Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Otak Cakap, Mulut Bungkam

Kamu perlu bersuara.

Sesekali, kamu perlu berhenti membaca. Tutup bukumu, abaikan sejenak rumus-rumus kalkulus untuk ujian nanti. Sesekali, kamu perlu berhenti menunduk. Angkat kepala dan pasang telinga. Lihat baik-baik, apa yang terjadi di sudut belakang ruangan? Dengar baik-baik, apa yang mereka teriakkan pada ‘si buangan’? Sudah sadar?

Sesekali, kamu perlu berhenti diam. Ah, tunggu, kalimatnya belum pas.

Kamu perlu berhenti diam.

Lebih tepatnya, harus. Kamu harus berhenti diam. Tidak hanya sesekali. Selalu, dan harus.

***

“Bi, Abi!”

Seseorang menjentikkan jarinya tepat beberapa senti di depan wajahku.

“Ah, apa?” Aku merespon bingung.

Meira, orang yang membuyarkan lamunanku, memutar bola matanya. “Gue udah cerita panjang lebar dan lo nggak dengerin sama sekali?”

Aku hanya bisa tersenyum dengan rasa bersalah. Sedari tadi, aku lebih memperhatikan buku fisika di atas meja. Sebentar lagi ujian dimulai, aku harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk semester terakhirku di sekolah.

Tahun ini ambisiku hanya satu, mempertahankan peringkat satu yang sudah jadi tempatku selama tiga tahun sekolah. Lagipula bukannya aku sengaja tidak mengacuhkan Meira, kupingku masih bisa berfungsi meskipun mataku fokus membaca. hanya saja suasana kelas terlalu bising untuk bisa mendengar celotehannya dengan baik.

Sekolah ini, khususnya di kelasku, tidak pernah damai selama jam istirahat. Selalu ramai dengan siswa-siswi yang asyik mengobrol dan bercanda keras-keras. Obrolan berisik tersebut bercampur dengan umpatan-umpatan kasar, juga pukul-memukul yang terjadi di pojok kelas. Aku sendiri tidak memahami mengapa mereka semua betah berdiam di kelas. Ini kali pertamaku menghabiskan waktu istirahat di kelas. Aku lebih sering berada di perpustakaan, sayangnya hari ini pengecualian karena sedang tutup.

“Maaf, deh. Lo cerita apa tadi?”

“Soal Adrian, coba tebak kemarin waktu pulang sekolah dia ke mana?” Meira memperkecil suaranya, setengah berbisik.

Lanjutnya, “Gue liat dia duduk di depan pos satpam, ngobrol sama kucing sekolahan masih dengan seragam yang basah kuyup! Ya, sebenernya normal aja sih, ngobrol sama kucing. Masalahnya ini Adrian, Bi.”

Alisku naik otomatis mendengar cerita itu. Bisa-bisanya Meira membicarakan seseorang yang jelas-jelas ada di kelas. Adrian sendiri bukan topik pembicaraan yang biasanya dipilihnya. Sahabatku itu lebih tertarik membahas artis Korea kesukaannya atau bergosip soal anak-anak populer di sekolah. Adrian bukan salah satunya. Ia adalah topik yang cenderung dihindari oleh siapapun, terutama di kelasku.

“Waktu itu juga, gue pernah ke-“

BRAKK!

Bunyi bantingan meja membuatku tersentak. Demikian juga Meira, langsung bungkam tanpa berani melanjutkan ucapannya. Seisi kelas ikut sunyi. Sumber bunyinya tidak jauh dari tempat dudukku, selisih tiga kursi. Tempat duduk paling pojok dan paling horror, katanya. Sebelum menoleh, aku sudah bisa memahami apa yang terjadi lewat ekspresi Meira. Adrian. Pasti lagi-lagi diganggu oleh gerombolan siswa yang menganggap diri mereka keren.

