua sama rata. Lelaki pucat itu giginya lebih adil dari kasih sayang seorang ibu.

Anggi di sisinya sibuk berkutat dengan ponsel dan berdecak, menggulir berita sepasang sejoli mesum yang diarak telanjang oleh warga.

“Kira-kira siapa namanya?” Mira berbisik.

“Lelaki itu?” Anggi menoleh.

“Iya, dia tampan sekali. Aku ingin tahu siapa namanya.”

Anggi melihat Mira dan lelaki tanpa nama di samping meja mereka secara bergantian. Mira jatuh cinta. Itu jelas. Pandangan macam itu tak pernah Mira beri pada siapapun; yang matanya mengawang tanpa kedip, tak ada jiwa—hanya ada kekaguman.

Si pucat meletakkan ponsel lantas tengadah. Mungkin menakar apa hujan telah berhenti. Untuk beberapa detik pandangan mereka bertemu. Mira tersenyum. Si pucat memalingkan wajah, memakai tas selempang bermotif etnik—yang sepertinya dibeli di tempat jauh, melewati hutan dan rawa. Kearifan lokal membuat Mira membisu, sementara si pucat bangkit, melangkah cepat meninggalkan super market.

“Aku bahkan belum tahu siapa namanya.”

“Kita bisa datang lagi besok,” ujar Anggi menenangkan.

Selama seminggu, mereka datang untuk bertemu lelaki tanpa nama, menyempatkan diri setelah pulang kuliah, sembari membeli sebotol air mineral. Namun yang dituju tak juga tampak. Bangku-bangku depan super market itu sepi. Hanya ada bapak tua menyeruput kuah ramen.

Dua sobat itu pulang dengan langkah gontai. Mira karena tak bertemu pujaan hatinya, sementara Anggi karena terlalu lelah. Hidup tak lagi sama sejak kakaknya mati satu bulan lalu. Menyaksikan kematian di depan mata membuat Anggi berpikir, kapan giliran itu datang menjemput.

Tuhan.”   

“Tuhan?”

“Ingat Tuhan.” Dua kata itu jadi yang terakhir diucap sang kakak. Pelan, nyaris tanpa suara. Namun, suara orang yang telah mati selalu terdengar lebih kencang di telinga ketimbang suara orang-orang hidup. Kata-kata dari orang yang telah tiada, dipercaya seakan itu sebuah pusaka. Memang begitu adanya. Anggi seperti bukan dirinya semenjak mengingat kata terakhir sang kakak. Ingat Tuhan. Topik tentang mengejar cinta terdengar tak lagi menarik di telinganya.

**

 

Mira menyebutnya lelaki Senin.

Minggu berikutnya ia dan Anggi kembali bertemu si pucat di jam yang sama, di tempat yang sama pula. Anggi hanya duduk, menikmati teh dingin kendati hujan turun. Berbeda dengan Mira yang begitu sibuk. Ia bahkan sengaja mematut diri di kaca super market sebelum keluar dan duduk di meja sebelah.

Ehm, permisi.”

“Silakan.”

Sore itu telinga Anggi penuh racauan Mira tentang betapa tampannya si lelaki pucat. Betapa ia ingin tahu siapa namanya. Dan keanehan mengapa si pucat begitu acuh tak acuh, di saat yang lain berebut ingin kenal Mira. Dia berbeda. Itu membuat Mira penasaran. Dan ia bersyukur bisa kembali merasakan jatuh cinta setelah tiga tahun hidup dalam kehampaan. Anggi hanya iya-iya saja mendengar ocahannya.

“Menurutmu bagaimana dia memperlakukan kekasihnya?”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

“Kenapa tanya hal seperti itu?” balas Anggi tak begitu peduli.

“Lihat, dia hanya duduk, memandangi ponsel. Kau lihat waktu teman-temannya datang? Dia hanya diam dan sesekali menanggapi. Aku jadi penasaran, bagaimana dia memperlakukan kekasihnya?”

“Tipe setia.”

“Aihhh!” Mira terkikik sendiri. Bayangan itu membuat hatinya bergetar. Ia pandangi lagi si lelaki Senin. “Tak salah lagi,” ia bergumam.

