Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Kisah Anomali di Warung Kopi

Benar adanya, warung kopi adalah tempat paling demokratis

Lampu-lampu tepi jalan rumah warga Kampung Kueni temaram bersinar dimalam hari. Setelah hujan tadi sore, udara lembab dan suhu menjadi dingin membuat warga malas keluar rumah. Riuh terdengar suara kung kang kong dari anak-anak kodok, mereka girang karena kolam dan parit penuh dengan air. Sungguh malam itu terlalu syahdu jika hanya dihabiskan dengan selonjoran menonton TV di rumah.

Selepas petang aku memilih pergi jalan kaki menuju warung kopi Ibu Enggar, hanya beberapa puluh meter dari rumahku untuk sekedar bersantai. Sudah seminggu sejak aku pulang ke Kampung Kueni, hampir lima tahun aku bekerja di luar kota. Saat masuk ke warung dan memesan kopi dan mie instan, terdengar dari belakang punggungku suara memanggil namaku dengan nyaring.

"Bang Idris, lama tidak jumpa. Bagaimana kabar abang?" katanya. Sontak aku terkejut lalu menoleh ke belakang, suara siapa gerangan itu? Berdiri sosok laki-laki tinggi besar dengan kulit gelap dan rambut keriting, namun senyumnya lucu seperti balita sedang berdiri di hadapanku.

"Daus! kamu ternyata? kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" jawabku.

"Iya bang, kabarku juga baik-baik saja," sahutnya.

Sependek ingatanku, mungkin hampir delapan tahun aku tidak pernah bertemu Daus. Malam itu di warung kopi Ibu Enggar, kami ngobrol saling bercerita kisah perjalanan hidup masing-masing hingga larut malam.

Firdaus Agami nama lengkapnya, ia merupakan anomali di kampung halamanku, Kampung Kueni di Kota Balikpapan. Aku lebih tua beberapa tahun dibanding Daus, ia sebaya dengan adikku satu-satunya. Kini usia mereka pada pertengahan 20-an. Asal-usul Daus hingga seperti sekarang yang yang ngobrol denganku selalu menjadi cerita menarik dan unik.

Seperti yang sudah kuketahui sejak kecil, Bimantoro adalah seorang pengusaha mebel yang cukup sukses di kampungku. Sayangnya, ia dan istrinya sudah empat tahun menikah belum juga dikaruniai anak. Singkat cerita, untuk mengisi kehampaan di rumah tangga mereka, diputuskanlah untuk mengadopsi seorang anak.

Sepasang suami-istri perantau dari Atambua kontrak dan tinggal di kampungku. Pekerjaan sang suami dan kondisi ekonomi mereka sekarang tidak mampu lagi menghidupi empat anak mereka. Bayi laki-laki bungsu mereka baru berumur tiga bulan, saat mereka memutuskan untuk pulang kampung ke Atambua. Karena tidak cukup modal pulang, minta tolonglah mereka pada Bimantoro. Kondisi tersebut disanggupi Bimantoro, dengan syarat bayi bungsu mereka akan dibesarkan oleh Bimantoro. Kesepakatan tercapai, suami-istri perantau tersebut bisa pulang kampung, Bimantoro mengadopsi sang bayi dan memberi nama baru, kelak bayi tersebut yang kukenal sebagai Daus.

Selanjutnya yang terjadi adalah cerita bagaimana Daus harus menjalani hidupnya dengan mata semua orang di kampungku tertuju padanya. Daus jelas berbeda secara fisik dengan warga Kampung Kueni yang rata-rata perantau dari jawa dan sulawesi, kulitnya gelap dan rambutnya keriting, ditambah lagi statusnya sebagai anak adopsi yang membuat ia selalu dirundung oleh teman-temannya hingga remaja.

***

Kilas balik beberapa tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku SMP. Cerita perundungan terhadap Daus kudengar dilakukan oleh tiga bocah tengil banyak tingkah bernama Raskalis, Jerko, dan adikku sendiri. Mereka masih kelas 5 SD saat kejadian yang menurutku konyol itu terjadi. Saat jam istirahat mereka bermain gundu di halaman sekolah.

Tuhan seperti memberi Daus kemampuan istimewa untuk membidik gundu lawannya, sehingga ia tidak terkalahkan selama permainan. Raskalis, Jerko, dan adikku tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka tampak amatir dalam dunia pergunduan. Timbulah tindakan tidak terpuji, olok-olok dari Jerko yang celakanya menyangkut identitas Daus.

"Kamu tidak akan pernah jadi artis hanya dengan menang gundu, dasar gosong!" ujar Jerko pada Daus.

"Iya, gosong kayak pantat panci" timpal Raskalis.