Ah, rupanya tidak ada yang peduli. Tak sampai semenit, kesunyian yang sempat datang sudah hilang. Siswa-siswi kembali melanjutkan aktivitas, seakan-akan barusan tidak ada yang terjadi.

Meski tahu soal Adrian, baru kali ini aku berada di tengah-tengah kejadian. Insiden Adrian memang makanan sehari-hari bagi anggota kelas 12 IPA 3. Bagi Adrian juga, pukulan dan makian adalah makanan sehari-hari untuknya, bahkan sejak tahun pertamanya di SMA. Saking lamanya dan karena terlanjur terbiasa, aku tidak pernah benar-benar tahu alasan laki-laki bertubuh mungil itu berakhir jadi ‘samsak’ sekolah.

Jadi, seperti ini rasanya berada di antara kumpulan orang yang tidak peduli.

“Oke, gue jadi nggak minat lanjutin topik yang tadi,” ujar Meira.

Memangnya sejak kapan ada yang berminat membahas Adrian?

Aku mengedikkan bahu. “Udah mau bel juga. Mending lo balik ke kelas sendiri.”

“Bener juga.” Meira melirik jam dinding. “Yaudah, lanjutin sana belajar lo.”

Tepat setelah Meira keluar kelas, bel yang telah kuprediksi pun berbunyi. Kelas seakan langsung berkamuflase menjadi ‘normal’. Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing. Meja kursi yang tadi kacau balau juga sudah di posisi semula, lengkap dengan Adrian yang sudah duduk seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

Menyedihkan. Kenapa tidak melawan?

Guru memasuki kelas dan pelajaran langsung dimulai. Murid-murid langsung bertopang dagu, menahan kantuk. Sebagian sudah bersembunyi di balik buku dan tertidur. Terbukti, guru Sosiologiku membosankan. Apa pun yang dibahasnya tidak pernah benar-benar didengarkan oleh kelas. Aku sendiri mendengarkan, meskipun masih sambil berkutat pada buku fisika.

“Nah, minggu lalu kita sudah membahas tentang permasalahan sosial di lingkungan sekolah. Kali ini kita persempit lagi, soal bullying antar remaja.”

Ha. Topik yang penuh omong kosong.

Kata guruku, “Saya sendiri bersyukur di sekolah kita damai tenteram. Nggak pernah ada bully, kan, di sekolah ini?”

Kelasku tetap diam, tidak berminat menjawab. Bukan karena ingin menyembunyikan, hanya saja aku tahu mereka memang tidak mau repot-repot membuka mulut.

Tanpa sadar aku melirik Adrian. Laki-laki itu malah asyik menggambar. Bahkan yang terlibat saja tidak peduli. Rasional, sih. Pasti menurutnya, mengaku juga tidak akan mengubah apa-apa.

“Halo? Anak-anak?” tanya guruku lagi.

“Nggak adaaaa,” seru murid-murid malas.

Aku sendiri tidak ikut berseru. Buat apa pula menyuarakan kebohongan? Lebih baik diam. Pihak sekolah memang selalu buta soal apa yang terjadi pada murid-muridnya. Siapa pula yang mau angkat bicara soal Adrian? Manusia itu egois. Selama tidak ada keuntungan, mereka tidak akan melakukan apa pun.

Ah, sudahlah. Bukan urusanku.

***

Sekolah sudah dibubarkan sedari tadi. Seharusnya aku sudah di rumah, kalau saja tidak terjebak di dalam toilet. Iya, toilet. Gara-gara terlanjur tidak kuat menahan, aku memutuskan untuk menumpang di toilet satpam. Itu jadi penyesalan terbesarku hari ini. Setelah selesai buang air, aku baru tahu kalau kuncinya macet, sedangkan aku sendirian.

Masalahnya, pos satpam letaknya agak terpencil, jauh dari sekolah itu sendiri. Tidak banyak yang lewat di sekitar sana. Ponselku mati dan jadilah aku mendekam di sini selama setengah jam.

