Comscore Tracker

[CERPEN] Kesalahan Seorang Penulis

Ia menolak menggunakan nama siapa saja

Pungkas Satiri. Nama itu didapatnya setelah berpikir bermalam-malam.

Sebenarnya si penulis bisa memberi nama tokohnya dengan nama siapa saja, tetapi tidak untuk ceritanya kali ini. Ia menolak menggunakan nama siapa saja. Ia ingin sebuah nama yang kuat, seperti “Sukab”-nya Seno Gumira Adjidarma. Maka nama Pungkas Satiri dipilihnya untuk membuka paragraf pertama ceritanya sebelum akhirnya beralih ke kalimat berikutnya.

Setelah mengetik beberapa paragraf awal, jemari si penulis berhenti. Ia teringat satu paragraf yang tiba-tiba muncul di kepalanya berhari-hari lalu. Satu paragraf yang lekas diketiknya di kotak status akun Facebook-nya dan langsung dipostingnya.

Satu paragraf yang menjadi cikal bakal lahirnya cerita yang hendak ia tuliskan kali ini setelah berhari-hari merancang dan membongkar pasang outline utuhnya di kepala, yang juga sebenarnya tak selesai-selesai. Kini si penulis merasa membutuhkan kutipan satu paragraf yang diposting di akunnya itu. Maka ia mengaktifkan modemnya, membuka browser, lalu segera meluncur ke Facebook.

Begitu akunnya terbuka, sebuah foto besar  terpampang di berandanya: foto selfie mantannya. Dia tertarik memandanginya. Sebentar, ia membatin. Dia makin cantik, pikirnya.

Sebentar itu pun menjadi bermenit-menit. Sampai sebuah komen yang baru saja muncul dibacanya, membuat hatinya meradang dan membakarnya. Komen dari pacar baru mantannya. Si penulis mendengus, dan syukurlah, komentar tersebut justru menyelamatkannya. Ia jadi teringat kembali tujuannya membuka Facebook. Maka ditariknya tetikus di sisi monitornya, meluncur menuju timeline-nya.

Si penulis mencari satu paragraf yang dibutuhkannya. Paragraf itu dipostingnya berhari-hari lalu. Tentu sudah tenggelam, tertumpuk oleh status-statusnya yang lain. Si penulis menggalinya. Terus menggali, dan paragraf yang dicarinya pun berhasil ditemukan. Si penulis menyalinnya ke halaman berisi cerita yang tengah ditulisnya.

Suara “blup” yang aneh, mirip sesuatu tenggelam ke dasar air, kembali menghentikan jemarinya. Membiarkannya menggantung beberapa saat di atas papan tuts, kemudian lekas beralih meraih tetikusnya, dan membuka layar yang sejak tadi sudah dibukanya. Sebuah pesan di inbox.

Si penulis membukanya. Dari penulis lain, temannya, mengucapkan selamat atas dimuatnya cerita anak yang sebulan lalu dikirimkannya ke sebuah majalah anak nasional. Cerita anak yang baru berhasil diselesaikannya setelah bertahun-tahun mendekam di folder dan ditolak belasan kali oleh media lain.

Si penulis hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih yang singkat, tetapi rupanya si pemilik akun yang mengiriminya pesan selamat tadi memiliki tujuan lain. Ia meminta  bocoran tip bagaimana caranya agar tulisannya juga bisa dimuat di media seperti si penulis.

Si penulis membalasnya dengan detail, berharap penjelasannya bisa memuaskan si pengirim pesan dan menyudahi percakapan tersebut. Yang terjadi malah sebaliknya. Penjelasan si penulis malah melahirkan pertanyaan-pertanyaan lain dari si pengirim pesan.

Pertanyaan-pertanyaan yang tak cukup dijawab dengan jawaban singkat. Menjengkelkan, ia membatin. Kemudian si penulis memilih mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tadi dan kembali melanjutkan ceritanya.

Setelah tercenung sesaat, demi mengembalikan fokusnya, ia lanjut menulis.

