Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Lensa Berantai

Dalam kebisuan, ada yang memburu dan diburu

Aku lelah ketika itu—sangat lelah, sampai-sampai aku lebih memilih untuk tenggelam dalam mimpi yang melantur alih-alih memperhatikan sekitar. Dalam mimpiku, aku memiliki sepasang sayap putih yang senantiasa membawaku ke mana pun hatiku ingin pergi.

Sementara mataku mengintai siluet seseorang yang berjalan dengan kakinya yang letih, sayapku membawaku berputar-putar kegirangan menembus awan di langit biru. Ada rasa simpati saat melihatnya, tetapi entah mengapa aku lebih memilih untuk bersenang-senang dengan gumpalan putih tersebut. Sekarang, aku menyesal karena tidak turut serta membawanya terbang. Sungguh menyesal.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, saat itu aku benar-benar tenggelam dalam imajinasiku sendiri. Aku langsung memejamkan mata begitu berhasil menempati tempat duduk yang kosong. Kereta memang tidak sepi saat itu, tetapi di stasiun-stasiun selanjutnya tentu penumpangnya akan bertambah, bukan?

Aku bisa mendengar suara lelaki yang meminta jalan untuk sekadar lewat, gadis yang tertawa-tawa bersama temannya saat berhasil masuk, dan suara-suara lainnya yang tak bisa kujelaskan. Samar-samar aku pun mendengar ribut-ribut di dekatku, semakin lama semakin dekat … tetapi aku lebih memilih untuk mengabaikannya, menyerahkan diriku sepenuhnya kepada kantuk. Sungguh, aku menyesal.

“Duh, malu-maluin viral gara-gara aib.”

“Jauhkanlah hamba dari orang-orang egois kayak Mbak ini, ya Tuhan ….”

“Semoga Mbak-nya nanti pas hamil juga gak dikasih tempat duduk.”

Gulir, gulir, dan gulir hingga lini masa itu menemui akhirnya. Layar ponsel masih menyala, menampakkan serangkaian kata-kata yang tajamnya menyerupai belati. Sakit hatiku melihatnya, tetapi kutelan mentah-mentah perasaan itu. Biar bagaimana pun, ibu hamil di kereta itu pasti merasa jauh lebih sakit saat menahan nyawa lain di rahimnya sambil berdiri. Entah sampai kapan ia berdiri, pasti ia merasa sakit ….

Aku beranjak dari tempat tidur. Sesungguhnya aku tidak ingin meninggalkan satu-satunya tempat yang memberikanku sedikit rasa nyaman, tetapi apa boleh buat. Pendidikan adalah segalanya, kata kedua orang tuaku.

Cahaya matahari serta-merta menyerang wajahku saat aku melangkahkan kaki ke luar kamar indekos—begitu pun dengan beberapa pasang mata. Kilatan pada bola mata mereka cukup meyakinkanku bahwa hari ini aku akan jadi mangsa, lagi. Detik saat mulut mereka terbuka adalah detik saat aku berhasil dilukai oleh mereka, para pemburu.

“Ih, mukanya tengil banget!” tampar salah seorang dengan kata-kata yang keras.

“Bikin malu kampus aja, sih,” tusuk seorang lainnya dengan kata-kata yang dingin.

Belum terlambat untuk menggunakan penyuara kuping, pikirku sambil mengeluarkan benda yang kuanggap sebagai tameng dunia itu. Mereka berhasil melukaiku, tetapi tidak membunuhku. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku memang merasa menyesal karena telah menyakiti seorang ibu hamil; bahkan aku ingin sekali bertemu langsung, meminta maaf, dan berlutut di hadapannya jika Tuhan mengizinkan. Aku sadar aku telah salah, tetapi kurasa aku juga tidak pantas untuk dikucilkan seperti ini. Tidak, tidak selama ini.

Sudah lebih dari seminggu … atau dua minggu? Sudah berapa lama aku takut untuk menutup mata? Berapa kali mimpi buruk menghampiri setiap aku tidak sengaja tertidur? Mau sampai kapan aku diburu?

Aku terdiam. Tidak ada jawaban yang dapat kuberikan untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan setelah langkahku berhasil membawaku ke tempat pangkalan ojek, jawaban yang kucari masih nihil. Sebesar-besarnya rasa kecewaku terhadap para pemburu, aku lebih kecewa dengan diriku sendiri, si mangsa yang takmampu melakukan apa pun selain bertanya-tanya dan menyesali nasibnya.

**

“Kamu masih di-bully, ya?”

Wina, sahabatku sejak SD, sadar betul pertanyaannya bersifat retorik. Diamku tentu tidak mengejutkannya. Kami sedang berada di sebuah kafe terpencil yang sunyi pengunjung, tetapi hasil racikan kopinya begitu nikmat. Kafe ini adalah tempat kami biasa bertemu ketika waktu memungkinkan.

“Gak, kamu gak boleh pesan kopi. Pesan teh, nanti aku yang bayar.”

Ah, rupanya Wina juga sadar akan kantung mataku yang menghitam. Aku sedikit kesal, tetapi kuturuti saja kehendaknya. Tenagaku terlanjur habis sebelum bisa berdebat dengannya, pikirku. Lagi pula, teh juga mengandung kafein seperti kopi. Mungkin aku masih bisa terjaga semalaman setelah meminumnya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Maaf, aku cuma bisa bantu sebatas ini,” ujarnya sambil mengaduk-aduk kopi susu dengan perlahan. “Kalau sekarang, kamu mau cerita kejadiannya, gak? Sudah hampir dua minggu kamu di-bully …. Aku ….”