Sebenarnya, barusan ada yang datang. Aku memang tidak bisa melihat dari toilet sempit nan tertutup ini. Tapi dari suaranya dan samar-samar meongan kucing, itu pasti Adrian. Siapa lagi yang akan nongkrong di sekitar sini kalau bukan dia? Satpam sekolah saja jarang ada di sini. Aku tidak mengerti kenapa seharian ini anak itu terus menangkap perhatianku. Biasanya, menyadari kehadirannya saja jarang kulakukan.

“Hai, Pus. Maaf ya, basah lagi. Seperti biasanya, dilempar air bekas pel. Hari ini semakin melelahkan.”

O… ke? Adrian benar-benar mengobrol dengan kucing. Mau tak mau, aku jadi ikut mendengarkan.

Katanya, “Lo jadi kucing juga pasti bosen dengerin cerita gue, ya? Sama aja tiap hari. Dipukul, dikatain macem-macem. Gue masih kuat, sih. Tapi nggak tau sampai kapan.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

Sembari mendengarkan, aku terlibat pertengkaran batin. Bukan, bukan hanya soal Adrian dan apa yang dia alami. Aku hanya ingin segera keluar dari toilet ini. Sayangnya, aku juga punya harga diri. Bayangkan saja betapa tidak enaknya minta tolong pada orang yang selama ini tidak pernah kau tolong.

“Katanya kebaikan itu kunci dari semuanya, Pus. Selama gue sabar dan tetep kuat katanya gue bisa lepas dari semua ini. Tapi emangnya cukup, Pus, kalau cuma dari diri gue sendiri? Tanpa ada yang peduli?”

Oke. Lupakan soal egoku. Mari minta tolong.

“Adrian,” ujarku pelan.

Sunyi. Mungkin laki-laki itu terkejut.

“Sebelum lo mikir kucing itu bisa ngomong, ini gue, di toilet.”

“Abigail?” tanya Adrian.

“Bisa tolong bantu gue keluar dari sini? Pintunya macet.”

Kenop pintu diputar dan pintu langsung terbuka begitu saja.

“Nggak macet, emang cuma bisa dibuka dari luar. Jangan pakai toilet ini lagi,” kata Adrian di depan pintu.

Ia menatapku dengan aneh, seakan-akan aku muncul dari langit. Yah, aku bisa mengerti. Dia pasti merasa aneh ‘markas’-nya ini tiba-tiba didatangi orang asing. Aku tersenyum malu, berterima kasih dan segera keluar dari toilet.

Aku balik menatapnya. Seperti yang Meira ceritakan, kondisinya basah kuyup. Melihat itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkannya di benakku.

“Kenapa lo diem aja diginiin?” Pertanyaan itu benar-benar terlontar dari mulutku, bahkan sebelum bisa kusadari.

“Oke, lupakan. Nggak seharusnya gue ikut campur. Maaf.”

Tanpa menunggu reaksinya, aku mengambil langkah menjauh. Dalam hati mengumpat diri sendiri karena terlalu frontal.

Sayangnya, Adrian terlanjur menjawab sebelum aku benar-benar pergi, “Lo sendiri? Kenapa diem aja ngeliat yang kayak gini?”

Aku tertegun. Mendengar pertanyaan itu, aku tidak jadi pergi dan malah kembali menatapnya. Kali ini, di matanya, aku menyadari sorot kesedihan di dalamnya. Seakan-akan ia sedang meminta pertolongan.

“Lo anak paling pinter di sekolah, kan, Bi? Gue tau, lo tau kalau apa yang terjadi di sekolah kita itu salah…”

“Karena… Bukan seharusnya gue ikut campur?” jawabku ragu.

Jujur, baru kali ini seseorang bisa membuatku ragu menjawab sesuatu. Laki-laki itu mengucapkan sesuatu dengan nada yang halus, suara yang lirih, tanpa tanda-tanda kemarahan dalam suaranya, tapi ucapannya menusuk.