"Iya, betul" tambah adikku.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Demi mendengar olok-olok dari teman-temannya sendiri, Daus menangis. Ia memilih pulang dari sekolah tidak melanjutkan jam pelajaran selanjutnya. Tidak pula ia ceritakan pada siapa-siapa yang terjadi padanya termasuk Bimantoro dan istrinya, karena ia sudah sering menerima perlakuan serupa. Segalanya ia simpan dan tanggung sendiri.

Esok hari, Daus tidak hadir di sekolah. Ibu Mitha selaku wali kelas tentu bertanya pada siswa lain mengapa Daus tidak ada kabar berita hari itu, dan tidak ada yang tahu. Ketidakhadiran itu berlanjut hingga tiga hari berturut-turut. Terdorong oleh tanggungjawab sebagai guru dan wali kelas, Ibu Mitha inisiatif mendatangi rumah keluarga Bimantoro, mencari tahu apa yang terjadi.

Hasil pengecekan Ibu Mitha ke rumah Bimantoro, dan jawaban langsung dari Daus di rumah. Pasca kejadian perundungan itu, setiap hari ternyata Daus tetap pamit pergi ke sekolah kepada Bimantoro, tapi ia mangkir dari sekolah dan pergi ke tempat lain demi menghindari anak-anak yang telah menyakiti perasaannya. Tidak ada solusi lain, dipanggilah orang tua masing-masing anak yang terlibat ke sekolah, termasuk ayahku.

Para orang tua dipertemukan bersama anak-anaknya di ruang kepala sekolah. Daus, Raskalis, Jerko, dan adikku harus saling minta maaf. Orang tua diminta komitmennya atas pengajaran moral anak, tidak ada perlakuan berbeda antara mereka, dan Daus harus sekolah lagi seperti biasa.

Malu atas keterlibatan adikku pada suatu tindakan tidak terpuji. Aku ikut kena imbas diceramahi ayahku tentang memperlakukan orang lain.

"Bayangkan dirimu berada di posisi orang lain. Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan," kata ayahku. Nasihat yang selalu kupegang kapanpun dan di manapun aku berada.

Udara malam semakin lembab, dingin menusuk-nusuk kulit manusia yang masih di luar rumah. Aku masih larut dalam obrolan dengan Daus. Sampai juga ia pada ceritanya tentang meneruskan usaha mebel Bimantoro. Ya, aku dengar kabar meninggalnya Bimantoro saat sedang kuliah tingkat akhir pada sebuah kampus di Pulau Jawa. Usai lulus SMA aku memang kuliah di jawa, sementara Daus masih duduk di bangku SMP. Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu Daus lagi.

Bimantoro meninggal setelah terkena serangan jantung, sementara Daus baru tamat SMA. Bimantoro telah mengajari Daus seluk-beluk usaha mebelnys sejak anak itu beranjak remaja. Semua relasi dan pelanggan diperkenalkannya pada Daus. Alasan Bimantoro adalah agar anak itu bisa menghadapi orang lain dan kelak hidup mandiri tanpa perlu dibela siapapun. Begitu Bimantoro meninggal, Daus memilih tidak kuliah. Ia melanjutkan usaha mebel Bimantoro, ayah angkatnya. Hingga bertahun-tahun kemudian aku bertemu dengannya lagi di warung kopi Ibu Enggar. Dia sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang putri.

"Usaha mebel selalu naik turun bang, tidak ada yang pasti, jawab Daus saat kutanya perkembangan usahanya usai meneruskan dari Bimantoro.

"Banyak teman-teman yang sekarang ikut kerja bareng kami bang," jelasnya. Lumayan terkejut waktu kudengar bahwa Raskalis dan Jerko, bocah-bocah tengil itu yang dulu ikut merundungnya sekarang menjadi karyawannya.

Malam sudah larut jauh dan semakin dingin, aku memilih undur diri untuk istirahat. Dompet kukeluarkan dari saku celana untuk membayar makanan dan minuman.

"Sudah dibayar Bang Daus," kata Bu Enggar. Aku menoleh pada Daus yang masih duduk di kursi sambil menikmati kopinya. Ia sudah membayar semua pesananku.

"Sudah bang, anggap saja ucapan selamat atas kepulangan Bang Idris," jawab Daus. Aku ucapkan terima kasih dan pamit pulang.

Sambil berjalan kaki menyusuri jalan pulang ke rumah, aku merenung terhadap apa yang terjadi pada orang-orang seperti Daus. Bahwa di dunia ini selalu ada tempat untuk pengecualian.

Samarinda, 05 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Lelaki dengan Sayap di Punggungnya

Bayu Widhayasa Photo Community Writer Bayu Widhayasa

Suka belajar tapi tidak suka makar

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

JADWAL SALAT & IMSAK

23
MEI
2019
18 Ramadan 1440 H
Imsak

04.26

Subuh

04.36

Zuhur

11.53

Asar

15.14

Magrib

17.47

Isya

19.00

#MILLENNIALSMEMILIH

Versi: 23 May 2019 05:15:05

Progress: 765.196 dari 813.350 TPS (94.07955%)

Just For You