“Aku perlu ceritanya dari sudut pandangmu.” Wina berhenti mengaduk kopinya dan menatapku dengan wajah sendu. Genangan air mata tertahan di kelopak matanya.

Inilah sebabnya aku tidak mau cerita masalah ini kepada siapa pun: air mata. Cukup aku saja yang kecewa, orang lain tidak usah. Sekarang kalau semua kecewa, aku yang paling kecewa harus apa?

Aku kembali terdiam. Wina juga terdiam sambil kembali menatap kosong kopi susu di depannya, sadar tatapannya barangkali membuatku tertekan. Aku tahu dia menungguku membuka mulut, tetapi apa daya lidahku kelu. Aku tidak bisa, ujarku di dalam hati berulang kali, hingga akhirnya kami menghabiskan masing-masing pesanan dalam kebisuan yang diselingi basa-basi seadanya.

“Kalau kamu mau curhat, chat-ku terbuka setiap saat. Kalau mau ketemuan lagi juga bisa banget, kok.” Wina menggenggam tanganku. “Kamu gak sendiri, ingat itu. Ada aku.”

***

Hari ini aku pulang ke rumah. Seperti dua minggu yang lalu, aku pulang naik kereta. Bayangan ibu hamil yang berdiri di depan tempat duduk kosong di tengah gerbong terlihat olehku. Bayangan itu kiranya takpaham, tanpa keberadaannya pun aku enggan untuk duduk di sana. Dia menghilang saat seseorang menempati tempat duduk itu.

“Permisi, ada ibu hamil.”

Sontak aku menoleh ke arah sumber suara yang ternyata hanya terpaut beberapa langkah dari tempatku berdiri. Pemilik suara—pria muda yang kelihatannya baru saja pulang kerja itu terlihat berusaha membangunkan pria paruh baya di depannya yang tertidur, tetapi usahanya sia-sia karena pria di depannya tidak juga membuka matanya.

Orang-orang di sekitar kedua pria itu mulai berbisik-bisik. Ibu hamil yang menunggu di sebelah si pria muda mengelus-elus perut buncitnya, masih berharap akan mendapat tempat duduk. Sepertinya memang satu-satunya harapan ibu hamil itu adalah pria yang tengah tertidur di antara wanita muda yang sibuk dengan ponselnya, wanita paruh baya, wanita yang membawa anak kecil, dan wanita lanjut usia yang memenuhi rangkaian tempat duduk yang tersedia di gerbong tempatku berdiri.

Desiran aneh tetapi menyesakkan di dadaku sudah terasa sejak aku melihat ibu hamil itu. Lalu pria paruh baya yang tertidur di depannya—tidurnya pulas sekali, seperti aku dua minggu yang lalu. Aku yakin pria itu tidak pura-pura tertidur, dia sungguh sedang berada di alam mimpi saat ini.

Aku mengamati sekitar pria itu, lalu samping kanan-kiriku. Tiba-tiba ujung mataku menangkap kejadian, perasaan, memori paling memuakkan tepat di sebelah kananku—seorang remaja perempuan yang terlihat beberapa tahun lebih muda dariku sedang mengangkat ponselnya dengan waspada. Kameranya menyala dan layar ponselnya menunjukkan sosok pria yang tertidur itu beserta ibu hamil yang berdiri di depannya.

Seketika aku sadar, perburuan ini jauh dimulai sebelum mereka mencaci-maki diriku. Perburuan ini sudah berlangsung sejak lensa pengecut itu menangkap segalanya dalam bisu—ah, bukan ... bukan dia yang pengecut. Pemiliknyalah yang demikian, menggunakan lensa itu beserta dosa yang tertangkap olehnya sebagai pemuas ego. Kemudian pemiliknya mengekang si pendosa dengan rantai berwujud pranala penyebar aib manusia di dunia, rantai yang nyaris mustahil diputus oleh mangsa menyedihkan sepertiku yang takut untuk membebaskan dirinya sendiri.

Nyaris.

Aku tidak tahu apakah aku melakukannya dalam kesadaran penuh atau tidak sama sekali. Tanganku menggenggam tangan remaja itu dengan bergetar, tetapi cukup erat. Ada suatu gejolak hebat dalam dadaku yang mendorongku untuk melakukannya. Aku harus menghentikannya sekarang juga.

“Jangan. Kamu gak tahu seberapa berat hari yang dilewati Bapak ini. Biarkan dia istirahat. Tolong maafkan dia.”

Mata remaja itu menyorot dingin kepadaku, tetapi semburat merah lebih dominan terlihat di wajahnya. Dia mematikan akses kameranya tepat saat ibu hamil itu meninggalkan tempatnya berdiri. Seorang wanita paruh baya dengan seragam kerja berwarna biru langit tampak mempersilakan ibu hamil itu untuk menggantikannya menempati tempat duduknya.

Aku melepaskan genggamanku darinya. Aku tertunduk, merasa bodoh karena baru menyadari pentingnya membuka diri. Namun, ada rasa bangga terselip saat aku juga menyadari bahwa belum terlambat bagiku untuk berbuat demikian. Sesampainya di rumah, aku akan menceritakan semuanya kepada Wina, mulai dari dua minggu yang lalu hingga detik ini, detik saat aku berhasil memutus salah satu rantai.***

Bogor, 16 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Jangan Panggil Aku Lemot

Arifa H. Photo Community Writer Arifa H.

Dreaming with eyes open

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You