Adrian tersenyum miring. “Kalau begitu siapa yang harusnya ikut campur?”

“Jujur, Dri. Ini hari pertama gue liat lo digituin. Itu bukan pembelaan, gue cuma… baru sadar hari ini kalau orang-orang bener-bener nutup mata sama apa yang lo alamin. Sesuatu yang salah jadi terkesan wajar. Bahkan, gue juga,” Aku menelan ludah, “Berusaha tutup mata tadi.”

“Gue juga nggak punya hak untuk minta lo nggak tutup mata, Abigail. Untuk seseorang kayak gue, minta tolong nggak segampang lo yang tinggal minta dikeluarin dari toilet.”

“Karena semua orang juga nggak merasa itu kewajiban.”

Aku mengatakan itu bukan untuk memberikannya alasan. Malah, rasanya, aku lebih menujukan kata-kata itu ke diriku sendiri. Untuk menyadarkanku dari kebutaan yang selama ini menyelimuti.

“Ya, gue pun udah berhenti mengharapkan empati orang lain.”

Lanjutnya, “They all know bullying is wrong. They just don’t care. Lo tau apa isi pikiran mereka? Pasti ‘Ah, nanti juga ada yang bantu. Kenapa harus gue?’. Beberapa juga kayak lo, ‘Ah, harusnya dia yang ngelawan sendiri.’”

Miris. Bahkan, yang jadi korban pun sudah berpikir sampai ke sana. Adrian memahami apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal orang-orang tidak pernah mau mencoba memahami apa yang dirasakannya.

“Maaf, gue juga nggak tau kenapa malah ngomongin ginian ke lo, Abigail.”

“Harusnya itu kalimat gue.”

Adrian mengedikkan bahu. “Lo orang pertama yang nanya soal ini ke gue.”

“Dan gue nggak menyesal melakukan itu. Justru, gue berterima kasih.”

“Untuk?”

Untuk menyadarkanku yang selama ini berdiri di posisi yang salah. Menyadarkan aku yang harusnya bertindak, bukan hanya mengkritisi dalam otak soal betapa menyedihkannya egoisme manusia. Menyadarkan bahwa aku pun egois. Menyadarkan aku yang berusaha nyaman dengan diam. Tapi itu semua tidak aku katakan, biar aku yang menyimpan itu sendiri.

“Terima kasih aja, pokoknya. Lo hebat bisa bertahan sampai sekarang.”

Setelah mengatakan itu, aku meninggalkannya begitu saja. Kali ini benar-benar pergi. Terlalu banyak pemikiran yang berlarian di benakku. Rasanya, percakapan ini sudah cukup panjang.

***

Hari berikutnya, aku kembali menghabiskan waktu istirahat di kelas. Perpustakaan memang dibuka, tapi hari ini tempatku bukan di sana. Tidak juga duduk manis, membaca rumus-rumus sampai habis.

Tempatku di depan Adrian. Di tengah-tengah kesunyian, karena aku baru saja berhenti diam. Karena aku baru saja berjalan ke arah kekacauan, dan memintanya untuk berhenti.

Bukan aku yang harus diam. Kekerasan yang seharusnya diam.

Bukan hanya soal korban yang berani melawan. Ini juga soal saksi yang berani membela.

Dan kau tahu apa yang terjadi?

Hanya butuh satu lilin menyala untuk menyalakan lilin-lilin lainnya. Sejak aku mencoba menghentikan semuanya, perlahan orang-orang mulai berani membuka matanya. Membuka mulut, menyuarakan seruan yang selama ini hanya tertahan di tenggorokan. Hanya butuh satu orang yang berani memulai, untuk perlahan menghilangkan lebam di tubuh Adrian.

Nyatanya, menyuarakan kebenaran jauh lebih membanggakan daripada meraih peringkat tertinggi di sekolah.

***

Jakarta, 4 April 2019

Chelsey Photo Community Writer Chelsey

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You