Comscore Tracker

[CERPEN] Catatan Singkat

Kau aman sekarang

Aku menemukan buku ini di atas meja lampu, di samping nampan plastik berisi croissant hangat dan irisan apel yang diberi perasan lemon. Di atas sampul buku ini terdapat catatan kecil yang ditulis dengan tinta hitam yang belum terlalu kering. Kau aman sekarang, begitu isi catatannya.

Mungkin seseorang sengaja meninggalkannya. Mungkin seseorang ingin aku menuliskan kegusaranku selama terkurung di dalam kamar nyaman tanpa jendela, tanpa kalender, dan tanpa jam. Mungkin. Sekali lagi, itu hanya kemungkinan.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini. Aku tidak tahu kapan atau siapa yang memasangkan penyangga di hidungku yang membengkak dan akan mengeluarkan darah jika aku menyentuhnya terlalu keras. Aku tidak tahu siapa yang membawaku ke sini. Aku tidak tahu piyama siapa yang sedang aku pakai ini. Aku tidak tahu siapa yang memakaikan piyama merah muda sialan ini ke tubuhku. Aku benar-benar tidak tahu.

Yang aku tahu, aku sedang membersihkan koleksi novelku yang akan aku jual ketika seseorang menjambak rambutku dengan kasar dari belakang dan membenturkan kepalaku ke tembok kuat-kuat. Tangan itu juga menekankan kain kasar ke hidung dan mulutku. Membuatku harus mencium bau pahit seperti buah busuk. Aku mencoba menyingkirkan kain dan  tangan itu dariku. Aku mencengkeram pergelangan tangan itu kuat-kuat dan kakiku menendang ke segala arah. Tapi tangan itu sangat kuat. Bau pahit itu membuatku tercekik, membuat semuanya terlihat buram, semakin buram. Dan semuanya menjadi hitam.

Hanya itu yang aku tahu.

Beberapa puluh menit yang lalu—kurasa—ketika aku terbangun oleh bunyi bip yang nyaring dan berulang kali, aku turun dari tempat tidur dengan rusuh, tersandung selimut, menabrak meja dan sofa, berteriak, menggedor-gedor pintu dengan keras, dan menjerit sekeras-kerasnya sampai tenggorokanku sakit.

Aku sadar yang aku lakukan itu benar-benar tidak berguna. Tapi, entahlah. Aku hanya merasa kalau aku harus melakukan itu.

Semua yang aku lakukan itu membuat kepalaku sangat sakit dan berdenyut dengan keras. Saat tanganku meraba kepalaku, aku merasakan permukaan kain kasa yang basah di keningku. Hampir di saat yang bersamaan, aku baru sadar kalau aku memakai piyama. Merah muda, lembut, dan agak kebesaran. Itu berarti orang itu menelanjangiku.

Apa yang dilakukan bajingan itu padaku selama aku pingsan? Apa orang itu memerkosaku? Apa orang itu memotoku dalam keadaan telanjang? Apa yang di inginkan bajingan itu dariku? Apa!

Aku cukup lama duduk di lantai berlapis karpet warna pastel dan memegangi kenop pintu. Percuma saja. Orang ini memakai kunci seperti yang aku lihat di gedung-gedung perkantoran, yang bisa dibuka oleh kartu khusus.

Lalu kenapa orang ini masih memasang kenop pintu sialan ini? Apa mungkin sebelumnya bajingan itu memakai kunci biasa sebelumnya?

Ini membuatku merasa sangat sedih dan ingin menangis dengan keras. Tapi aku tidak bisa.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

Meskipun begitu, aku berhasil menyingkirkan perasaan itu dan memeriksa kamar ini. Kamar ini cukup luas, dilengkapi dengan dapur kecil yang nyaman. Ada banyak majalah di atas meja yang aku tabrak tadi. Di atas sana ada Vogue, Cosmopolitan, Glamour, dan Forbes. Di sebelahku terdapat rak buku berisi buku-buku dari penulis terkenal dan televisi layar datar yang dilekatkan dengan kuat ke dinding sementara di bawahnya ada DVD player di atas meja kecil yang sepertinya menyatu dengan lantai.

Aku juga menyusuri dapurnya. Dua rak di atas tempat cuci piring dipakai untuk menyimpan berkotak-kotak sereal dan biskuit. Tidak ada piring, tidak ada sendok, tidak ada pisau. Laci-lacinya pun berisi tisu toilet, serbet, pembalut wanita, dan handuk muka. Kompor pun hanya dijadikan pajangan. Kulkasnya dipenuhi oleh berkotak-kotak susu, jus, buah, dan air mineral. Aku melihat rantai membelit kursi makan ke kaki meja yang tebal dan kokoh. Itu membuatku ketakutan.

Tirai mandi pancuran bermotif bunga itu menyembunyikan toilet dan pancuran. Rak kecil di atas toilet dibiarkan kosong. Tidak ada cermin di sini.

Tidak jauh dari kamar mandi, ada lemari pakaian besar. Ada banyak gaun dan baju hangat yang tergantung rapi sementara sepatu disusun rapi di bagian bawah lemari, semuanya hak tinggi. Sementara kaus dan pakaian dalam keluaran Victoria Secret tersusun rapi di sebelahnya. Sangat jelas kalau isi lemari ini bukan untukku.

Mungkin orang ini sudah memikirkan segala sesuatunya dengan matang. Ini membuatku sedikit ketakutan.

Tempat tidur yang sedang aku duduki sekarang ini sangatlah nyaman. King size, kurasa. Lengkap dengan sprei dan selimut paling halus dan paling hangat. Aku pernah melihat yang seperti ini di kamar hotel, president suite.

Sialan. Apa keluargaku merasa khawatir karena aku menghilang dari rumah? Apa orangtuaku panik? Apa orangtuaku menelepon polisi? Apa mereka mulai mencariku?

Sepertinya mereka sedang berpesta untuk merayakan aku yang menghilang bak ditelan bumi. Maksudku, tidak ada lagi si pengangguran yang hanya mengandalkan penghasilannya yang tidak seberapa dari menulis artikel di situs berita online terbesar di negara tercinta ini untuk membantu memenuhi kebutuhan keluargaku yang sedang mengalami krisis ekonomi setelah kebangkrutan yang harus dialami oleh bisnis ibuku. Jadi, mereka bersyukur atas berkurangnya satu mulut untuk diberi makan dan kamar tidurku yang siap disewakan pada siapa saja yang mau dengan harga selangit.

Sialan! Ini membuat kepalaku semakin sakit.

Harusnya aku tidak berpikir seperti itu. Tapi tidak ada salahnya aku berpikiran seperti itu. Paling tidak, aku harus berpikiran positif, walaupun rasanya mustahil, dan menjernihkan isi kepalaku.

Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang ini. Apa aku akan terus duduk di tempat tidur nyaman ini sepanjang hari? Atau aku akan memakan “sarapanku” dan mencoba menyesuaikan diri? Aku tidak tahu.

Baca Juga: [CERPEN] Percakapan Batin

Febby Arshani Photo Community Writer Febby Arshani

Akwoakwoakwoak

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You