Comscore Tracker

[CERPEN] Basa-basi Paling Basi

Kenapa harus membina keluarga saat kau sudah punya satu? 

Aku sedang berada di ruangan pribadi yang sesak oleh deretan rak berisi gaun pengantin yang nantinya akan Lisa, kakak perempuanku, coba untuk kemudian dia sewa dan dia pakai di hari pernikahannya nanti. Itu masih lima minggu lagi ngomong-ngomong. Dan satu-satunya alasan kenapa aku bersedia menemaninya dalam sesi "mengepas gaun pengantin" adalah aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan di hari liburku. Menyebalkan. 

"Jadi, apakah Reza bersikap baik padamu kemarin?"

Mendengar nama itu disebut oleh orang yang nantinya akan menjadi istrinya dengan nada paling masa bodoh yang pernah aku dengar membuatku sedikit tersentak. Maksudku, bagaimana bisa dia menanyakan pertanyaan semacam itu dengan sangat tenang dan sepenuhnya masa bodoh sementara dia tahu kalau pertemuan pertamaku dengan calon suaminya hari Minggu kemarin itu sangatlah buruk?

Aku hanya bisa memandang ke depan dengan tatapan kosong dan mengangkat bahu.

Lis yang berdiri di atas balok kayu di tengah-tengah ruangan sempit berdindingkan cermin ini menoleh ke arahku. Dari raut wajahnya yang dingin, aku bisa tahu kalau dia tidak merasa terganggu sama sekali dengan si penjahit berkepala botak dan pasukan kecilnya yang sibuk mengepas di sana-sini tanpa berhenti memuji betapa cantik dirinya dalam balutan gaun itu. Tapi dia sangat amat terganggu dengan aku yang menjawab pertanyaannya seperti seorang bocah cengeng.

"Tidak," kataku, pada akhirnya. "Aku mengatakan apa yang aku ingin katakan, dia tidak setuju, kami berdebat, dan berakhir saat dia mematahkan pulpenku. Tapi percaya padaku, Lis, itu tidak seburuk yang kau dengar."

"Ya, mungkin itu tidak seburuk yang aku dengar," jawabnya dengan cepat.

Jemarinya yang lentik menyentuh tulang selangkanya yang tertutup oleh renda Belgia. Paling tidak begitu yang si penjahit katakan saat dia menunjukan gaun putih itu pada kami. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia berdiri di atas sana selama hampir satu jam tanpa protes sama sekali, tapi yang aku tahu gaun itu adalah gaun yang sempurna untuk hari istimewanya. Hanya gaun putih panjang biasa dengan renda yang menutupi tulang selangka dan pergelangan tangannya. Tapi entahlah, dia terlihat sangat cantik dan aku benci harus mengakui hal itu.

"Ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan?" tanya Lis, mata cokelatnya membesar karena penasaran. "Kau tahu, sebelum kalian berubah menjadi kaum barbar."

Aku memainkan salah satu cadar yang tersampir di lengan sofa yang aku duduki. Rasanya aneh sekali dia ingin mengetahui setiap hal yang terjadi di pertemuan kemarin. Jika aku mengutarakan semuanya, termasuk bagian dimana aku dan dia berjalan di jalanan yang lengang dengan bertelanjang kaki kemudian berdansa di bawah sorot lampu jalan di iringi lagunya Superfruit yang judulnya Sexy Ladies dari ponselku, aku rasa dia akan merasa puas. Hanya saja, sedetik kemudian aku akan mendapati kakakku sendiri tengah mencoba membunuhku karena sudah berani menggoda tunangannya padahal semua itu terjadi begitu saja.

"Aku rubah saja pertanyaanku," ucapnya frustasi. "Bagaimana reaksinya saat kau mulai bicara soal--"

"--Kenapa harus membuat keluarga baru saat kau sendiri sudah punya satu?" potongku tanpa berpikir panjang.

