Comscore Tracker

[CERPEN] Anak Laki-laki yang Menangis

Ia terkejut menyaksikan apa yang dilakukan Sandra

Ada perasaan minder begitu Rosni sampai ke tempat Sandra melangsungkan perayaan ulang tahunnya. Ia merasa menjadi manusia paling kecil di tempat tersebut. Bukan saja karena penampilan para undangan lain yang terlihat jauh lebih berkelas dibanding dirinya, tetapi juga karena ia memiliki keraguan apakah Sandra akan benar-benar menerima kedatangannya dengan baik.

Rosni menghela napas. Sekali lagi diingatnya bahwa alasan utama kedatangannya ke Restoran Leuit bukanlah untuk Sandra, tetapi untuk restoran itu sendiri. Undangan dari Sandra hanya dijadikannya jalan agar ia bisa masuk ke dalamnya.

Keberadaan Restoran Leuit memang sudah menarik perhatian sebagian besar orang yang tinggal di tanah para sultan ini, tak terkecuali Rosni. Kebesaran namanya bukan saja karena restoran tersebut didesain khusus agar ruangannya bisa terangkat hingga mencapai ketinggian 150 kaki, tetapi juga karena koleksi benda-benda bersejarahnya yang langka, yang konon menyimpan banyak cerita misteri. Koleksi yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang mampu menyewa tempat dengan jumlah uang yang tak sedikit.

Bagi Rosni, anak dari keluarga yang hidupnya serba pas-pasan seperti dirinya, memanfaatkan undangan dari teman seperti Sandra adalah jalan lain untuk bisa menikmati koleksi benda-benda bersejarah dan langka tadi. Apa yang diinginkan Rosni langsung didapatkannya begitu ia melewati pintu masuk. Berbagai lukisan yang sebelumnya hanya bisa ia nikmati lewat internet kini terpampang jelas di hadapannya. Rosni berdecak dalam hati.

Ditelisiknya benar-benar tiap lukisan yang berderet memanjang sepanjang pintu masuk hingga ruang utama tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Sandra digelar. Setiap kali menatap satu lukisan, ingatan Rosni langsung terlempar pada sejarah dan berbagai kisah misteri yang dibacanya di buku atau sebuah situs di internet, sampai kemudian matanya berhenti pada sebuah lukisan berjudul Anak Laki-laki yang Menangis. Lukisan anak laki-laki berusia sekitar lima tahunan dengan air mata meleleh di pipi. Wajahnya menyiratkan rasa kehilangan yang teramat. Jemarinya menggenggam kuat-kuat pakaian hangat cokelatnya yang lusuh, seperti menunjukkan ketakutan yang entah karena apa, sementara sorot matanya mengirimkan dendam.

Rosni belum pernah sekali pun melihat lukisan tersebut, baik di internet maupun di buku-buku yang pernah dibacanya. Informasi singkat mengenai lukisan yang tertempel tepat di bawah lukisan menyebutkan, bahwa lukisan tersebut ditemukan pertama kali pada tahun 1895 di rumah keluarga Ron dan Mei, San Francisco – California, yang ditemukan hangus terbakar bersama rumahnya. Anehnya, hanya lukisan itulah yang ditemukan masih utuh.

Rosni tercenung beberapa saat, kemudian terperenyak begitu dirinya menangkap getaran yang diterimanya saat jemarinya menyentuh permukaan lukisan tersebut.

Karena penasaran dengan kisah yang menyertainya, Rosni berusaha memusatkan pikirannya, menyentuh lebih kuat permukaan lukisan dengan gestur yang sebisa mungkin tetap terlihat wajar. Ia berusaha menggali lebih dalam apa yang ingin diketahuinya mengenai lukisan tersebut dengan kekuatan psikometri yang dimilikinya, tetapi ia juga tidak ingin memancing kecurigaan orang-orang di sekitarnya terhadap apa yang dilakukannya.

Rosni merasakan energi lain mulai menyentuhnya. Emosinya nyaris tak bisa ia kontrol. Perasaan kehilangan, terasing, ketakutan, dan dendam menyergapnya bersamaan. Telinganya menangkap jeritan-jeritan yang saling bersilangan. Ia belum sempat menangkapnya dengan lebih jelas ketika didengarnya suara Sandra di dekatnya. Rosni terkesiap.

“Apa yang kau dapatkan anak aneh?” Mata bulat Sandra memaku Rosni di tempatnya.

Rosni menengadah, menatap Sandra dengan kening mengernyit.  

“Jangan pernah lakukan itu lagi kalau kau tak ingin kutukan dari lukisan itu menimpamu! Apa kau sadar, apa yang kau lakukan barusan bisa saja mencelakai orang-orang yang ada di sini?!” semprot Sandra, jengkel, kemudian melenggang begitu saja meninggalkan Rosni dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya.