Lelaki Senin itu pergi setelah hujan reda. Tak lama kemudian, Mira dan Anggi juga pulang. Hati Mira berbunga-bunga meski ia belum kenal siapa si pucat. Tapi dengan menikmati keindahan wajah itu, dia sudah merasa puas. Senang rasanya. Mira pulang sambil bersenandung kecil, membayangkan kontur wajah si pucat, betapa manis senyumnya. Ia bayangkan bibir tebalnya di atas bibir kecil si cantik. Ah, begitu pas. Begitu serasi.

“Kami bertemu pandang beberapa kali tadi. Kau lihat tidak waktu—”

Ucapan Mira itu jadi blablabla tidak jelas di telinga Anggi. Anggi teringat kejadian tadi, ketika ia penasaran setampan apa lelaki yang Mira puja. Tahu-tahu pandangan mereka bertemu. Anggi seakan tersentak. Tak berani melapas atau sekadar berkedip. Mata kecil si Senin beralih ke layar ponsel. Malu.

“Senin depan kita ke sana lagi. Aku harus berkenalan dengannya.”

Anggi balas mengangguk, namun ketika menaiki bus, yang ia ingat hanya mata kecil yang menatapnya tersipu.

**

 

Selama empat Senin berturut-turut mereka bertemu. Namun tak juga Mira tahu siapa lelaki itu. Dia terlalu malu. Muncul beragam pertanyaan di kepalanya, mengapa mereka hanya bertemu di hari Senin, pada waktu sore menjelang malam? Bukan di hari lain. Pasti ada sesuatu yang menahan si pucat di sini. Lagipula sepanjang pengamatan Mira, dia hanya diam memainkan ponsel. Sesekali tersenyum (masih pada ponsel), lalu ketika malam tiba dia akan pulang. Entah kemana. Apa mungkin menemui kekasihnya yang punya jadwal kuliah dan mereka teratur bertemu di jam segitu?

Mira mengenyahkan pikiran itu. Anggi di sisinya sibuk menggulir layar.

“Kau mau bantu aku?”

“Eh, ya?” Anggi tersadar. “Bantu apa?”

“Aku ingin foto dengan lelaki Senin. Fotokan kami.”

“Kau yakin?” Anggi melihat meja seberang. Si pucat sedang asik meneguk kopi dari sedotan.

“Tak ada waktu lagi. Aku tak bisa menunggu Senin depan. Terlalu lama. Tenang, aku yang minta. Setidaknya meski tak dapat kontak, aku punya kenang-kenangan untuk disimpan.”

“Kau yakin?”

Mira mengangguk. “Lagipula aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Kalau dia menolak pun aku tak akan malu.”

“Baiklah kalau kau yakin. Mana ponselmu. Biar aku potret kalian.”

Mira menyerahkan ponselnya sambil berbisik, “Kalau aku gagal, kita tidak usah datang tiap Senin ke sini lagi. Oke?”

Anggi mengangguk. Mira bangkit menghampiri si pucat. Kawannya itu menyapa, disambut hangat oleh si pucat. Mereka berkenalan, tertawa-tawa sebentar. Samar Anggi dengar nama Min Dafa terucap. Lelaki itu ternyata tak sedingin kelihatannya. Mira merangkul lelaki itu setelah mengobrol entah apa, menggiring Dafa memandang titik kamera di ponsel yang Anggi pegang.

“1, 2, 3!”

Mereka tersenyum dibidik kamera. Anggi pandangi Mira di sana. Perlahan wajah itu berubah jadi wajahnya. Yang tertawa-tawa dan mengobrol hangat berganti jadi dirinya. Anggi terpaku melihat tubuhnya sendiri di sebelah Dafa. Mira berubah jadi dirinya. Ia berkedip, memandang hasil foto yang ia ambil. Lelaki yang duduk di samping Dafa ini seharusnya Mira, tapi ia lihat Anggi yang ada di sana. Semua Mira berubah jadi dirinya.

***

 

 

arien Photo Community Writer arien

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Community IDN Times

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You