Lis memilih menatap bayangannya sendiri di cermin.

Aku menyender ke belakang, membuat kepalaku menempel ke dinding berlapis cermin yang dingin. Baiklah. Sepertinya ada sesuatu yang ingin Lis tanyakan pada calon suaminya. Tapi karena satu dan dua hal, dia tidak berani menanyakannya langsung dan menjadikan aku sebagai kambing hitamnya di sini. Kemudian, aku yang tidak tahu apa-apa malah mengacau dengan mengajak calon suaminya sedikit bersenang-senang dengan melakukan hal konyol dan sedikit... romantis. Pantas saja aku terus memutar kejadian malam itu dalam ingatanku. Sialan.

"Itu... kau yakin ingin mendengarnya?" kataku sedikit gelagapan.

Dia mengedikkan bahunya. "Tentu."

"Awalnya dia tidak mengatakan apa-apa karena dia tidak mengerti pertanyaanku," ucapku. "Tapi setelah aku menjelaskannya, kau tahu, soal kenapa harus repot-repot membangun keluarga saat kau sendiri sudah menjadi bagian dari sebuah keluarga, dia mengerti. Dia bilang kalau dia yakin kalau kau adalah salah satu sumber kebahagiaan dalam hidupnya. Dan... oh! Dia juga bilang kalau dia ingin kau menjadi hal pertama yang dia lihat saat bangun dan hal terakhir yang dia lihat sebelum tidur. Aku tahu, sangat murahan. Tapi dia sangat gigih. Kau tahu, karena itulah pulpen mahalku patah."

"Yang benar saja," gerutu Lis dengan suara bergetar dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

"Dia menyontek dari film favoritmu sepanjang masa," tambahku dengan cepat.

"Lis, sayangku, gaun selanjutnya."

Sesaat sebelum Lis masuk ke ruang ganti, dia menoleh ke arahku. Dia menuding sebuah kotak hitam yang panjang dan tipis yang mengintip dari tas tangannya. "Reza menitipkan itu padaku. Dia sangat kesal padamu karena sudah meragukan keseriusannya dengan ribuan pertanyaan yang dapat menggoyahkan pendiriannya, tapi dia menyesal sudah mematahkan pulpenmu."

Jadi, dia tidak memberitahu Lis soal... 

"Dia baik sekali," sahutku.

"Aku tahu."

Sementara Lis perlahan menghilang dari pandanganku, tanganku meraih kotak tersebut dari tas tangan miliknya. Aku menghela napas sedikit dan membuka tutup kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah bulu yang sangat cantik dan sebuah botol kecil berwarna biru berisi tinta dengan ukiran sederhana namun rumit di bagian tutupnya. 

Aku tidak bisa untuk tidak merasa bodoh saat melihat bulu unggas secantik dan sehalus itu. Ini seperti basa-basi paling basi. Hanya saja dalam wujud sogokan berupa benda yang paling aku inginkan di seluruh dunia. 

Dan kenapa juga aku harus misuh-misuh seperti ini? Dia kan tunangan kakak perempuanku. Ditambah fakta kalau yang terjadi di malam itu murni hanya untuk bersenang-senang agar dia tidak terlalu tegang menghadapi segala macam persiapan pernikahan dan aku adalah adik dari calon istrinya yang harus dia sogok agar merestui hubungan mereka. Sudah seharusnya aku tidak begini.

Aku nyaris saja menutup kotak itu dengan marah saat secuil kertas mengintip dari balik beludu yang melapisi bagian dalam kotak. Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan botol tinta dan bulu unggas tersebut sebelum menarik kain beludu itu dengan perlahan. Di sana, di bagian dasar kotak, terdapat secarik kertas. 

Aku tahu ini gila, 

tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.

-RH

Oh. Sialan.

Baca Juga: [CERPEN] Jatuh dan Patah Padamu

Febby Arshani Photo Community Writer Febby Arshani

Akwoakwoakwoak

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You