Baru mengetik beberapa paragraf ia merasa buntu. Ia penat. Lalu membuka akun Facebook yang sempat membuatnya jengkel tadi. Refresh otak dulu, pikirnya. Niatnya berwisata di  berandanya, tetapi yang ditemukannya malah mengubah kejengkelan dan kepenatannya menjadi kemangkelan ketika dibacanya sebuah judul berita yang ditulis besar-besar dalam sebuah website yang dibagikan salah seorang temannya.

Si penulis yang tidak setuju dengan judul berita tersebut geram, padahal ia belum membuka dan membaca isi lengkap berita tersebut. Tambah geram begitu dibacanya satu per satu ratusan komen yang sudah muncul di postingan tadi. Ada yang pro, ada yang kontra, tetapi lebih banyak yang pro.

Kemudian  si penulis terpancing untuk ikut ambil bagian. Kemudian muncul komentar-komentar lain di bawahnya, entah yang menanggapi komentarnya maupun yang sekadar turut melampiaskan unek-uneknya karena kesal dengan judul beritanya.

Namun, membacai komentar-komentar di bawahnya, si penulis merasa tersudut. Ia tambah kesal dan membalasi komentar-komentar tadi. Satu komentar ditanggapi lagi dengan komentar lain. Begitu seterusnya, hingga si penulis tak lagi bisa menahan emosinya.

Tak cukup berkomentar, ia membuat status yang isinya masih juga menanggapi perang komentar tadi dan menunggu. Si penulis menunggu respon atas statusnya. Semenit, dua menit, hingga sepuluh menit berlalu, tak ada yang mengomentari statusnya. Hanya ada beberapa yang memberinya jempol.

Si penulis kembali menunggu sembari memantau komentar-komentar terbaru dari postingan berita tadi dan membuatnya tambah berang, tetapi kali ini ia berhasil menahan hasratnya untuk membalasi komentar. Namun, rupanya ia merasa belum puas. Setelah ditunggunya beberapa menit tak juga ada yang mengomentari statusnya, ia jengah dan kembali mencoba mencari kesibukan lain dan ia teringat kembali pada cerita yang tengah ditulisnya.

Ia kembali menutup layar yang memperlihatkan akunnya dan beralih  ke layar MS Word. Ia gulung layar kerjanya ke atas. Ia sudah kehilangan fokus pada ceritanya, maka ia berniat membaca ulang ceritanya dari paragraf awal. Setengah hati ia berusaha mengembalikan fokusnya pada ceritanya dan baru bisa melanjutkannya setelah kurang lebih lima belas menit berpikir.

Sampai bunyi “blup” itu terdengar lagi dan si penulis lekas membuka kembali laman Facebook-nya. Satu orang memberi komentar di status yang tadi sempat ditulisnya, dan entah karena alasan apa, ia merasa girang. Namun, perasaan girang tadi memudar begitu membaca isi komentar di statusnya itu. Perang komentar kembali terjadi. Kali ini lebih brutal. Si penulis kembali lupa dengan cerita  yang seharusnya diselesaikannya.

Bettt!

Lampu padam. Layar komputer menggelap. Si penulis mendesis kesal, dan segera sadar bahwa cerita yang sempat ditulisnya tadi belum ia simpan, kemudian kelabakan. Si  penulis mengumpat. Ia salahkan listrik yang tiba-tiba mati. Ia salahkan PLN. Ia salahkan pemerintah. Ia salahkan waktu. Ia salahkan para komentator di Facebook yang komentar-komentarnya masih terus mengganggunya hingga sekarang. Ia salahkan mantannya. Ia salahkan pacar baru mantannya. Namun, ia lupa menyalahkan dirinya sendiri.***

Baca Juga: [CERPEN] Sepenggal Cerita di Ujung Senja

El Rui Photo Verified Writer El Rui

Penghuni Pluto. Gemar menulis hal-hal remeh dan berpikir aneh-aneh.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You