Pintu Restoran Leuit tertutup. Ruangan pun mulai naik. Setelah mencapai ketinggian 150 kaki, barulah Sandra memulai pesta ulang tahunnya.

Meski merasa canggung, Rosni berhasil membuat dirinya bisa menikmati pesta tersebut. Ia menyapa beberapa teman sekelasnya sambil sesekali terlihat memisahkan diri, memilih menikmati pemandangan kota yang dilihatnya dari ketinggian, juga melunaskan keingintahuannya terhadap berbagai benda bersejarah dan langka yang berada di sekelilingnya.

Tak lama, terdengar gesekan dua benda yang saling beradu, entah dari mana. Disusul dengan keadaan ruangan yang mendadak gelap karena hampir semua lampu tiba-tiba saja padam. Sontak seluruh tamu undangan menjerit, kecuali Rosni dan Sandra yang justru lekas mengawaskan mata dan telinga di tempatnya masing-masing. Sesaat kemudian ruangan yang sudah berada di ketinggian 150 kaki itu pun oleng. Suara gaduh pecahan kaca yang berasal dari bingkai ratusan lukisan yang terpajang di ruangan tersebut membuat para tamu undangan semakin kalang kabut.

Beberapa petugas keamanan mulai sibuk menyelamatkan orang-orang yang telanjur tak bisa bergerak karena tertimpa barang-barang di sekitarnya yang jungkir balik tak karuan. Satu di antaranya sibuk menghubungi petugas keamanan di kantor pusatnya, memberi komando agar restoran tersebut segera diturunkan kembali, tetapi rupanya ia kesulitan melakukannya. Tampaknya sambungan telekomunikasi pun terputus.

“Ini semua gara-gara ulahmu!” Rosni yang sejak tadi masih mematung di tempatnya tersentak mendengar suara Sandra yang orangnya entah berada di mana, tetapi suaranya begitu dekat. Rosni celingukan. Lalu ia dikejutkan oleh suara ledakan dari arah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tepatnya dari ruangan yang digunakan para chef restoran untuk menyiapkan makanan.

Kemudian ia menyaksikan bagaimana percikan api dari ledakan tadi membesar dan mulai melalap seluruh isi ruangan Restoran Leuit perlahan-lahan. Beberapa petugas keamanan beralih meraih APAR (Alat Pemadam Api Ringan), berusaha memadamkan api, tetapi semua itu tak banyak membantu. Api tetap saja menyala.

Rosni panik. Api semakin membesar. Rosni ketakutan. Di saat genting begitu, kekuatan psikometrinya sama sekali tak berguna. Bahkan untuk memusatkan pikirannya saja ia kesulitan. Anehnya, suara Sandra, temannya yang selama ini dianggapnya tak pernah menerima keberadaannya itu, justru terus memenuhi kepalanya. Benaknya terus bertanya di mana keberadaan Sandra. Suaranya begitu dekat, tetapi orangnya tak ia temukan. Suara Sandra melemah. Rosni tahu ia tengah kesulitan.

Rosni mulai meraba-raba. Melangkah hati-hati. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang bisa dijangkaunya untuk mencari keberadaan Sandra dalam kegelapan.

Rosni baru saja hendak berteriak memanggil nama Sandra ketika matanya menangkap sosok yang dicarinya tak jauh dari tempatnya berada. Tepat di sisi pintu dapur bersih restoran. Di sekitarnya, pecahan kaca dan berbagai barang yang kini sudah hancur dan setengah hangus berserakan.

Rosni meruncingkan penglihatannya ke arah Sandra. Ia terkejut menyaksikan apa yang dilakukan Sandra. Ia nyaris tak percaya. Sandra berusaha memadamkan api yang terus membesar itu dari tempatnya berdiri dengan kekuatan pikirannya, dan berhasil.

Rosni benar-benar terperangah. Ia tahu, hanya orang-orang yang memiliki kemampuan telekinetik luar biasalah yang mampu memadamkan api sebesar itu dari jarak jauh. Setelahnya, Rosni gegas menghampiri Sandra yang mulai terhuyung. Tubuhnya nyaris jatuh ke lantai kalau saja ia tak berpegangan pada dinding di dekatnya.

“Kau baik-baik saja?” Rosni berusaha membantu Sandra untuk berdiri.

“Kau melihat semuanya?” Sandra menyambut pertolongan Rosni dengan tatapan sengit. Ia menghardik lengan Rosni, menolak pertolongannya.

Rosni tersentak. Ia diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengatakan, “Tadi itu luar biasa!” sambil menyengir, memamerkan deretan giginya yang berderet rapi.

Sandra terkekeh. Matanya memicing, menganggap bodoh apa yang dikatakan Rosni barusan. “Luar biasa katamu? Aku justru muak dengan kemampuan yang aku miliki ini.”

“Tapi, kenapa?” Rosni kecewa. “Mestinya kau senang dianugerahi kemampuan istimewa. Tidak semua orang bisa memiliki kemampuan telekinetik yang begitu besar seperti yang kau miliki.”

“Karena kemampuan inilah yang membuatku merasa berbeda dengan yang lain.” Balas Sandra, ketus sekaligus tak acuh. “Kau Tahu, kemampuan psikometrimu telah membangkitkan kutukan dari lukisan anak laki-laki itu. Jadi, secara tidak langsung kaulah yang menyebabkan semua kekacauan ini. Kau sudah merusak pesta ulang tahunku! Semestinya aku tak perlu mengundangmu!”

Rosni tercekat. “Bagaimana kau tahu kalau aku memiliki kemampuan—”

“Ingat saat kau diminta menjelaskan tentang sejarah sebuah patung yang ditunjukkan Pak Jun, guru sejarah kita?”

Rosni melempar ingatannya pada awal kepindahannya ke sekolah Sandra. Saat itu, dari 28 siswa yang ada di kelasnya, hanya Sandralah yang tak memuji kemampuannya menjelaskan secara detil sejarah di balik patung yang ditunjukkan Pak Jun. Sejak itu pulalah Rosni merasa Sandra tak menyukai keberadaannya.

“Saat itu kau mampu menjelaskan dengan begitu detil tentang sejarah patung itu. Tapi, hal itu hanya bisa kau lakukan setelah kau diizinkan memegang patung yang ditunjukkan Pak Jun. Sebelumnya kau malah tampak gelagapan ‘kan?”

Rosni bungkam. Ia tak mampu menampik.

“Orang lain mungkin tak akan menyadari hal-hal sekecil itu, tapi aku? Aku bahkan sudah membaca itu dari caramu menyentuh patung itu.” Sandra tersenyum kecut. 

Keadaan dalam Restoran Leuit mulai terkendali. Para petugas keamanan memberi pertolongan pertama pada tamu undangan yang terluka. Telekomunikasi pun mulai lancar, hingga akhirnya restoran tersebut mulai diturunkan kembali meski sempat beberapa kali gagal.

“Soal kutukan itu, aku bisa membaca kisah di balik lukisan anak laki-laki itu, tapi aku tidak menangkap adanya kutukan di sana. Jadi, aku rasa, pendapatmu yang mengatakan kalau akulah yang menjadi penyebab semua kekacauan ini tidak bisa kuterima.”

Sandra tergelak. “Itulah yang membuat aku tidak suka padamu! Kebodohanmu. Keangkuhanmu. Kau terlalu memuja kemampuan psikometrimu, padahal kemampuan itu belum sempurna kau kuasai. Kau memanfaatkan kemampuanmu hanya untuk kepentingan dirimu sendiri!”

Rosni meradang, tetapi ia coba menahan diri.

“Oke, kalau soal padamnya lampu, olengnya tempat ini, ledakan di dapur bersih dan kebakaran ini, mungkin saja itu karena kesalahan yang dilakukan operator atau kerja mesin yang mengoperasikan tempat ini. Tapi, apa mungkin kedua hal tadi bisa menghancurkan kaca bingkai lukisan-lukisan yang ada di sini begitu saja? Kau lihat itu!” Sandra menunjuk ke arah lukisan anak laki-laki yang terlihat masih utuh di tempatnya, sementara lukisan yang lain hancur terbakar. “Hanya lukisan itu yang tetap utuh!”

Restoran Leuit mendarat dengan sempurna. Pintu restoran kembali terbuka. Belasan petugas keamanan berhambur dari luar untuk membawa para tamu undangan yang terluka ke mobil ambulans.

Rosni tercenung mendapati apa yang ditunjukkan Sandra tadi benar. Lukisan anak laki-laki itu masih bertengger utuh di tempatnya. Sama sekali tak terlihat seperti habis kena bencana kebakaran. Ia merenungkan apa yang dikatakan Sandra tentangnya barusan, sementara Sandra sudah melenggang meninggalkannya sembari menyisiri rambut panjangnya yang berantakan akibat insiden kebakaran tadi dengan kelima jarinya begitu smartphone-nya berdering.

Kedua orang tuanya yang terpaksa tak bisa menghadiri acara ulang tahunnya hari ini menelpon dengan nada cemas, memastikan kalau anak semata wayangnya itu baik-baik saja setelah menonton siaran langsung yang menyiarkan insiden yang terjadi di Restoran Leuit sesaat tadi.***

Baca Juga: [CERPEN] Percakapan dari Balik Pagar Pembatas 

El Rui Photo Verified Writer El Rui

Penghuni Pluto. Gemar menulis hal-hal remeh dan berpikir aneh-aneh. Tulisan lainnya bisa dibaca di https://medium.com/@aielrui3111 atau https://pengunipluto.wordpress.com/.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya